Pranala.co, BONTANG – Di tengah kawasan industri PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), jejak sejarah bertemu dengan arah masa depan ketahanan pangan Indonesia. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, meresmikan revamping Pabrik Amonia 2, Kamis (29/1/2026), sebuah fasilitas yang telah menopang sektor pertanian nasional selama lebih dari empat dekade.
Bagi Titiek, peresmian tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Kunjungannya ke Bontang juga menghadirkan nuansa emosional, mengingat pabrik yang sama pertama kali diresmikan oleh ayahandanya, Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, pada 29 Oktober 1984.
“Pabrik Amonia Kaltim 2 bukan sekadar fasilitas industri. Ia adalah bagian penting dari sejarah ketahanan pangan bangsa,” ujar Titiek dalam sambutannya.
Selama lebih dari 40 tahun, Pabrik Amonia 2 berperan sebagai penopang penyediaan amonia—bahan baku strategis pupuk nasional. Keberadaannya turut menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung penghidupan jutaan petani di berbagai daerah.
Dari fasilitas inilah salah satu fondasi swasembada pangan Indonesia dibangun. Titiek menegaskan bahwa sejak awal Indonesia berpegang pada prinsip kemandirian pangan, sehingga tidak bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.
Menurutnya, industri pupuk ditempatkan sebagai instrumen strategis negara untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif, petani terus berusaha, dan kedaulatan pangan terjaga.
Revamping Pabrik Amonia 2 tidak hanya berarti mengganti teknologi lama. Titiek menilai langkah ini sebagai keputusan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mentransformasi industri pupuk agar lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.
Melalui penerapan teknologi modern, pabrik yang telah diremajakan ini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan gas alam serta menurunkan emisi karbon hingga sekitar 110 ribu ton karbon dioksida (CO₂) ekuivalen per tahun.
“Yang kita rawat bukan hanya mesin dan fasilitas, tetapi juga harapan jutaan petani Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, bagi Komisi IV DPR RI, industri pupuk tidak semata berkaitan dengan bisnis badan usaha milik negara (BUMN). Lebih dari itu, sektor ini menyangkut langsung masa depan petani dan ketahanan pangan nasional.
“Kami mengapresiasi PT Pupuk Kalimantan Timur dan Pupuk Indonesia Holding Company yang mampu menjaga warisan industri bangsa sekaligus memperbaruinya dengan visi masa depan,” ucap Titiek.
Senada dengan itu, Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa revitalisasi industri pupuk merupakan bagian dari kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa ketepatan pasokan pupuk menjadi faktor krusial dalam menjaga produktivitas pertanian.
“Keterlambatan distribusi pupuk bisa berdampak langsung pada penurunan hasil panen dan kerugian besar bagi petani. Karena itu, revitalisasi pabrik pupuk menjadi kunci,” ujarnya.
Amran juga menyebut berbagai kebijakan efisiensi di sektor pupuk telah berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan nasional tanpa menambah beban anggaran negara. Keberhasilan swasembada pangan yang diumumkan pemerintah, lanjutnya, merupakan hasil kerja bersama berbagai elemen bangsa.
Ia berharap peresmian revamping Pabrik Amonia 2 menjadi tonggak baru bagi industri pupuk nasional—menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa depan, sekaligus memastikan “dapur” ketahanan pangan Indonesia tetap menyala bagi generasi mendatang. (FR/ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















