Tari Burung Enggang, Diadaptasi dari Burung Keramat Suku Dayak Kenyah

  • Whatsapp
Tari burung enggang. Sumber: Wikimedia Commons

PRANALA.CO – Pulau Kalimantan tak hanya kaya akan alamnya saja, tetapi juga kebudayaan, seni, dan tradisinya. Membicarakan aspek kesenian, tari tradisional merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan orang-orang di Indonesia yang memiliki latar belakang kesukuan yang berbeda-beda. Tari menjadi sebuah wujud ekspresi dari manusia untuk mengungkapkan perasaan, kehendak, atau pikiran.

Tarian tradisional di Indonesia memiliki kisah dan maknanya tersendiri, baik itu lewat gerakan maupun setelan yang dikenakan. Dari banyaknya tarian tradisional di Tanah Air kita ini, Tari Burung Enggang menjadi salah satu contohnya.

Bacaan Lainnya

Burung Enggang, Si Langka yang Dikeramatkan Suku Dayak

Burung enggang atau rangkong (Bucerotidae) adalah burung yang mendiami sejumlah wilayah Asia. Ada 32 spesies burung enggang di Asia, di mana 13 di antaranya berada di Indonesia.

Karakteristik burung enggang memiliki paruh panjang, besar, dan melengkung. Beberapa spesies burung enggang, salah satunya enggang badak (Buceros rhinoceros) terlihat lebih spesial karena terdapat balung (jengger keras) di atas paruhnya.

Burung enggang badak. Sumber: Wikimedia Commons/David J. Stang

Suara enggang nyaring dan juga kepakan sayapnya khas dengan menampilkan jari-jari bulunya ketika mengangkasa. Warna burung enggang biasanya didominasi warna hitam dengan sedikit warna putih pada bagian ekornya.

Burung enggang hewan yang setia. Selama hidupnya, mereka hanya hidup dengan satu pasangan. Mereka tidak akan mencari yang baru bila pasangannya mati.

Burung enggang berhubungan erat dengan budaya luhur masyarakat Indonesia. Hal itu bisa dibuktikan dengan ditemukannya relief wujud burung tersebut di Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Menyeberang ke Pulau Kalimantan, burung enggang dianggap keramat, lambang kesucian dan kekuatan masyarakat Dayak khususnya Dayak Kenyah. Bagi mereka, burung enggang merupakan burung keramat yang dapat memberikan perlindungan dan kehidupan.

Relief burung enggang di Candi Prambanan. Sumber: Pinterest

Tak hanya itu, mereka percaya, berkomunikasi dengan leluhur bisa melalui enggang sebagai perantara. Selain itu, mereka juga meyakini roh alam yang melindungi Pulau Kalimantan dan masyarakat Dayak sering menampakkan diri dalam wujud enggang raksasa yang dikenal sebagai Panglima Burung.

Filosofi Burung Enggang Suku Dayak Kenyah

Secara filosofi menurut kepercayaan masyarakat Dayak Kenyah, nenek moyang mereka berasal dari langit turun ke bumi yang menyerupai burung enggang. Masyarakat Dayak Kenyah juga menganggap burung enggang sebagai simbol perdamaian. Hal ini dikarenakan burung enggang sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya.

Suara burung enggang yang nyaring menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyat. Jadi secara keseluruhan, burung enggang menyimbolkan watak seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya. Itu pula sebabnya Burung Enggang dimuliakan oleh Suku Dayak terutama Dayak Kenyah karena sebagai suatu penghormatan untuk leluhur mereka.

Dari situ bisa dilihat, burung enggang sangat berarti bagi suku Dayak Kenyah. Demi mempertahankan nilai filosofi yang ada dalam burung tersebut mereka lalu mengekspresikannya lewat Tari Burung Enggang.

Menggambarkan Burung Enggang yang Terbang Lewat Tarian

Tari Burung Enggang biasanya dibawakan oleh wanita-wanita muda Suku Dayak Kenyah. Mengutip dari Ensiklopedi Tari Indonesia yang disusun Dirjen Kebudayaan RI, para penari wanita menarikannya secara beramai-ramai. Semuanya memakai setelan dengan warna dominan hitam laksana warna bulu burung enggang. Di kedua tangan masing-masing penari diikatkan bulu-bulu enggang, sehingga ketika melakukan gerakan tangan tampak menggambarkan burung enggang yang sedang terbang.

“Walau sederhana, gerakan benar-benar membawa imaji kita kepada sekawanan burung enggang yang melayang-layang di angkasa,” terang kritikus tari Sal Murgiyanto dalam Majalah TEMPO edisi 4 Februari 1978 yang dikutip.

Tari Burung Enggang kerap kali ditampilkan dalam setiap upacara adat Suku Dayak Kenyah, antara lain pemujaan pada dewa-dewa, meramaikan acara perkawinan, sampai pengobatan. Selain dalam upacara adat, tarian tersebut juga diperagakan dalam upacara selamat datang penyambutan tamu-tamu penting.

Gerakan Tari Enggang menggunakan gerakan dasar dari Burung Enggang. Konsep gerakan dikelompokkan dalam 3 gerakan utama, yakni Nganjat, Ngasai dan Purak Barik. Nganjat adalah sebuah gerakan utama atau gerakan khas dari tarian dayak yang menyerupai burung enggang gading yang membuka menutup sayapnya. Sementara Ngasai adalah gerakan yang menyerupai burung enggang yang sedang terbang. Kemudian Purak Barik adalah sebuah gerakan dasar yang merupakan gerakan perpindahan tempat.

Jadi seperti itulah informasi mengenai Tari Burung Enggang Suku Dayak Kenyah yang berasal dari Kalimantan Timur. Tarian tradisional seperti Tari Burung Enggang tentunya harus dilestarikan, sebab merupakan warisan yang begitu berharga bagi anak cucu kita kelak.

Referensi: Pontianak.Tribunnews.com| Voinews.id | Rangkong.org | Kalamanthana.id | Dirjen Kebudayaan RI, “Ensiklopedi Tari Indonesia” | Edi Sedyawati, E.K.M Masinambow, Gunawan Tjahyono, “Konsep Tata Ruang Suku Bangsa Dayak Kenyah di Kalimantan Timur” | Farah Azizah, Nahrussalwa, Lisnawati, Rika Aulia Sari, Rina Rifayanti, “Tari Enggang Sebagai Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri” | Istanto, Riza, Syafii, “Ragam Hias Pohon Hayat Prambanan

Pos terkait