Pranala.co, BONTANG – Retakan itu muncul diam-diam. Ia tidak berteriak. Tidak juga menggemparkan. Tapi cukup membuat warga RT 51, Gang Zambrud, Kelurahan Berebas Tengah, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) tidak bisa tidur tenang.
Zainal, pemilik rumah itu, hanya bisa menatap pasrah. Plester dindingnya kini bukan sekadar bergaris. Tapi terbelah. Lurus. Dalam. Seolah ingin memisahkan atap dari lantai.
“Mulanya kecil saja,” kata Zainal, pelan. “Lalu makin lama makin besar.”
Ia tidak tahu pasti sejak kapan tanah di bawah rumahnya mulai bergeser. Yang pasti, ia tak bisa lagi menyangkal bahwa fondasi rumah itu kini sedang melawan gravitasi.
Lurah Berebas Tengah, Abdul Malik Rifa’i, mengaku sudah turun langsung. “Tanah di sini memang lembek. Tidak padat. Daya dukungnya rendah,” ujarnya.
Ia bilang, surat permintaan bantuan segera diketik. Dikirim ke perusahaan. Dan ke BPBD. Serta Dinas Perkim.
Dari penelusuran kelurahan, bangunan Zainal tak sendiri. Ada tiga rumah lain yang ikut terancam. Retaknya belum separah rumah utama. Tapi jika dibiarkan, bisa jadi akan menyusul.
Hari Selasa, 22 Juli 2025, Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, datang sendiri. Ia melihat langsung bagian yang retak. Menyentuh dinding. Mengangguk-angguk.
“Ini bukan soal dibongkar total,” katanya. “Yang penting fondasinya. Harus diperkuat. Cakar ayam cukup.”
Ia lalu menyarankan agar kelurahan segera bersurat ke perusahaan di sekitar. Khususnya Badak LNG. Wilayah operasionalnya dekat dengan lokasi rumah retak.
“Lewat CSR. Minta bantuan cepat,” ucapnya.
Wawali Agus tahu, birokrasi pemerintah tidak akan secepat retakan tanah. Karena itu ia mendorong agar pihak swasta ikut turun. Setidaknya untuk memberi bantuan teknis: mengecek kondisi tanah, merancang ulang pondasi, atau sekadar membelikan semen.
Zainal sendiri bukan orang kaya. Ia termasuk warga berpenghasilan rendah. Maka usulan Wakil Wali Kota itu masuk akal. Corporate Social Responsibility (CSR) bukan untuk menambal lubang jalan semata. Tapi juga menyelamatkan rumah-rumah yang nyaris rubuh.
Satu rumah lain sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Warga khawatir. Jangan sampai semua ini dibiarkan terlalu lama.
Kini warga diminta waspada. Jika ada tanda serupa—lantai retak, tembok miring, fondasi goyah—diminta segera melapor. Ini bukan saatnya menunggu. Apalagi mengeluh dalam diam.
Karena tanah bisa diam-diam memisahkan kita dari atap yang selama ini kita anggap aman.

















