Pranala.co, BALIKPAPAN — Masalah overkapasitas di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Balikpapan kembali menjadi sorotan. Setiap bulan, jumlah tahanan yang masuk lebih banyak dibanding warga binaan yang keluar melalui program integrasi. Kondisi ini membuat upaya pengurangan kepadatan hunian tidak berjalan optimal.
Kepala Rutan Balikpapan, Agus Salim, menjelaskan bahwa pihaknya terus memaksimalkan program pembebasan bersyarat (PB) dan cuti bersyarat (CB). Program ini diberikan kepada warga binaan yang telah menjalani sebagian masa pidananya dan dinilai memiliki perilaku baik selama pembinaan.
“Program ini bukti bahwa proses pembinaan berjalan. Warga binaan yang disiplin, berubah, dan bertanggung jawab memang berhak kembali ke masyarakat,” ujar Agus, Minggu (16/11/2025).
Sepanjang Oktober 2025, Rutan Balikpapan memberikan 11 cuti bersyarat dan 24 pembebasan bersyarat, total 35 warga binaan yang keluar melalui program integrasi.
Namun, angka tersebut masih jauh dari cukup. Pada periode yang sama, jumlah tahanan baru justru mencapai 84 orang.
“Yang keluar hanya sekitar 50-an orang. Tapi yang masuk lebih dari 80. Selisihnya sangat besar,” ujarnya.
Memasuki November, situasinya tak jauh berbeda. Pada periode 1–13 November, terdapat 5 warga binaan yang menerima cuti bersyarat, 11 pembebasan bersyarat, dan 3 bebas murni. Sementara itu, 39 tahanan baru masuk ke dalam rutan pada periode yang sama.
Agus merinci, untuk cuti bersyarat periode November, kasus yang mendominasi antara lain: 1 kasus human trafficking, 2 kasus migas, 2 kasus senjata tajam.
Sementara pembebasan bersyarat didominasi: 5 kasus narkotika. Sisanya kasus pencurian, penganiayaan, penipuan, dan human trafficking.
Dengan perbandingan jumlah masuk dan keluar yang tak seimbang, upaya menekan overkapasitas menjadi sangat sulit.
“Meskipun program integrasi dimaksimalkan, tetap saja tidak sebanding dengan jumlah tahanan yang masuk. Bagaimana kita bisa mengurangi overkapasitas kalau yang masuk justru lebih banyak?” tegas Agus.
Ia menyebut, lonjakan tahanan baru secara langsung menutup dampak positif dari program pembebasan bersyarat dan cuti bersyarat.
“Semaksimal apa pun upaya yang kami lakukan, jika yang masuk mencapai 80 orang dalam sebulan, maka pengaruhnya tetap tidak signifikan,” pungkasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










