Survei: Mi Instan Makanan Segala Usia, Nomor Dua Sedunia

Ilustrasi mi instan. Watchara panyajun / Shutterstock

MI instan telah menjadi makanan alternatif masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Indonesia mengenal mi instan pada akhir dekade 1960-an. Sejak itu, mi instan “merajalela” di Indonesia.

Pada 2019, konsumsi mi instan penduduk Indonesia mencapai 12,6 miliar bungkus setahun. Jika seluruh penduduk dianggap makan mi instan, artinya pada tahun itu, rata-rata konsumsi mi instan Indonesia mencapai 61 bungkus per orang per tahun atau sekitar 4,87 kilogram.

Tingginya konsumsi mi instan ini tergambar dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2020. Hasil olah data Lokadata atas hasil survei itu mendapati bahwa 92 persen atau sekitar 248,7 juta penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi mi instan (satuan bungkus sekitar 80 gr).

Survei yang dilakukan Maret 2020 ini menunjukkan, Kalimantan merupakan wilayah yang 100 persen penduduknya pernah mengkonsumsi mi instan dalam sebulan terakhir (Februari). Maluku yang terendah. Selama periode survei, hanya 66 persen penduduknya yang mengkonsumsi mi instan.

Penduduk Jawa termasuk yang tingkat konsumsi mi instannya sangat tinggi. Dari 152 juta penduduk pulau Jawa, 95 persen di antaranya pernah memakan mi instan. Disusul oleh Sulawesi dan Bali masing-masing 94 persen dan 92 persen.

Mi instan juga tidak mengenal kelas ekonomi sosial. SUSENAS mencatat bahwa persentase Rumah Tangga (RT) menengah atas dengan pengeluaran >Rp5-10 juta per bulan) adalah yang terbesar dalam hal konsumsi mi instan. Sebanyak 95,79 persen atau 16,1 juta RT kelas menengah atas menyantap mi instan.

ndonesia kini menjadi negara dengan konsumsi mi instan kedua terbesar di dunia setelah Cina dengan 41,5 miliar bungkus. Adalah PT Lima Satu Sankyu yang pertama kali membawa mi instan ke Indonesia pada 1968. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi PT Supermi Indonesia).

Kini, mi goreng hingga mi rebus instan mudah kita temui di rak-rak pasar swalayan hingga kios-kios di pinggir jalan. Produsen mi instan terbesar di Indonesia, Indomie Sukses Makmur bahkan punya lengan di pinggir-pinggir jalan, terutama di seputar kampur-kampus melalui Warung Indomie (Warmindo).

Seiring waktu, mi instan juga hadir dalam berbagai rasa khas Nusantara. Mulai dari rendang, sate, sambal matah, soto, sambal rica, cakalang, dan berbagai rasa masakan Indonesia lainnya Produsen mi instan juga berlomba-lomba merebut hati konsumen dengan mi instan berbahan organik, tanpa MSG, rendah kalori, dan rendah sodium.

Kembali ke tahun ‘50-an, ramen–mi berbahan gandum dengan kuah kaldu–yang dihidangkan dalam mangkuk dikenal sebagai makanan kaum pekerja di Jepang. Tatkala perang dunia II membumihanguskan negeri sakura, penduduk yang selamat dari perang membutuhkan makanan cepat saji dalam jumlah banyak.

Segalanya berubah manakala Momofuku Ando sang penemu produk siap santap ini menemukan cara produksi massal. Mi yang telah dikukus dan dibumbui dikeringkan dalam minyak panas, sehingga proses memasak hanya butuh waktu dua menit. Jadilah cikal bakal mi instan. Sejak itu, mi instan mulai menyebar ke seluruh dunia.

 

[ld]

More Stories
Golkar Resmi Dukung Neni-Joni di Pilkada Bontang