Stok di Balikpapan Terbatas, Tingkat Vaksinasi Covid-19 Rendah

  • Whatsapp
Petugas menurunkan kontainer berisi vaksin Covid-19 saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/1/2021). Dhemas Reviyanto / ANTARA FOTO

PRANALA.CO – Stok vaksin di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur menipis, nyaris habis. Pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 tahap kedua terancam tak mencapai target. Program vaksinasi tahap kedua menyasar dua kelompok masyarakat, yakni petugas pelayanan publik, termasuk anggota TNI dan polisi, serta penduduk lanjut usia (lansia).

Hingga saat ini vaksinasi untuk petugas pelayanan publik dan lansia baru 22 ribu orang. Sementara jumlah total target vaksinasi lebih dari 100 ribu orang.

Bacaan Lainnya

“Vaksin habis, jadi hari ini kita libur pemberian vaksin, jadi saat ini kita hanya berikan untuk vaksin dosis kedua saja,” ujar Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi, Ahad (28/3/2021).

Dia sendiri juga mendapatkan vaksinasi termin kedua Jumat lalu. Dia berujar, saat ini tersisa stok vaksin sebanyak 9 ribu dosis. Tapi semuanya akan diberikan untuk para lansia suntikan dosis kedua.

“Vaksinnya sudah habis, jadi untuk suntikan vaksin pertama sudah tidak ada lagi. Sisa vaksin yang ada hanya untuk suntikan kedua bagi lansia yang kita lakukan di puskesmas-puskesmas,” ujarnya.

Jadi sebenarnya, kata Rizal, bukan tingkat pencapaiannya yang rendah melainkan stok vaksinnya yang tidak ada. “Ya, rendah kalau per 100 ribu penduduk,. Tapi kalau vaksinnya tidak ada mau bagaimana. Mudahan cepat datang vaksin Sinovac-nya,” tambah Rizal.

Sementara vaksin AstraZeneca sebanyak 300 vail yang baru tiba diperuntukkan 3 ribu orang, tapi dikhususkan untuk anggota TNI/Polri saja.

Stok yang terbatas

Ihwal ketersediaan stok vaksin di daerah yang menipis, Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi memastikan tidak ada kendala untuk aspek pendistribusian vaksin. Hanya saja, untuk saat ini jumlah vaksin yang tersedia di pusat memang masih terbatas.

Ia mengatakan, total vaksin yang tersedia di pusat saat ini baru mencapai 32 juta dosis vaksin, sementara sasaran vaksinasi untuk tahap kedua mencapai 38 juta orang. Karenanya, diperlukan pengaturan alokasi vaksin oleh pemerintah pusat kepada masing-masing daerah.

Selain itu, pemerintah juga terus mengupayakan mendatangkan vaksin seperti vaksin AstraZeneca yang baru tiba Maret ini sebanyak 4,6 juta dosis. “Kita melakukan prioritas. Misalnya, untuk lansia hanya di Ibu kota provinsi, semua harus dapat. Jadi kita atur proses distribusinya,” kata Nadia.

Keterbatasan vaksin tersebut juga diakui oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Budi meminta agar masyarakat dapat bersabar untuk menunggu giliran vaksinasi Covid-19. Stok vaksin Covid-19 untuk enam bulan pertama memang terbatas. Namun, mulai bulan Juli 2021, ia mengklaim, stok vaksin Covid-19 akan bertambah banyak.

“Karena vaksinnya masih terbatas, tidak semua orang dapat duluan. Kita atur phase-nya, Maret-April 500 ribu sehari, nanti Juni-Juli kita akan naik pelan-pelan ke 800-900 ribu dalam sehari,” katanya dalam akun resmi Instagram Rumah Sakit UI, Kamis (25/3/2021).

Sejauh ini, kata Budi, Indonesia telah mendatangkan sekitar 57,6 juta dosis vaksin, baik dalam bentuk jadi maupun vaksin mentah (bulk). Rinciannya, 3 juta vaksin merupakan vaksin jadi dari Sinovac, kemudian 53,5 juta vaksin bulk dari Sinovac, dan 1,1 juta dosis vaksin dari AstraZeneca.

Budi menambahkan, pemerintah tengah menyiapkan opsi vaksinasi terhadap anak muda, dengan syarat wajib membawa dua warga lansia untuk ikut divaksin. Langkah ini menurutnya perlu dilakukan, agar sasaran vaksinasi 21,5 juta lansia di Indonesia cepat rampung dan selesai di awal.

Sebab, lansia merupakan kelompok yang rentan terpapar covid-19 dan menyumbang angka kematian Covid-19 tertinggi di Indonesia. “Jadi saya nanti akan segera mengeluarkan kebijakan. Satu orang muda relawan boleh disuntik [vaksin Covid-19] asal bawa dua orang lansia,” ujar Budi.

Program vaksinasi nasional telah dimulai sejak 13 Januari lalu, dan ditargetkan akan rampung pada Maret 2022. Untuk mencapai target tersebut pemerintah membagi pelaksanaan vaksinasi kedalam empat tahapan.

Tahap pertama vaksinasi menyasar 1,4 juta tenaga kesehatan, disusul tahap kedua yang menyasar 17,3 juta petugas pelayanan publik dan 21,5 juta lansia. Kemudian akan dilanjutkan vaksinasi tahap ketiga untuk 63,9 juta warga masyarakat rentan yang berada di daerah risiko tinggi penularan, serta 77,4 juta anggota masyarakat lainnya.

Oleh sebab itu, Pandu menyarankan agar definisi penerima vaksin prioritas diperbaiki dan penerima vaksin tahap ini lebih diperketat sesuai dengan peruntukannya.

Ia juga meminta agar pemerintah fokus memvaksinasi warga lansia mengingat jumlah penerima vaksin dua kali dosis dari kelompok ini masih sangat rendah. Padahal, kelompok tersebut memiliki risiko komorbid yang lebih tinggi.

“Perencanaan perlu segera diperbaiki, dan benar-benar difokuskan kepada lansia. Karena vaksinasi mereka masih rendah, padahal risikonya lebih tinggi. Kasihan mereka apabila jatahnya justru diambil oleh orang yang tidak termasuk kriteria,” ujarnya. **

Pos terkait