Pranala.co, BONTANG – Pemerintah pusat telah menetapkan besaran anggaran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp15 ribu per porsi. Tapi, angka ini bukanlah harga mati.
Untuk wilayah terpencil, seperti Kutai Timur, nominalnya bisa lebih tinggi. Hal ini karena adanya perhitungan Indeks Kemahalan Wilayah (IKW).
“Belanja bahan baku di Kutim saja bisa mencapai Rp13 ribu per porsi. Jadi wajar kalau anggarannya disesuaikan,” jelas Surya Dwi Saputra, Kepala Regional Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Bontang, saat peluncuran dapur MBG di Jalan Soekarno-Hatta, Senin (14/7/2025).
Bontang Tak Masuk Indeks Kemahalan
Sementara itu, untuk Kota Bontang, termasuk wilayah Bontang Lestari yang berada cukup jauh dari pusat kota, tetap menggunakan standar Rp15 ribu.
Menurut Surya, bahan pokok di Bontang masih mudah diakses, sehingga tidak ada penyesuaian harga.
Namun, ada satu wilayah yang masih dipertimbangkan, yaitu Desa Tihi-Tihi. Akses menuju desa ini hanya bisa ditempuh lewat jalur laut, sehingga biaya distribusinya lebih tinggi.
“Untuk Tihi-Tihi, kami sedang meninjau kemungkinan membangun dapur penghubung agar distribusi lebih efisien,” ujar Surya.
Target 15 Dapur MBG di Bontang
Guna memenuhi kebutuhan gizi masyarakat di Kota Taman, BGN menargetkan pembangunan 15 dapur mitra di Bontang. Dapur ini akan tersebar di tiga kecamatan: Bontang Barat, Bontang Utara, dan Bontang Selatan.
Penerima manfaatnya mencakup siswa, balita, serta ibu hamil dan menyusui.
“Tahap awal sudah beroperasi dua dapur, yakni di Kelurahan Kanaan dan Kelurahan Guntung,” sebut Surya.
Pihaknya pun membuka kesempatan kepada masyarakat, khususnya pelaku usaha katering, untuk bergabung menjadi mitra dalam program MBG ini.
“Silakan datang atau hubungi kami langsung. Ini peluang bagi pelaku usaha sekaligus bentuk kontribusi nyata untuk pemenuhan gizi masyarakat,” tutupnya.














