Pranala.co, BONTANG – Pelabuhan Lok Tuan tampak sibuk, Sabtu (27/9/2025) pagi. Kapal Pelni dari Parepare baru saja merapat. Ratusan penumpang turun dengan tergesa. Membawa koper, kardus, hingga karung.
Sekilas, semua berjalan normal. Tapi tidak bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang. Dari inspeksi mendadak yang dipimpin langsung Kepala BNN Bontang, Lulyana Ramdani, ditemukan celah besar.
“Penumpang bisa bebas keluar masuk tanpa pemeriksaan. Tidak ada X-ray. Tidak ada razia acak. Hanya potong karcis, lalu jalan begitu saja,” tegasnya.
Lulyana tidak main-main. Ia langsung mengingat kasus besar di Pelabuhan Parepare. Jalur yang juga terhubung ke Bontang. Baru-baru ini, aparat menggagalkan penyelundupan sabu seberat 44 kilogram lewat Samarinda.
“Kalau di Parepare saja bisa masuk barang sebanyak itu, Bontang juga rawan. Jalurnya sama. Ancaman itu nyata,” ucapnya.
Ancaman makin besar jika rute baru Bontang–Surabaya benar-benar dibuka. Arus penumpang akan bertambah. Begitu juga peluang penyelundupan.
“Kalau tidak diantisipasi sejak awal, bisa jadi warga Bontang sendiri yang jadi korban,” tambahnya.
BNN Kota Bontang juga menyoroti hal lain. Tidak ada imbauan bahaya narkoba di dalam kapal. Yang terpampang hanya larangan merokok.
“Padahal edukasi sederhana sangat penting, terutama untuk anak muda. Kami sudah minta pihak pelayaran memasang spanduk pencegahan narkoba. Syukurlah kapten kapal langsung mendukung,” kata Lulyana.
Bagi Lulyana, narkoba bukan sekadar urusan hukum. Lebih dari itu: masa depan generasi.
“Narkoba tidak cuma merusak satu orang. Tapi juga merusak masa depan sebuah kota,” pesannya.
Sidak pagi itu jadi pengingat keras. Bahwa bahaya narkoba tidak selalu datang lewat jalur gelap yang tersembunyi. Kadang, ia justru menyusup lewat pintu resmi. Melalui pelabuhan yang sibuk. Tapi lengah. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami








