Setiap Warga Balikpapan Konsumsi Beras 95 Kg Setahun

  • Whatsapp
Ilustrasi beras.

BALIKPAPAN – Memasuki Ramadan stok kebutuhan pokok di Balikpapan, Kalimantan Timur diklaim aman. Salah satunya stok beras dipastikan masih tersedia hingga tiga bulan ke depan.

“Stok beras aman. selama beribadah puasa masyarakat tidak akan mengalami kendala stok pangan,” kata Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Balikpapan Heria Prisni, Rabu (14/4/2021).

Bacaan Lainnya

Kata dia, rata-rata kebutuhan beras di Balikpapan setiap orang menghabiskan sekira 95 kilogram per tahun. Sementara, untuk distribusi beras masih mengandalkan dari luar daerah.

“Sampai saat ini belum ada kendala distribusi beras dari luar daerah,” tambahnya.

Selain stok tercukupi, harga beras juga relatif stabil. Ini karena ini dipicu harga beras di daerah penghasil cenderung turun. “Malahan, harga di Jawa cenderung turun. Harga menjadi stabil karena panen,” katanya.

Sementara, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, harga yang mengalami kenaikan di pasar yakni komoditas cabai. Tak sedikit warga mengeluhkan harga cabai yang masih tinggi. Bahkan pernah melonjak hingga Rp 140 ribu per kilogram pada beberapa waktu lalu.

Harga cabai yang tinggi ini karena pasokan bahan komoditas yang berkurang dari daerah sentra. Padahal jumlah permintaannya tinggi. Dia mengimbau agar masyarakat dapat mengurangi konsumsi yang bukan bahan utama. Sehingga dapat menjaga kondisi harga.

Masyarakat juga bisa mulai memanfaatkan halaman rumah untuk bertanam komoditas cabai. “Kita minta masyarakat cerdas. Kalau seperti ini mungkin konsumsi hal-hal yang tidak terlalu primer bisa dikurangi dulu,” ucapnya.

Namun ia meyakini, kondisi pangan yang lain di Balikpapan masih aman. Baik dari harga maupun stok yang tersedia. Ditambahkannya, sudah menjadi gejala pasar biasanya jelang Ramadan dan Idulfitri terjadi kenaikan harga pangan. Apalagi pasokan barang di Balikpapan bergantung dengan daerah luar. Seperti Jawa dan Sulawesi.

Lonjakan harga pada beberapa komoditas hampir terjadi setiap tahun menjelang hari besar. Pihaknya berencana mengerahkan TPID untuk memantau harga komoditas di pasar-pasar tradisional. Tujuannya untuk menghindari gejala panic buying.

Sehingga tidak ada permainan harga karena orang menggunakan kesempatan panic buying. Rizal mengatakan, momentum kenaikan harga biasanya saat mendekati Ramadan dan Idulfitri.

“Kita lakukan pemantauan dari TPID. Tim segera bergerak,” pungkasnya. **

Pos terkait