Sertifikat Vaksin Covid-19 jadi Syarat Jualan di Pasar Balikpapan

oleh -
Pelaksanaan vaksinasi massal dosis kedua dengan sasaran ratusan pedagang Pasar Klandasan, Jumat (12/3/2021). TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO

PRANALA.CO – Vaksinasi Covid-19 di Kota Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim) sudah masuk ke tahap dua. Sasaran vaksin saat ini salah satunya adalah para pedagang. Vaksinasi khusus pedagang telah dilaksanakan beberapa kali.

Pertama adalah pedagang pasar Klandasan di Balikpapan Kota, lalu kedua Pasar Pandansari di Balikpapan Barat. Untuk pedagang Pasar Klandasan, penyuntikan sudah dilakukan hingga dua kali.

Jika vaksin bagi penerima selain pedagang diberikan secara massal di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome dan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, maka vaksin bagi pedagang dilakukan jemput bola.

Petugas melaksanakan vaksinasi langsung di pasar, sehingga pedagang bisa tetap berjualan sambil menerima suntikan vaksin jenis Sinovac ini. Sayangnya, sasaran pedagang masih belum terpenuhi keseluruhan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan Arzaedi Rachman mengatakan, pada dasarnya vaksinasi akan jadi persyaratan pedagang bisa tetap berjualan di pasar.

Persyaratan untuk memperpanjang sewa petak di pasar, pedagang harus menyertakan sertifikat vaksin. Bagi pedagang yang tidak melampirkan sertifikat vaksin, maka sewa petaknya tidak akan diperpanjang.

“Karena vaksin ini adalah kewajiban. Dan sertifikat vaksin akan jadi syarat di banyak ketentuan yang lain. Seperti berangkat haji kan harus vaksin,” ungkap Arzaedi, Kamis (18/3/21).

Dirinya berharap kesadaran pedagang untuk disuntik vaksin. Tak lama lagi, lanjutnya, pedagang Pasar Pandansari akan menerimanya suntikan vaksin kedua.

Ia menyebutkan, sesuai aturan Kementerian Kesehatan, vaksin pertama dan kedua diberikan berjangka dua pekan. Total pedagang Pasar Pandansari yang menerima vaksin ada 310 orang. Namun ia meyakini jumlah ini belum mencakup semua orang di pasar. Pasalnya di sana juga ada petugas kebersihan dan petugas UPTD.

“Saya harap pedagang yang belum vaksin, dengan sukarela ikut vaksin. Tidak ada salahnya. Toh semua masyarakat ke depannya di atas usia 18 tahun harus vaksin. Tidak sekarang nanti juga akan divaksin,” tuturnya.

Arzaedi memaparkan, Jika masih ada penduduk Balikpapan yang belum vaksin, pasti akan ditelusuri. Ia pun mengungkapkan, pedagang pasar sebenarnya sudah diberi prioritas.

“Mereka malah didatangi. Kalau yang lain disuruh ke ke fasilitas kesehatan atau DOME. Nah, kurang apa pemerintah untuk memberi toleransi kepada para pedagang. Karena kan pemerintah tau mereka ada aktivitas berdagang,” urainya.

Karena apabila pedagang disuruh datang ke satu tempat untuk divaksin, kemungkinan mereka akan lebih memilih berdagang. Sehingga petugas vaksin yang jemput bola datang ke pasar.

“Makanya mending meluangkan waktu sejenak untuk vaksin, daripada jauh-jauh dipanggil ke Dome. Maka kami minta kerja sama pedagang untuk mendukung,” katanya melansir idntimes.com.

Data sementara pedagang yang telah disuntik vaksin, di Pasar Klandasan ada 293 orang dan di pasar Pandansari 310 orang.

Sementara, salah satu pedagang pasar Klandasan, Sakdiyah (38) mengaku dirinya telah dua kali vaksin. Suntikan pertama ia terima sekitar tanggal 4 Maret, sementara suntikan kedua pada 17 Maret.

Pasca-vaksin ia mengaku tidak merasakan efek negatif. Bahkan ia tetap berjualan usai divaksin. Terkait vaksinasi ini dirinya merasa hanya perlu mematuhi aturan saja. Karena ia tidak ingin terpapar COVID-19. Berupaya mencegah, menurutnya sampai kini tak ada efek samping buruk yang ia rasakan.

“Saya takut lah kalau sampai positif. Makanya nurut aja disuruh vaksin. Banyak juga pedagang yang belum vaksin, pada takut. Saya mending mencegah,” ungkap Sakdiyah.

Sementara terkait kebijakan sertifikat vaksin untuk memperpanjang sewa petak, menurutnya ia belum pernah mendengar informasi tersebut. Apalagi sampai kini sewa petak terus berjalan, sehingga ia berharap jika memang ada kebijakan semacam itu pemerintah baiknya segera menyosialisasikan.

Kendati begitu ia mengikuti saja. Dia tak menganggap itu masalah karena dirinya telah menjalani vaksinasi. “Tapi pedagang lain diajak lagi lah, jangan sampai sudah mau diterapkan soal sertifikat vaksin baru bilang. Saya aja nggak tahu,” katanya.

Sakdiyah sebenarnya tidak divaksin bersamaan dengan pedagang lain di pasar tersebut. Saat itu dirinya usai suntik KB, sehingga terpaksa menunda disuntik vaksin. Dikhawatirkan ada efek buruk waktunya berdekatan.

“Akhirnya saya buat janji dengan Dinkes. Saya ke Dinkes divaksin susulan. Yang vaksin kedua saya juga nyusul,” bebernya.

 

[dn|red]

No More Posts Available.

No more pages to load.