Pranala.co, GAZA – Serangan militer Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban jiwa. Sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk dua anak-anak, tewas dalam serangan udara pada Sabtu, 4 Oktober 2025.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar Israel menghentikan operasi militer di wilayah tersebut.
Menurut laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency, tentara Israel melancarkan serangan drone terhadap sebuah tenda di al-Mawasi, wilayah selatan Gaza yang sebelumnya ditetapkan sebagai “zona kemanusiaan.”
Serangan tersebut menewaskan dua anak dan melukai beberapa warga lainnya. Sumber medis di Kompleks Medis Nasser mengonfirmasi korban luka telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan darurat.
Desakan Trump Diabaikan
Serangan ini menjadi korban pertama sejak Presiden Trump secara terbuka meminta Israel untuk “segera menghentikan pengeboman” di Gaza.
Permintaan itu muncul setelah Hamas dikabarkan menyatakan kesediaan untuk membebaskan sandera Israel sebagai bagian dari rencana perdamaian baru yang diusulkan Trump.
Namun, di lapangan, situasi berkata lain. “Malam itu sangat keras,” kata Mahmoud Basal, juru bicara pertahanan sipil Gaza. Menurutnya, tentara Israel tetap melancarkan puluhan serangan udara dan penembakan artileri di Kota Gaza dan wilayah sekitarnya.
Basal menyebut 20 rumah hancur dalam serangan semalam tersebut.
Rumah Sakit Baptis Gaza melaporkan telah menerima korban dari serangan di lingkungan Tuffah, termasuk empat orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka.
Sumber medis dan saksi mata mengatakan pasukan Israel juga menyerang dua rumah di Kota Gaza dan kamp pengungsi Nuseirat, yang menewaskan total tujuh orang dan melukai banyak lainnya.
Serangan udara dan tembakan artileri dilaporkan masih berlanjut di beberapa titik, termasuk Khan Younis di wilayah selatan.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan hampir 66.300 warga Palestina, mayoritas wanita dan anak-anak.
Badan-badan PBB dan organisasi hak asasi manusia internasional berulang kali memperingatkan bahwa Gaza kini tidak lagi layak huni.
Kelaparan, penyakit, dan kehancuran infrastruktur terus meluas, sementara bantuan kemanusiaan sulit masuk karena blokade yang masih diberlakukan.
Presiden Trump menyebut dirinya yakin bahwa “kelompok di Gaza siap menuju perdamaian abadi.” Namun hingga kini, gencatan senjata belum terjadi.
Serangan udara dan operasi darat masih terus berlangsung, sementara tekanan internasional terhadap Israel untuk menghentikan aksi militer semakin meningkat. (RE/ANT)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami










