Rumah Ibadah di Kutai Timur Bisa Dibuka, Asal Rekomendasi Camat atau Kades

  • Whatsapp
Bupati Kutai Timur, Ismunandar. (Merdeka)

PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur berencana akan merelaksasi aktivitas masyarakat di tengah pendemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Rencananya dimulai Jumat, 5 Juni. Mulanya akan membuka kembali seluruh aktivitas peribadatan di rumah ibadah. Termasuk mengizinkan Salat Jumat lagi.

Hal ini disampaikan Bupati Kutim, Ismunandar usai memimpin rapat melalui vodeo conference (Vicon) bersama tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kutim dengan seluruh Camat se-Kutim dalam rangka membahas pelaksanaan relaksasi dan New Normal pandemi COVID-19. Selasa (2/6)

Bacaan Lainnya

“Kami akan mulai membuka lagi rumah ibadah. Salat Jumat juga bisa dilaksanakan lagi. Tapi, ada syarat harus dipenuhi,” katanya.

Syarat utamanya, semua warga wajib menerapkan protokol kesehatan saat relaksasi mulai diberlakukan. Di rumah ibadah misalnya. Wajib menyediakan fasilitas cuci tangan dengan sabun untuk jemaah. Tidak menggunakan alas karpet, rajin melakukan penyemprotan cairan disinfektan di rumah ibadah. Serta tetap menerapkan pyhsical distancing atau jaga jarak antarjemaah saat melaksanakan ibadah, minimal satu meter.

“Termasuk jarak antar saf saat salat berjemaah. Selain itu, syarat yang terpenting harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi izin dari Camat dan atau Kepala Desa (Kades) pada masing-masing wilayah,” jelas Ismu lagi.

Perlunya izin camat atau kepala desa, Ismu bilang, mereka dianggap paling paham kondisi di wilayah masing-masing. Serta bertanggung jawab langsung pada wilayah mereka. “Jangan sampai nanti kami mengizinkan semua beroperasi, ternyata ada yang masih masuk dalam zona transmisi lokal,” katanya.

Ismu pun mengingatkan meski relaksasi diberlakukan, warga tak serta merta bebas. Lalu, mengabaikan aturan protokol kesehatan. Tetap upaya pencegahan penularan COVID-19 diutamakan, sehingga tidak ada pandemi COVID-19 gelombang kedua di Kutim.

“Tetap jaga kesehatan dan utamakan pencegahan penularan COVID-19. Jangan sampai nantinya kasus COVID-19 di Kutim kembali meledak dan melonjak tajam angkanya. Jangan ada pandemi COVID-19 gelombang kedua lah di Kutim,” tegas Ismu. (*)

Pos terkait