Pranala.co, BONTANG — Hasil tes narkotika kembali menyisakan pil pahit bagi Pemerintah Kota Bontang. Upaya pencegahan terus dilakukan. Namun hasilnya masih menyakitkan.
Tes urine yang digelar Kamis (18/12/2025) mendapati empat aparatur sipil negara (ASN) terindikasi positif menggunakan narkotika jenis sabu.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Bontang, Daisuki, tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Nada suaranya bergetar saat menyampaikan hasil tersebut.
“Terus terang, saya sangat sedih. Saya berharap dari awal sampai akhir tidak ada satu pun yang positif. Tapi nyatanya, selalu saja ada,” ujarnya.
Bagi Daisuki, kasus narkotika bukan sekadar pelanggaran disiplin pegawai. Masalah ini jauh lebih serius. Dampaknya luas. Menyentuh banyak sisi kehidupan.
Bukan hanya pelaku yang menanggung akibat. Keluarga ikut terdampak. Anak-anak. Istri. Bahkan institusi dan masyarakat yang dilayani.
“Yang terbayang di pikiran saya bukan hanya orangnya. Tapi anak-anak dan keluarganya. Mereka ikut menanggung dampaknya,” katanya.
Ia mengingatkan, ASN adalah wajah pemerintah. Terutama mereka yang bertugas di sektor pelayanan dan pengamanan. Seperti BPBD, Damkartan, Dinas Perhubungan, dan Satpol PP.
Mereka berada di garis depan. Menjaga keselamatan masyarakat. Mengawal ketertiban. Dalam kondisi itu, integritas dan kesiapan mental menjadi hal mutlak.
“Sayangi diri sendiri. Sayangi istri, anak, keluarga, korps Pemerintah Kota Bontang, dan seluruh warga. Mereka semua bergantung pada kita,” tegas Daisuki.
Soal tindak lanjut, Daisuki menyerahkan sepenuhnya kepada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Bontang. Sanksi disiplin akan dijatuhkan sesuai aturan yang berlaku.
Namun ia menekankan, penindakan harus diiringi pembinaan. Tujuannya agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Selain sanksi administratif, Daisuki juga meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan asesmen terhadap ASN yang terindikasi positif. Langkah ini dinilai penting untuk mengetahui akar persoalan.
“Kita perlu tahu apa yang mendorong mereka sampai terjerumus. Dengan begitu, pencegahan bisa dilakukan lebih tepat,” ujarnya.
Ia berharap kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh ASN di Bontang. Penyalahgunaan narkotika, kata dia, bukan hanya menghancurkan masa depan pribadi.
Lebih dari itu, juga mencederai kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Ini pelajaran penting bagi kita semua. Mudah-mudahan setelah ini tidak akan pernah ada lagi,” tegas dia. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















