Pranala.co, BALIKPAPAN – Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Balikpapan Melawan di depan Balai Kota Balikpapan, Senin (9/2/2026), akhirnya mendapat respons langsung dari Pemerintah Kota Balikpapan.
Setelah berjam-jam menyampaikan aspirasi secara bergantian dan mendesak agar dapat bertemu langsung dengan pimpinan daerah, massa aksi akhirnya ditemui Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo.
Bagus datang ke tengah massa aksi didampingi Asisten I Sekretariat Daerah Kota Balikpapan, Zulkifli, serta sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di antaranya Disperkim, Dishub, dan Disdikbud. Pertemuan itu berlangsung di halaman Balai Kota Balikpapan dengan posisi duduk bersama antara pemerintah dan massa aksi.
“Saya hadir di sini bukan untuk mewakili pribadi, tetapi mewakili Pemerintah Kota Balikpapan,” tegas Bagus saat menemui massa aksi.
Dalam dialog itu, Pemerintah Kota Balikpapan menanggapi tuntutan mahasiswa, khususnya persoalan klasik yang selama ini menjadi keluhan warga, yakni banjir. Bagus menjelaskan bahwa penanganan banjir di Balikpapan terus dilakukan, namun membutuhkan waktu dan proses bertahap.
Menurutnya, Pemerintah Kota Balikpapan telah memiliki master plan penanganan banjir sejak 2014. Dokumen tersebut kemudian diperbarui pada 2021 guna menyesuaikan dengan perubahan kondisi sosial dan tata guna lahan di Balikpapan.
“Situasi kita semakin kompleks, sehingga dokumen 2021 menjadi penyesuaian penting,” ujar Bagus.
Ia memaparkan bahwa secara topografi, Balikpapan didominasi wilayah perbukitan. Sekitar 85 persen wilayah kota berupa perbukitan, sementara hanya 15 persen wilayah datar yang berada di kawasan pusat kota. Kondisi ini menjadikan daerah dataran rendah sebagai titik rawan genangan, terutama di koridor Jalan MT Haryono.
Terlebih, kemiringan lahan di kawasan itu mendekati nol persen, sehingga aliran air berjalan sangat lambat. “Jadi, saluran menjadi lambat karena kemiringannya hampir nol persen,” katanya.
Bagus menyebut, kondisi ini dapat diamati langsung dari ruas Jalan MT Haryono hingga kawasan rumah pompa. Tambahnya, selain faktor topografi, ia juga menyoroti perubahan iklim sebagai penyebab banjir semakin sulit diprediksi.
Kata Bagus, berdasarkan catatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menetapkan adanya cuaca ekstrem dalam enam bulan terakhir.
“Curah hujan sekarang tidak lagi normal. Jika sebelumnya berada di kisaran 60 milimeter, kini bisa mencapai 150 hingga 180 milimeter. Ini menyebabkan volume air hujan jauh melebihi kapasitas saluran,” ujar Bagus.
Di samping itu, untuk saluran drainase yang ada hanya dirancang untuk menampung curah hujan normal. Alhasil, ketika hujan berlangsung lama, air yang masuk ke saluran lebih besar dibandingkan kemampuan saluran untuk mengalirkannya ke laut.
Bagus juga, memberikan solusi jangka menengah, yaitu rencana pembebasan lahan dari jembatan hingga rumah pompa dengan luas sekitar 40 hektare. Rencana ini masyarakat sudah setuju, namun masih ada kendala yaitu keterbatasan anggaran.
Karena itu, pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur tidak bisa diselesaikan dalam satu tahun anggaran. Kondisi ini diperparah dengan pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp1 triliun.
Sebab itu, Bagus menambahkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Balikpapan yang sebelumnya berada di kisaran Rp4,3 triliun kini menyusut menjadi sekitar Rp3,3 triliun.
Kendati demikian, pemerintah kota tetap memprioritaskan layanan dasar. Bagus menyebut pembangunan rumah sakit di wilayah timur tetap berjalan, sementara pembangunan Rumah Sakit Balikpapan Barat sementara dilakukan cooling down karena masih dalam proses pemeriksaan.
Sebagai langkah konkret penanganan banjir, Bagus menyampaikan bahwa revitalisasi kolam-kolam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal menjadi prioritas utama. DAS Ampal disebut sebagai kawasan dengan dampak banjir paling parah.
“Jadi tahun ini kita mendapatkan bantuan APBN sebesar Rp56 miliar untuk pengerukan DAS Ampal,” ungkapnya.
Lebih jauh, Bagus mengatakan penanganan banjir membutuh anggaran sekitar Rp 1 triliun lebih. Maka penanganan dapat dilakukan secara bertahap.
Bagus juga memastikan, selama masa kepemimpinan akan menuntaskan persoalan banjir ini. “Jabatan kami sampai akhir (periode) bersama pak Rahmad mudah-mudahan 80 sampai 100 persen bisa kita selesaikan tahun 2029,” tuturnya.
Sontak masa aksi langsung merespons pernyataan tersebut. Koordinator aksi kemudian mengingatkan masa agar janji itu dicatat dan diingat bersama.“Jangan lupa dicatat teman-teman bahwa 2029 masalah banjir di kota Balikpapan akan selesai,” ujar koordinator aksi kepada masa aksi. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















