BONTANG – Hujan deras sejak pagi tak menyurutkan langkah ratusan remaja menuju kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang, Sabtu (9/8/2025).
Di Jalan HM Ardan, Kelurahan Api-Api, mereka duduk rapi di dalam aula. Mendengarkan. Merenung. Ada yang matanya fokus, ada pula yang memancarkan semangat.
Mereka bukan belajar matematika atau menghafal sejarah. Hari itu, mereka belajar tentang hidup.
Ketua MUI Bontang, Misbahul Munir, membuka pembinaan tersebut. “Belakangan ini, anak-anak kita banyak yang terseret ke hal-hal negatif,” ujarnya.
Munir menyebut satu per satu persoalan yang menghantui remaja. Gantung diri. Narkoba. Seks bebas. Judi online. Game berlebihan. Bahkan ada yang kehilangan arah hidup di usia belia.
“Kalau ini dibiarkan, akan hancur. Kehancuran itu bukan cuma dirasakan oleh dia, tapi juga lingkungannya,” tegasnya.
Pembinaan ini diikuti perwakilan remaja masjid dan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Bontang. MUI berharap mereka bisa menjadi “corong” kebaikan di lingkungannya masing-masing.
Materi yang disampaikan mayoritas membahas akhlak. Bagaimana berbakti pada orang tua, menghormati guru, berteman dengan baik, dan menjaga batas pergaulan. Juga soal meraih cita-cita dengan pondasi iman yang kuat.
Munir menekankan pesan yang menurutnya sederhana, namun mulai jarang diingat.
“Kalau kamu berbuat baik, kebaikan itu akan kembali padamu. Tapi kalau kamu berbuat buruk, keburukan itu juga akan kembali. Lingkarannya jelas,” ucapnya.
Di akhir pembinaan, Munir menegaskan pentingnya peran generasi muda.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau Indonesia mau bagus, pemudanya harus dibentuk dari sekarang. Kalau tidak, jangan harap lahir pemimpin yang bagus,” katanya. [FAHRUL RAZI]















