Pranala.co, BALIKPAPAN — Pagi belum genap terang. Tapi halaman BSCC Dome Balikpapan sudah penuh. Ada pameran kerajinan. Namanya: Dekranas Expo 2025.
Pameran ini bagian dari perayaan HUT ke-45 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Tapi dampaknya jauh lebih dari sekadar seremonial. Ini tentang geliat ekonomi. Tentang pelaku usaha kecil. Tentang orang-orang yang tak punya kantor tapi punya produk hebat.
Warga Balikpapan tak datang cuma lihat-lihat. Mereka belanja. Mereka penasaran dengan produk-produk dari luar daerah. Ada yang dari Tegal, ada dari Sulawesi, ada juga dari NTB.
Ketua Panitia Dekranas Expo 2025, Muhaimin, seperti tak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Alhamdulillah, dua hari ini suasananya luar biasa. Dari pagi sampai malam, warga datang terus,” ujarnya saat ditemui di sela kunjungan ke stan, Kamis (10/7/2025).
Ia yakin, semarak ini bukan hanya soal keramaian. Tapi soal transaksi. Soal perputaran uang. Soal penggerak ekonomi rakyat.
“Semua stan terjadi transaksi. Artinya, bukan cuma pamer-pameran. Ada pertukaran nilai. Ada uang yang mengalir,” tambahnya.
Dan yang lebih menarik lagi, transaksi ini bersifat lintas daerah. Produk dari Sulawesi dibeli warga Balikpapan. Produk dari Balikpapan dibawa pulang warga NTB. Semacam jembatan ekonomi antardaerah. Tanpa birokrasi panjang.
Muhaimin juga melihat semangat besar dari perajin lokal. Bukan hanya ingin dikenal. Tapi ingin naik kelas. Ingin menembus pasar nasional, bahkan global.
“Ini sesuai dengan semangat Dekranas: perajin harus berdaya, produknya harus mendunia,” tegasnya.
Soal nilai transaksi? Nanti. Itu urusan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi. Akan diumumkan setelah kegiatan selesai.
Tapi satu yang pasti: Expo ini hidup. Bukan kegiatan tempelan.
Penutupan nanti kabarnya akan dihadiri Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Tentu ini akan menjadi penegas: bahwa produk lokal itu serius. Bukan barang pinggiran.
Sarung Goyor, Tenun, dan Cerita dari Tegal
Muhaimin sempat mampir ke stan milik Kabupaten Tegal. Di sana ia disambut Agus Dwi Sulistyantono dan timnya.
Sebagai tamu, tentu ia tak pulang tangan kosong. Diberi cinderamata: sarung khas Tegal. Sarung Goyor, namanya.
Nasrudin Chusnul Huluk, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Tegal, menjelaskan bahwa mereka memang tak membawa perajinnya. Yang dibawa cukup produknya.
“Yang penting produk kita bisa dikenal. Sarung Goyor ini bisa untuk sarung, bisa juga dijadikan bahan baju,” jelasnya.
Harganya? Cukup ramah kantong. Mulai Rp150 ribu sampai Rp350 ribu. Dan semuanya buatan tangan.
Dekranas Expo 2025 bukan sekadar ajang menaruh produk di meja. Tapi ajang menaruh harapan di mata publik. Bahwa produk lokal tidak kalah. Bahkan, dalam banyak hal, lebih kuat, lebih jujur, dan lebih membumi.
Dan Balikpapan, seperti biasa, jadi tuan rumah yang ramah. Penuh semangat. Penuh pasar.


















