Ragam Persepsi Masyarakat soal Covid-19: 45% jadi Pakar Dadakan

Ilustrasi.

MEREBAKNYA wabah Covid-19 membuat masyarakat terpecah menjadi beberapa kategori, berdasarkan tingkat pengetahuannya akan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 itu. Survei dari Etnomark Consulting menemukan bahwa sebanyak 47 persen responden menyatakan diri sebagai awam. Responden yang disebut sebagai “The layman” ini dalam keseharian tidak banyak menggali jauh pemahaman mereka akan Covid-19.

Hasil tersebut, berbeda tipis dengan 45 persen responden yang mendadak menyatakan diri sebagai pakar atau “The sudden expert”. Responden yang mendaku ujug-ujug sebagai pakar ini dikategorikan sebagai mereka yang dalam waktu singkat mencari informasi dan menjadi lebih memahami seluk beluk penyakit dan sisi medis serta dampak Covid-19.

Brand Consultant dan Ethnographer Director Etnomark Consulting, Amalia E. Maulana menjelaskan kelompok yang merasa dirinya awam itu adalah mereka yang kurang banyak mengekplorasi mengenai Covid-19.

“Mereka ini target hoaks sebenarnya karena tidak punya dasar pengetahuan yg cukup. Tapi mereka akan merasa aman ketika di dekatnya ada kelompok yang eksper atau yang tiba-tiba eksper karena akan memberitahukan mana yang hoaks mana yang tidak,” tutur Amalia mengulik Lokadata.id pada Jumat (10/4/2020).

Sementara, kelompok yang menyatakan diri mendadak sebagai pakar ini adalah mereka yang memenuhi keingintahuan soal Covid-19 dengan googling maupun berbicara mengenai topik ini terus-menerus.

“Mereka ini extra miles cari infonya. Tetapi bukan pakar asli, yaitu yang punya background medis,” kata Amalia.

Ia menambahkan salah satu responden yang menyatakan diri sebagai pakar dadakan ini menjelaskan, dia harus banyak mencari informasi supaya tidak panik dengan beredarnya berita-berita palsu.

“Kalau dia jadi orang yang paham maka at least bisa menyaring berita benar dan tidak benar,” terang Amalia.

Sementara, sebanyak 7 persen responden dikategorikan sebagai para ahli atau “The real expert”. Kategori ini memang terdiri dari orang-orang yang berprofesi sebagai tenaga medis.

Kelompok Orang “Sok Tahu” tak Begitu Banyak

Sedangkan, penelitian tersebut juga menemukan kurang dari 1 persen responden yang tercatat sebagai tipe yang sok tahu atau “The know-it-all”. Tipe sok tau ini menjelaskan perilaku responden yang hanya membaca berita setengah-setengah, tetapi merasa seolah paling mengerti dan sering memaksakan pendirian.

Mengenai sedikitnya jumlah responden yang menyatakan diri sebagai sok tahu, Amalia mengatakan bahwa survei yang dilakukannya itu bersifat self-reflection.

“Di mana responden diminta memilih 1 dari 4 kategori knowledge behaviour sehingga tidak bisa menangkap secara langsung perilaku sok tahu tersebut,” kata Amalia.

Adapun keseluruhan penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui etnografi online selama tiga minggu di bulan Maret 2020. Secara kualitatif, penelitian diperoleh dari hasil penelusuran sekitar 500 postingan di media sosial dan sumber media online dengan menggunakan kata kunci hashtag di antaranya #LawanCovid19, #DiRumahAja, #StaySafeStayHome. Survei juga dilakukan dengan bergabung dalam diskusi pembahasan Covid-19 di 35 komunitas grup WhatsApp.

Setelah itu, dilanjutkan secara kuantitatif melalui survei secara daring selama satu pekan pada awal April 2020. “(Metode kualitatif) ini insightful sekali karena saat suasana seperti ini orang tidak bisa bertemu dan mereka mencurahkan cerita keseharian mereka dengan foto-foto di Instagram, Facebook dan juga di grup WhatsApp, ” kata Amalia.

Dari 500 postingan media sosial dan media online tersebut, Amalia kemudian mengerucutkan insights tentang kecenderungan perilaku masyarakat yang beragam. Kemudian hasil tersebut di analisa dan dibuatkan kategorisasi dimensi dan kategorisasi sociable vs egosentris tersebut sebagai kesimpulannya

Adapun penelitian ini dilakukan terhadap 609 responden. Sebanyak 76 persen responden berdomisili di Jabodetabek dan sisanya 24 persen dari luar Jabodetabek. Setelah itu, dilanjutkan secara kuantitatif melalui survei secara daring selama satu pekan pada awal April 2020. Kesimpulan dari penelitian ini mendapati bahwa 70 persen dari keseluruhan responden berperilaku sosialisme dan berorientasi pada sesama.

“Hal ini sejalan dengan kultur masyarakat Indonesia dan khususnya dalam masa sulit seperti ini, kepedulian dan saling tolong menolong itu penting,” ujar Amalia, dalam siaran pers yang diterima Lokadata.id pada Kamis (9/4/2020).

Sementara itu, terdapat 27 persen responden yang berperilaku positif tetapi masih berorientasi pada diri sendiri. Sedangkan, hanya 3 persen responden yang cenderung bersikap egosentris. Dari hasil wawancara dengan 27 persen responden yang berperilaku positif tetapi berorientasi pribadi, mereka merasa bahwa skoring ini memberikan kesadaran untuk memperbaiki diri.

Amalia menambahkan bahwa perilaku yang positif ini perlu dipertahankan sebagai modal gotong-royong masyarakat dan pemerintah untuk bersama menghadapi pandemi korona. (*)

More Stories
Jalan Perbatasan RI-Malaysia di Kalbar Sudah Tembus ke Kaltim