Proyek Gasifikasi Batu Bara di Kutai Timur Ditargetkan Beroperasi di 2024

  • Whatsapp
Ilustrasi.

PRANALA.CO – Pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas batu bara, salah satunya melalui proyek gasifikasi, yakni mengolah batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk menggantikan liquefied petroleum gas (LPG).

Ridwan Djamaluddin, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan dua proyek gasifikasi batu bara ditargetkan beroperasi pada 2024 mendatang.

Bacaan Lainnya

Dua proyek gasifikasi batu bara tersebut yakni proyek coal to methanol oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang berada di Bengalon, Kalimantan Timur dan proyek coal to DME oleh konsorsium PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Proyek coal to methanol KPC ditargetkan mulai konstruksi pada Mei 2021. “Dua proyek jalan PT Kaltim Prima Coal dan PTBA dengan Pertamina, ini contoh-contoh mudah-mudahan tahun 2024 kita harapkan selesai,” ungkapnya dalam acara diskusi ‘Bimasena Energy Dialogue 4’, Jumat (19/3/2021).

Ridwan meminta agar proyek yang sudah berjalan ini jangan sampai meleset dari jadwal operasi yang telah direncanakan, yakni di 2024. Kalaupun ada keterlambatan, imbuhnya, tidak boleh terlalu jauh dari target awal tersebut.

“Bagian dari pengalaman, jangan sampai target 2024 tidak tercapai atau geser nggak terlalu jauh,” pintanya.

Menurutnya, skenario dari proyek ini sudah dibuat, sehingga harus terus dikawal dan diselesaikan. “Skenario sudah dibuat, mari kawal. Kalau ada kendala, selesaikan,” tegasnya.

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arviyan Arifin sempat mengatakan proyek gasifikasi bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products diproyeksikan akan mulai beroperasi pada Kuartal II tahun 2024 mendatang.

Proyek gasifikasi batu bara di Tanjung Enim ini masuk ke dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Artinya, proyek ini mendapat dukungan secara khusus dari pemerintah.

“PTBA, Pertamina, dan Air Products optimistis proyek pengembangan DME batu bara bisa berjalan sesuai rencana untuk mulai beroperasi di kuartal II-2024,” ungkapnya dalam konferensi pers kinerja PTBA per 31 Desember 2020, Jumat (12/03/2021).

Sementara, proyek hilirisasi batu bara berupa produk methanol akan dikerjakan oleh perusahaan di bawah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT KPC. Proyek coal to methanol ini rencananya akan dikerjakan KPC bersama dengan Ithaca Group dan Air Products.

Proyek ini juga ditargetkan akan beroperasi pada 2024. Adapun kebutuhan batu baranya diperkirakan sekitar 6,5 juta ton per tahun dengan kadar GAR 3.600 kcal/ kg.

Utamakan Tenaga Lokal

Terpisah, Ketua DPRD Kutai Timur Joni, menginginkan agar nantinya sejumlah perusahaan yang membangun pabrik, bisa mematuhi perjanjian dengan Pemkab Kutim sebelumnya, utamanya terkait penggunaan tenaga kerja lokal.

“Kebutuhan tenaga kerja nantinya cukup besar, sehingga putra-putri lokal Kaltim khususnya Kutai Timur harus menjadi prioritas rekrutmen sebagai tenaga kerja (naker) saat perusahaan itu mulai beroperasi,” ucapnya

Dijelaskannya, Seperti yang tertuang di dalam Nota Kesepahaman (MoU) antara Perusahaan dengan Pemkab Kutai Timur beberapa waktu lalu. Yakni, perusahaan wajib dan harus mematuhi MoU itu, saat mulai beroperasi, mereka wajib merekrut anak-anak Kaltim khususnya dari Kutai Timur.

Selain itu, Nantinya DPRD dan Pemkab akan terus memonitor dan mengawal perekrutan penyerapan tenaga kerja lokal. “Baik saat mulai dibukanya lapangan pekerja untuk pabrik semen dan pabrik methanol, di Kecamatan Bengalon,” imbuhnya.

 

[sap|cn]

Pos terkait