Pranala.co, NEW YORK – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sikap tegas Indonesia di Sidang Umum PBB. Ia menegaskan, Indonesia hanya akan mengakui Israel apabila negara itu terlebih dahulu mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat.
Pernyataan ini menjadi salah satu sorotan besar dalam forum internasional tersebut. Prabowo menekankan, jalan menuju perdamaian Timur Tengah tidak bisa hanya dengan tekanan dan ancaman. Paradigma baru harus dibangun agar kedua pihak merasa sama-sama dimenangkan.
Selama ini, mayoritas negara lebih condong membela Palestina. Sikap itu lahir dari pertimbangan kemanusiaan dan keadilan. Namun, kenyataannya tekanan keras terhadap Israel tidak membuat negara itu melunak. Justru sebaliknya, Israel semakin agresif menyerang, bahkan hingga ke luar Palestina.
Menurut Prabowo, cara lama ini tidak efektif. Ia menawarkan opsi baru: membangun pengakuan timbal balik. Dengan begitu, perdamaian tidak hanya menjadi wacana, tapi peluang nyata.
“Indonesia akan mengakui Israel bila Israel mengakui Palestina,” tegasnya.
Konflik ini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang bangsa Yahudi. Mereka pernah mengalami tragedi Holocaust di era Nazi Jerman, yang menewaskan jutaan jiwa. Trauma itulah yang membentuk mental bertahan hidup luar biasa, hingga melahirkan kekuatan teknologi dan militer yang canggih.
Tekanan dari luar justru bisa memperkuat rasa terancam Israel. Dalam kondisi itu, bukan mustahil mereka bertindak lebih agresif, bahkan memakai senjata nuklir yang diduga dimiliki. Jika itu terjadi, bukan hanya Palestina yang rugi, tapi seluruh dunia.
Pidato Prabowo mengingatkan pada gagasan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dulu, Gus Dur pernah membuka wacana menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.
Tujuannya sederhana: agar Indonesia bisa berperan lebih besar dalam mewujudkan perdamaian Palestina-Israel. Namun, ide itu kala itu dianggap terlalu jauh ke depan dan mendapat banyak penolakan.
Kini, Prabowo mengajukan gagasan serupa dengan pendekatan lebih halus. Ia tetap menegaskan empati terhadap penderitaan rakyat Palestina, tetapi tanpa menutup pintu damai dengan Israel.
Sikap Prabowo sejalan dengan seruan Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa masa depan tidak boleh dibangun di atas kekerasan, pengungsian paksa, atau dendam. Pesan itu berlaku universal, baik untuk rakyat Palestina, Israel, maupun komunitas internasional.
Pada akhirnya, konflik panjang di Timur Tengah ini tidak akan selesai jika dilihat dengan kacamata dendam. Yang perlu diubah bukan keberadaan sebuah bangsa, melainkan perilaku politik pemimpinnya. (ANT)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















