Perkembangan Kubah dalam Islam

SEJAK abad ketujuh, hampir seluruh masjid di dunia selalu menyertakan kubah sebagai elemen wajib. Kubah juga selalu diidentikkan sebagai arsitektur khas Islam. Namun nyatanya, kubah bukan berasal dari budaya Islam. Jauh sebelum Islam lahir, kubah sudah menjadi arsitektur populer di wilayah laut tengah (Mediterania) yang dikelilingi oleh benua Eropa, Afrika dan Asia.

Kubah (dome) sendiri berasal dari bahasa Latin, domus yang berarti rumah. Sedangkan nama kubah, yang juga digunakan di Indonesia untuk menyebut bangunan berbentuk setengah lingkaran itu, berasal dari bahasa Syiria, qubba, dan dipopulerkan di tanah Arab.

Masjid berkubah pertama dalam sejarah Islam dibangun di Yerussalem, Palestina antara 685 Masehi hingga 691 Masehi oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Ummaiyyah. Pembangunan masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Qubbat as-Sakhrah (Masjid Kubah Batu) atau Dome of the Rock ini, dimulai ketika Yerussalem jatuh ke dalam kekuasaaan Islam pada era Khalifah Umar bin Khattab. Masjid yang terletak di tengah-tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif, Masjid Al-Aqsa di pusat kota Yerussalem ini, dibangun setengah tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Beberapa tahun kemudian, di bawah kepemimpinan Al-Walid bin Abdul Malik, masjid Nabawi di Madinah yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW pada 622 Masehi (1 Hijriah) silam, dibangun kembali dengan arsitektur yang lebih megah. Proyek renovasi Masjid Nabawi dimulai pada 88 Hijriah hingga 91 Hijriah, dan dipimpin langsung oleh Umar bin Abdul yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Madinah.

Setelah direnovasi, Masjid Nabawi mengalami cukup banyak perubahan, seperti penambahan empat menara di setiap sisi masjid, mihrab yang dihias sedemikian rupa, dan dinding masjid yang dilapisi marmer, emas dan mozaik marmer berwarna-warni. Perubahan juga tampak dari atap masjid yang diperindah dengan kubah yang dipasang di atas ruangan di depan mihrab.

Kubah memang sangat populer di era Ummaiyyah, bahkan istana-istana khalifah di Suriah selalu dihiasi dengan kubah-kubah yang disebut qubbat al-khadra (kubah surga). Kebiasaan ini juga terus diaplikasikan pada arsitektur Islam hingga hari ini.

Menjelang abad ke-12, desain kubah semakin berkembang, salah satunya Muqarnas (kubah stalaktit) yang menonjolkan cerukan sebagai ciri khas. Salah satu bangunan yang menggunakan Muqarnas adalah Istana Alhambra di Spanyol. Di Mesir, sejak abad ke-10 dan seterusnya, kubah sering digunakan secara simbol untuk menandai kuburan orang-orang penting. Akibatnya, interior kubah untuk pemakaman saling bersaing satu sama lain, makam dengan kubah lebih tinggi, lebih besar, dan lebih elegan digunakan sebagai reprsentase strata sosial jenazah yang bersemayam didalamnya.

Sedangkan di Iran, kubah menjadi arsitektur paling populer di pertengahan abad 11 dan 12, dimana banyak masjid disana yang menjadikan kubah sebagai ornamen utama. Pada abad ke-13, desain kubah semakin variatif dan inovatif, salah satunya adalah desain Masjid Tilla-Kari di Samarkhan, Uzbekistan yang memiliki kubah ganda menyerupai bentuk topi kepala koki atau disebut ribbed dome.

Jenis kubah ganda juga diabadikan dalam pembangunan monumen Taj Mahal di Agra, India pada 1632. Mughal adalah wilayah di India yang paling banyak menerapkan kubah jenis ini pada masjid-masjid mereka, salah satunya pada desain ruang sholat yang dilengkapi tiga kubah bulat berbahan dasar marmer putih.

Di Anatolia, atau biasa disebut Asia Kecil, yang sebelumnya dihuni masyarakat Yunani dan Romawi, hingga akhirnya mendeklarasikan diri sebagai bangsa Turki, kubah dibangun atas penggabungan budaya Iran dan Yunani Bizantium. Pada abad ke 14 hingga 15, mereka memperluas bangunan masjid dan menyatukannya dengan ruang yang tertutup oleh kubah. Pengakulturasian dua tradisi ini mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 di bawah kesultanan Utsmani.

Saat ini, banyak masjid memiliki desain kubah kontemporer dengan sentuhan artistik khas masa lalu. Seperti kubah Masjid Jumeirah di Dubai yang menggabungkan unsur modern dengan desain khas Qaitbay di Kairo. Dengan demikian desain kubah tetap masif dalam budaya Islam hingga kini.

Asal Usul Kubah dalam Arsitektur Masjid-Masjid di Nusantara

Menilik sejarahnya, keberadaan kubah di muka Bumi telah sangat tua. Namun, keberadaannya di Indonesia belum cukup lama. Kubah baru muncul di Tanah Air pada abad ke-18. Bahkan di Jawa, atap masjid berkubah baru muncul pada pertengahan abad ke-20 M. 

Meskipun sudah sejak lama rumah adat suku Dani di Papua, Honai, mengenal bentuk kubah, hanya saja kubah tersebut dibangun secara sangat sederhana dengan menggunakan rumbai. 

Masjid-masjid di Indonesia, terutama di Jawa, awalnya tidak menggunakan kubah pada bagian atapnya, tetapi menggunakan bentuk-bentuk minimalis dan berundak yang biasa digunakan pada kuil Hindu. 

Masjid Agung Demak misalnya tampil dengan atap berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid ini terdiri atas tiga bagian yang merepresentasikan iman, Islam, dan ihsan. 

Masjid Agung Banten juga memiliki atap tanpa kubah. Atap bangunan utamanya bertumpuk lima, mirip pagoda Cina. Hal ini dimungkinkan karena arsitek masjid ini berasal dari Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. 

Masjid tradisional di Kalimantan yang mengadopsi arsitektur setempat juga tak memiliki kubah. Kesamaan dari semuanya hanya satu, selalu ada titik puncak tertinggi di bangunan yang menjadi penanda fungsi sebagai ruang sakral.

Kubah baru diadopsi oleh masjid di Indonesia pada masa kekuasaan Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman (1833-1843). Struktur kubah diterapkan pada Masjid Sultan di Riau. 

Namun, Pijper dalam Studien over de geschiedenis van de Islam menduga, masjid pertama di Jawa yang menggunakan kubah ada di Tuban, yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1894. 

Munculnya kubah itu diduga karena pecahnya perang antara Rusia dan Kesultanan Turki Utsmani yang terjadi pada 1877-1878. Saat itu pula, Kekaisaran Utsmani melancarkan gerakan budaya, termasuk pengenalan jenis masjid baru. 

Gerakan ini pun sampai ke Asia Tengara, “Masjid-masjid tradisional beratap tumpang digantikan masjid kubah dengan menara-menara gaya Timur Tengah atau India Utara,” tulis Peter JM Nas dalam Masa Lalu Dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia. 

Akhirnya, lambat-laun kubah menjadi simbol arsitektur Islam paling modern, yang seakan-akan wajib ada pada masjidmasjid baru di Asia Tenggara.

Perubahan tersebut, misalnya, terjadi pada Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612. 

Setelah sempat terbakar pada masa penjajahan Belanda, masjid tersebut dibangun kembali pada 1879 dan rampung dua tahun kemudian dengan tambahan tujuh buah kubah. Perubahan juga ditambahkan pada menara Masjid Banten. Masjid Agung Ambon yang dibangun pada 1837 juga dihiasi kubah. (ma/republika)

More Stories
Diserahkan Door to Door, PT KNI Bagi Paket Ramadan Khusus Lansia di Bontang