Perampok Mama Anjas adalah Pria Tua, Motifnya Ekonomi dan Sakit Hati

Menggunakan kursi roda, SK di bawa dari sel tahanan ke depan pintu masuk Markas Komando Polres Bontang, Senin (11/9). -Foto: Romi Ali

pranala.co – Menggunakan kursi roda, SK di bawa  dari sel tahanan ke depan pintu masuk Markas Komando Polres Bontang, Senin (11/9). Sekarang ia tak bisa berjalan sendiri, akibat dua timah panas sempat mampir di betisnya. Sebelah kiri juga kanan. 

Di lokasi itu, para wartawan sudah siap, penasaran dengan SK  tokoh utama, yang akan diperkenalkan dalam konferensi pers. Kasus perampokan Agen Telur Mama Anjas yang jadi buah bibir di pertengahan tahun ini. 

SK sepertinya memang cukup lihai. Sejak membawa kabur puluhan juta uang Mama Anjas hampir 6 bulan, baru pada 9 Oktober kemarin dia apes. Ia ditangkap Tim Rajawali Polres Bontang, di dekat Rumah Sakit Yabis. Karena melawan, petugas mengambil tindakan yang terukur. Dua pelor dari senjata petugas menerjang ke betis kiri kanan milik SK. Hari itu, sudah dipastikan jeruji besi akan menjadi tempat pemberhentiannya. 

Konfrensi Pers kali ini dipimpin langsung oleh Kapolres Bontang, AKBP Hamam Wahyudi. Didampingi Wakapolres, Kompol Damus Asa, Humas Polres Bontang Iptu Suyono, Kasat Reskrim Polres Bontang, Iptu Asriadi serta ketua Tim Rajawali, dan Kanit Reskrim Polres Bontang, Ipda Probo.  

Di depan mereka, lengkap dengan barang bukti kriminal yang dilakukan oleh SK. Dua unit motor scoopy, dompet dan uang tunai hingga telepon genggam. Tak lupa, senjata pamungkas SK yang digunakan untuk merampok, sebuah parang lengkap dengan sarungnya berwarna kuning kecoklatan. 

Rupanya, setelah merampok Mama Anjas, dan menjadi buron, pria usia 52 tahun itu masih sempat melakukan tiga tindak kriminal lainnya. Dari penuturan AKBP Hamam Wahyudi, SK atau tersangka beraksi lagi pada September dan Oktober lalu. 

Pada 7 Oktober, di kawasan Jalan Juanda, Tanjung Laut Indah tersangka mengambil ponsel dan dompet dengan uang tunai sekira Rp6 juta yang berada dalam mobil. Sebelum itu, 19 dan 30 September lalu, ia berhasil membawa kabur 2 sepeda motor yang juga milik warga Tanjung Laut Indah. 

“Berbekal informasi masyarakat dan bukti CCTV, pelaku berhasil kami amankan,” kata AKBP Hamam Wahyudi kepada wartawan. 

AKBP Hamam Wahyudi juga mengungkapkan, tersangka adalah seorang residivis. Ia pernah tersandung kasus pembunuhan dengan ancaman 10 tahun penjara di Makassar, Sulawesi Selatan. 

“Pernah ditahan karena kasus pembunuhan dan bebas bersyarat setelah menjalani masa hukuman 7 bulan, ia bebas bersyarat tiga tahun lalu,” lanjutnya. 

Di kampungnya bisa jadi asa sudah hampir putus. Apalagi statusnya sebagai mantan narapidana tentu melekat kuat di dirinya. Ia memboyong istri dan dua anaknya ke Kalimantan Timur, dua tahun lalu.

Berharap memulai hidup baru, ia memutuskan untuk tinggal di kawasan Marangkayu, Kutai Kartanegara. Menggunakan motor matik berwarna putihnya, ia pergi mengadu nasib ke kota yang terdekat. Tak peduli bekerja apa, asal nasib keluarganya tidak terlunta-lunta. Di kawasan Tanjung Laut Indah, katanya ia mendapat cukup pekerjaan. Bekerja di sebuah toko.

Hingga di Februari lalu, ia diperbolehkan bekerja di toko Mama Anjas. Dari pengakuan tersangka dua bulan pekerjaannya ia kerap mendapat perlakuan yang membuatnya harus elus dada. Katanya, pemilik toko sering menyuruhnya dengan nada kasar. Ia pun tak tahan dan berhenti.

Namun, rupanya ia menaruh dendam. Hingga 19 April lalu, sekira pukul 18.20 Wita, saat toko sedang sepi, ia kembali menemui pemilik toko. Kali ini, ia membawa sebuah parang yang langsung diarahkan ke pemilik. Puluhan juta berhasil ia bawa kabur. 

“Saya sakit hati, omongannya kasar malah nyuruh,” kata tersangka. 

Tapi tiga aksi kriminal lainnya, adalah persoalan lain. Kata AKBP Hamam, para korban lengah. Misalnya salah satu motor yang dicuri tersangka. Korban memarkirkan motornya dengan kunci yang masih menempel di stop kontak. Tersangka diduga tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan langsung membawa kabur barang curian ke Marangkayu. 

“Nah domisilinya di Marangkayu juga menjadi salah satu kendala. Selain itu, pelaku juga sudah paham jalan-jalan di kawasan tempatnya beraksi,” kata AKBP Hamam. 

Kini tersangka akan mendekam di penjara diwaktu yang cukup lama. Tiga tindak kriminal yang dilakukannya, sepertinya akan merenggut usia tuanya. 

Kasus perampokannya saja, sudah membuat ia terancam 15 tahun kurungan penjara. Meski dalih ekonomi dan sakit hati, resiko perbuatannya harus dibayar lunas. Dengan ketentuan hukum negara. **

 

 

Penulis : Romi Ali Darmawan

More Stories
Drainase Dangkal, Pemkot Diminta Beli Mini Ekskavator