Penyebar Hoaks di Grup WhatsApp Bisa Disemprit Polisi Virtual

  • Whatsapp
rsip: Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menunjukkan barang bukti kasus penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di Mapolda Metro Jaya, Jakarta (14/12/2020). Galih Pradipta / ANTARA FOTO

POLISI Virtual Bareskrim Mabes Polri akan menegur unggahan di media sosial yang dinilai berisi hoaks dan ujaran kebencian, termasuk yang dibagikan di grup WhatsApp. Akun WA akan ditegur jika terindikasi melakukan tindak pidana ujaran kebencian dan hoaks.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan setiap platform media sosial turut dipantau oleh Bareskrim Polri. Hal itu untuk meminimalisir terjadi tindak pidana ujaran kebencian dan hoaks.

Bacaan Lainnya

“Jangan berpikir, ah kalau kami memfitnah orang, menyebarkan kebencian, kalau pakai platform tertentu aman nih,” kata Ramadhan seperti dikutip Inews, Jumat (12/3/2021).

Namun Polri memastikan Virtual Police yang dijalankan Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim tidak menyadap akun WhatsApp siapapun.

“Bukan disadap. Ini kan kita memantau, jadi nggak ada kata sadap. Kita ini tujuannya memberikan edukasi, peringatan kepada akun-akun yang memberikan postingan yang sifatnya ujaran kebencian,” ujar Ramadhan seperti dikutip detik.

Ramadhan menjelaskan, akun WhatsApp tersebut ditegur oleh Virtual Police karena ada yang melaporkan. Caranya, dengan melakukan screenshot terhadap posting-an status WhatsApp. Setelah itu, Virtual Police melakukan pelacakan akun.

“Kalau WA grup kan bisa. Artinya, misalnya, ini hanya misalnya ya. Ada di grup itu, kemudian ada yang melapor ke polisi, dia screenshot dong. Terus akunnya dilacak,” katanya

Sejauh ini sudah ada 125 konten yang diberi peringatan selama 23 Februari 2021 sampai 11 Maret 2021. “Dari 125 konten tersebut, 89 konten dinyatakan lolos verifikasi. Artinya, konten memenuhi ujaran kebencian atau memenuhi unsur,” kata Ramadhan seperti dikutip Viva.

Ada 36 konten tidak lolos verifikasi atau tidak menuju ujaran kebencian. Selanjutnya, dari 89 konten yang lolos verifikasi tersebut dalam proses ada 40 konten diberikan peringatan.

Berdasarkan data Virtual Police (Dit Tipisiber) Bareskrim Polri pada periode itu 125 konten diajukan untuk diberikan peringatan virtual police didominasi platform Twitter 79 konten, Facebook 32 konten, Instagram 8 konten, YouTube 5 konten dan Whatsapp satu konten.

 

[js|red]

Pos terkait