Pemudik Ngeyel Dimasukan “Rumah Berhantu”

Penampakan gudang kosong di Desa Sepat Masaran Sragen yang digunakan sebagai rumah isolasi atau rumah hantu untuk mengarantina pemudik yang nekat bandel tidak mau menaati aturan karantina mandiri di rumah. Foto/Wardoyo

BUPATI Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati punya cara unik untuk memaksa para pemudik mau menjalani karantina mandiri di rumah selama 14 hari. Para pemudik yang membandel tetap berkeliaran bakal dimasukkan ke “rumah hantu” atau rumah angker di desa setempat.

Bahkan para pemudik yang dikurung di rumah hantu tersebut menjadi viral dan diberitakan media internasional. Dalam satu kesempatan kunjungan ke daerah, Yuni menerima laporan dari Camat Plupuh terkait adanya warga atau pemudik yang menjalani karantina mandiri.

Namun di tengah jalan, pemudik tersebut mengingkari komitmen yang telah disepakati. Dua orang warga Kecamatan Plupuh diketahui keluar rumah untuk keperluan yang tidak penting.

Bupati telah meminta setiap desa di Sragen untuk menyiapkan tempat karantina khusus bagi pemudik yang ngeyel tak mau karantina mandiri di rumah. Tempat khusus tersebut yakni rumah atau bangunan kosong berhantu yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang membandel.

“Jika masih ada yang nekat (tidak melakukan karantina mandiri 14 hari), saya persilakan desa untuk melakukan langkah tegas. Kalau ada rumah kosong dan berhantu, masukkan situ saja,” ujarnya, melansir Tugu Jogja, Selasa (21/4).

Pasalnya, jajaran pemerintah bekerja keras untuk menanggulangi pandemi COVID-19 ini. Ia pun mengatakan bahwa para pemudik diterima dengan baik dan meminta kepada mereka untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari

Yuni mengatakan, sudah ada 2 desa yang melapor adanya pemudik yang bandel saat dikarantina. Ia pun mengimbau pemudik untuk melakukan karantina mandiri demi kenyamanan dan keamanan bersama.

“Kalau masih ngeyel silakan. Sudah ada 2 desa yang lapor. Satu di (Kecamatan) Plupuh, satu di Kecamatan Masaran. Tapi saya minta untuk makanan mereka diperhatikan. Kesehatan juga dipantau terus,” tegasnya.

Para pemudik yang memasuki wilayah Sragen menurut Bupati dilakukan screening dan pendataan. Petugas disiapkan di stasiun kota dan terminal

Setiap penumpang angkutan umum yang berasal dari luar kota, baik bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), dan travel diperiksa kesehatannya. Kemudian, diukur suhu tubuh, disterilkan dengan menggunakan antiseptik dan didata.

“Kita surati semua PO agar tidak menurunkan penumpang di jalan, harus di terminal. Begitu turun kita screening. Jika demam kita karantina dulu, jika sehat di karantina 14 hari mandiri di rumah masing-masing. Kalau Stasiun kereta sudah ada posko kesehatan,” terang Bupati Yuni.

Sementara itu, aparat desa Sepat, Kecamatan Masaran menyebut ada tiga orang yang dikarantina paksa. Tempat karantina di desa tersebut diakuinya sudah lama tidak dihuni sehingga memiliki kesan angker.

“Karena kemarin konsultasi sama bupati, kita dibolehkan melakukan karantina para pemudik yang bandel. Akhirnya dipilih lokasi itu. Gedungnya lama nggak dipakai sehingga kesannya rumah hantu gitu. Kita bersihkan kita kasih tempat tidur bersekat,” terang Kepala Desa Sepat, Mulyono.

Dari ketiga pemudik yang menghuni rumah hantu tersebut, lanjut Mulyono, dijemput oleh Satgas COVID-19 desa karena ketahuan keluar rumah. Meski awalnya enggan, para pemudik tersebut akhirnya menurut setelah diberi pengertian oleh petugas.

“Ya kita memang agak memaksa. Bagaimana lagi, karena ini demi kebaikan seluruh warga. Kami harapkan hal ini menjadi pelajaran bagi warga lain untuk menuruti aturan,” terangnya. (*)

More Stories
Penerbangan Komersial di Bandara Samarinda Disetop sampai 1 Juni