Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Pengelolaan Kilang LNG Badak

Ilustrasi suasana kerja di Badak LNG. [Badak LNG]

PRANALA.CO, Jakarta – Pemerintah diingatkan untuk menaruh perhatian pada kilang gas alam cair (Liqufied Petroleum Gas/LNG) Badak di kalimantan Timur, dengan menurunnya permintaan gas di pasar dunia.

Pengamat Energi Sofyano Zakaria, mengatakan, Indonesia memiliki salah satu kilang LNG terbesar didunia yakni kilang LNG Badak. Kilang tersebut mulai dibangun dimasa Pemerintahan Orde Baru pada Tahun 1974 di lapangan Badak Kalimantan Timur yang menghasilkan 22,5 juta metrik ton LNG pertahunnya.

Namun, di tengah upaya pembangunan kilang yang sedang digalakan, perhatian pemerintah pada Kilang LNG Badak seakan memudar. “Dikhawatirkan luputnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan dan nasib kilang LNG Badak,” kata Sofyano, di Jakarta, Rabu [9/12] lalu.

Sofyano melanjutkan, dengan menurutnnya kebutuhan gas maka sudah saatnya pemerintah memikirkan status PT Badak LNG, dari non profit company menjadi perusahaan yang mengejar laba agar perusahaan ini bisa dan mampu merawat dan menjaga keberlangsungan kilang LNG itu. Sebab jika dibiarkan berpotensi mengancam kelangsungan hidup Kilang LNG Badak.

“Di tengah gencarnya Pemerintahan Presiden Joko Widodo membangun kilang BBM baru di negeri ini maka nasib Kilang LNG Badak juga harus dan perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah” ujar Sofyano.

Keberadaan PT Badak LNG sebagai Non Profit Company yang dipercaya Pemerintah mengelola Kilang LNG Badak sudah saatnya ditinjau kembali demi keberlagsungan Kilang LNG milik negara ini.

Dengan status PT Badak LNG yang non profit company, ini pasti akan menimbulkan masalah terkait hubungan kerja dengan pekerja dan tenaga kerja Out Sourcing yang ada di PT Badak LNG yang jumlahnya lebih dari 3000orang.UU Tenaga Kerja dan UU Cipta Kerja mensyaratkan pemberian pesangon kepada pekerja jika terjadi pemutusan hubungan kerja.

“Bagaimana sebuah perusahaan yang non profit bisa membayar pesangon kepada pekerjanya? Bukankah perusahaan non profit tidak mencatat laba dan logikanya tidak memiliki dana buat pesangon,” tuturnya.

Kilang LNG Badak adalah kilang milik negara yang pengelolaannya diserahkan kepada PT Badak LNG.PT Badak LNG sendiri adalah sebuah perusahaan yang dinyatakan Non Profit Company atau Nir Laba. PT Pertamina (Persero) mengakui sulitnya tarik investor dalam proyek pengembangan dan pembangunan kilang BBM di Indonesia.

SVP Strategic & Investment Pertamina Daniel Purba mengatakan, minat investasi kilang bergantung pada margin yang diberikan. Karena minimnya margin dari bisnis kilang ini, maka menurutnya belum cukup menarik minat investor untuk berinvestasi di sektor hilir minyak ini.

“Jadi, kalau selisih harga antara produk jadi dengan bahan bakunya itu semakin kecil, artinya pengolahan minyak mentah untuk produksi BBM pun menjadi less attractive bagi pelaku ekonomi,” kata dia dalam dalam webinar INDEF – Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Senin [30/11].

Daniel menjelaskan, minimnya margin ini disebabkan oleh penurunan permintaan BBM sebesar 0,7 juta barel per hari pada kuartal II-2020 dibandingkan dengan level pada kuartal IV-2019.

Mengacu pada kondisi itu, stok BBM menjadi tinggi dan membuat sistem kilang menurunkan crude runs ke level 0,7 juta barel per hari dan menurunkan utilisasi sebesar 16 persen.

“Dengan rendahnya crack spread yang ada ini sangat mempengaruhi investor untuk berinvestasi membangun kilang karena tingkat margin yang didapatkan lebih kecil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dimana crack spread masih tinggi,” ungkap dia.

Daniel menambahkan, dalam fase pemulihan ekonomi dua tahun kedepan, pihaknya memperkirakan margin harga bahan baku dan produk jadi BBM masih tetap rendah. Sehingga ini akan menjadi tantangan berat bagi bisnis kilang.

Karena itu, Daniel mengatakan pihaknya perlu mengupayakan optimasi margin dan jenis produk. Antara lain dengan mengendalikan tingkat produksi kilang untuk mitigasi kelebihan produk kilang, serta memilih menurunkan level inventory minyak mentah domestik dengan cara menyerap atau ekspor.

“Jadi, dengan rendahnya permintaan membuat harga produk lebih rendah, sehingga margin bisnis yang makin kecil ini bisa berdampak pada iklim investasi dalam pembangunan kilang-kilang di dunia,” kata dia. [l6]

More Stories
New Normal ala Zaman Jepang