Pranala.co, BONTANG — Pelabuhan Lok Tuan, Kota Bontang, Kalimantan Timur tak lagi sekadar tempat naik-turun penumpang. Dalam catatan Badan Narkotika Nasional (BNN), kawasan ini masuk radar serius.
Pengawasannya dinilai lemah. Risikonya besar. Bahkan disebut berpotensi menjadi pintu masuk narkoba internasional ke Kota Bontang.
Fakta itu tercantum dalam Indonesian Drug Report 2025 yang dirilis BNN Pusat. Dalam laporan tersebut, Pelabuhan Loktuan diduga menjadi salah satu jalur penyelundupan narkotika dari luar negeri. Salah satunya dari Tawau, Malaysia.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdhani, membenarkan informasi tersebut. Menurut dia, indikasi peredaran narkoba melalui jalur laut menuju Bontang memang ada.
Informasi itu diterima langsung dari BNN Pusat. Sumbernya bukan sembarangan. Berasal dari intelijen negara luar.
“Ada indikasi peredaran narkoba lewat jalur laut ke Bontang. Saat kami telusuri, memang belum ditemukan barang bukti. Tapi informasinya sudah masuk ke intel negara luar,” kata Lulyana, Selasa (6/1/2026).
Ia menyebut informasi itu sempat berasal dari jaringan intelijen di kawasan Asia. Di antaranya Taiwan dan Thailand.
Sorotan utama mengarah pada sistem pengawasan pelabuhan. Menurut Lulyana, Pelabuhan Loktuan belum dilengkapi alat pendeteksi barang bawaan penumpang maupun muatan kapal.
Yang ada hanya pemeriksaan karcis. “Penumpang bisa keluar masuk dengan bebas. Tidak ada alat pendeteksian. Dari situ, indikasinya jadi sangat kuat,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat Loktuan bukan hanya rawan sebagai jalur masuk. Wilayah itu juga masuk kategori kawasan rawan penyalahgunaan narkoba.
Masih merujuk Indonesian Drug Report 2025, Loktuan diklasifikasikan sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan bahaya. Artinya, berpotensi menjadi lokasi peredaran sekaligus penyalahgunaan narkotika.
Meski begitu, BNN Kota Bontang tidak tinggal diam. Sepanjang tahun lalu, sejumlah intervensi telah dilakukan di wilayah Lok Tuan. Mulai dari pencegahan, penyuluhan, hingga penindakan.
“Hasilnya mulai terlihat. Ada perubahan setelah intervensi kami lakukan di Loktuan,” ujar Lulyana.
Ia menyebut titik-titik penangkapan di kawasan tersebut kini bisa ditekan. Peredaran tidak lagi semasif sebelumnya. Menariknya, pada tahun 2025 justru kasus besar peredaran narkoba bergeser ke wilayah lain.
“Yang cukup besar tahun lalu justru terjadi di Tanjung Laut Indah,” pungkasnya.
BNNK Bontang pun berharap pengawasan pelabuhan dapat diperkuat. Tanpa sistem deteksi yang memadai, pelabuhan tetap menjadi celah empuk bagi jaringan narkoba internasional. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















