Pedagang Online di Bontang Panen Orderan saat Korona

oleh -
Ilustrasi memanfaatkan media sosial, WA untuk berjualan. (reuters)

SUDAH hampir tiga pekan, rumah Nur Hasanah (34 tahun) di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang ramai didatangi pengemudi ojek online. Jumlahnya mencapai 20-30 orang per hari, mulai pagi sampai sore. Mereka datang menjemput jamu kencur dan kue talam, dagangan Nur untuk diantar ke pembeli di sekitaran Kota Bontang.

Dia mengaku, pesanan tak pernah seramai saat ini meski berjualan lewat internet sejak 2019. Sebelum pandemic Covid-19 dipastikan masuk Indonesia, jumlah pembeli berkisar 10-15 saja per hari. Menurut dia, lonjakan itu terjadi sejak pemerintah menganjurkan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah pada awal minggu ketiga Maret 2020.

Saat ini, katanya jumlah pembelian pernah mencapai 40 pesanan sehari. Paling banyak memesan jamu kencur yang khusus dijual saat pandemi korona. “Paling banyak sih jamu. Ada juga pesan kue talam saya,” kata perempuan berhijab ini.

Menurut dia, peminat dagangannya makin banyak lantaran kesadaran masyarakat tentang hidup sehat makin tinggi. Misal, makan sehat baik untuk imunitas tubuh. Penyebab lain karena panik, takut kehabisan barang.

Lonjakan permintaan di lapak online juga dialami Dewi Nofianti (25 tahun), pegawai salah satu bank swasta ini menjajakan aneka jenis kue basah, hingga minuman segar. Dia hanya menjualnya via daring alias online.

Dia mengaku saat Covid-19 ini pesanan di semua jalur daring mencapai 23 kali pesanan dalam sehari. Sebelumnya hanya sampai 10 pesanan sehari.

Cerita Nofi, pembeli tak hanya dari rekan kerjanya saja. Namun, panen pesanan tak lepas dari kendala. Stok bahan baku kian menipis, mencari bahan kemasan di pasaran juga sulit. “Malah kadang kehabisan stok Mas. Saya juga dagang sampingan, tidak fokus karena masih bekerja walau ada sistem shift,” jelas Nofi.

Di masa Korona ini, jalur perdagangan daring diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan penjualan kebutuhan masyarakat lewat jalur online tidak terkena dampak dan didorong bisa membantu kondisi ekonomi saat ini.

Dalam catatan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2019, jumlah penjual barang melalui internet mencapai 15 juta orang atau 12 persen dari total pekerja Indonesia secara keseluruhan. Angka itu di luar mereka yang bekerja di bagian promosi di internet. Wilayah-wilayah ini diprediksi akan stabil dan mengalami peningkatan penjualan online saat pandemi berlangsung.

Pekerja e-commerce atau mereka yang berjualan lewat internet kebanyakan berada di Jakarta. Jumlahnya mencapai 1,6 juta orang (33,5 persen) dari total 4,8 juta yang berjualan melalui internet. Kemudian Bali sebanyak 20 persen dari total pekerja, atau 497 ribu pekerja.

Selanjutnya Yogyakarta sekitar 414 ribu orang atau sekitar 19 persen pekerja. Di Kepulauan Riau jumlah pedagang online mencapai 18,8 persen atau sekitar 175 ribu orang. Sedangkan di Banten mencapai 1 juta orang (18,7 persen). Dari 34 provinsi, jumlah pedagang online terendah berada di Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 3 persen dari total pekerja.

Sedangkan untuk distribusi barang, Ketua Umum Associate E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah pusat dan daerah untuk memberi dispensasi distribusi logistik termasuk untuk pedagang dan pembeli anggota idEA.

“Namun, kalau permasalahannya ada di sisi manufaktur, tidak ada yang bisa kami lakukan,” katanya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.