Pranala.co, BALIKPAPAN – Ancaman datang dari laut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika alias BMKG Stasiun Balikpapan mengeluarkan peringatan dini pasang laut tinggi di sejumlah kawasan pesisir Kalimantan Timur (Kaltim). Tinggi pasang diprakirakan mencapai 2,8 hingga 3,1 meter. Dampaknya bisa serius. Terutama bagi tambak milik warga.
BMKG mengingatkan pengelola tambak untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasang laut berpotensi menimbulkan banjir rob. Air laut bisa merendam tambak. Bahkan merusaknya.
“Pasang laut bisa berdampak luas. Mulai dari banjir rob, tambak terendam dan rusak, hingga gangguan aktivitas masyarakat pesisir,” ujar Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, Kamis.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah muara Sungai Mahakam, tepatnya di Pulau Nubi, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di kawasan ini, pasang tertinggi diperkirakan mencapai 2,8 meter. Puncaknya terjadi pada 4 dan 5 Januari 2026, sekira pukul 19.00 hingga 20.00 Wita. Sementara surut terendah mencapai 0,3 meter pada 5 Januari pukul 02.00 Wita.
Pulau Nubi dan sekitarnya dikenal sebagai sentra tambak udang dan kepiting. Banyak tambak warga masih aktif berproduksi. BMKG berharap peringatan dini ini menjadi alarm kesiapsiagaan agar petambak tidak mengalami kerugian.
Ancaman serupa juga mengintai perairan Balikpapan. Pasang tertinggi diprakirakan terjadi pada 6 Januari 2026 dengan ketinggian mencapai 3,1 meter sekitar pukul 20.00 Wita. Adapun surut terendah terjadi pada 7 Januari pukul 13.00 Wita dengan ketinggian 0,4 meter.
Di wilayah ini, setidaknya ada lima kawasan pesisir yang terpengaruh langsung oleh pasang surut laut. Yakni Samboja dan Samboja Barat di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, serta Kabupaten Paser.
Sebagian besar kawasan tersebut masih memiliki tambak aktif. Budidaya udang, ikan, dan kepiting rawan terdampak. Arus laut berpotensi membawa hasil tambak ke laut lepas.
“Selain tambak, pasang laut juga bisa mengganggu aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas sosial masyarakat pesisir, bahkan air laut bisa masuk ke permukiman yang dekat pantai,” kata Carolina.
Ia juga mengingatkan risiko keselamatan, terutama bagi anak-anak yang bermain di kawasan pantai saat pasang tinggi.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk kawasan muara Sungai Berau dan sekitarnya. Pasang tertinggi diprakirakan mencapai 2,8 meter pada 6 Januari 2026 sekitar pukul 22.00 Wita. Surut terendah diperkirakan terjadi pada hari yang sama pukul 16.00 Wita dengan ketinggian 0,3 meter.
Di wilayah ini terdapat Pelabuhan Tanjung Redeb, pelabuhan sungai, tambak aktif, serta berbagai aktivitas ekonomi pesisir. Semua pihak diminta meningkatkan kewaspadaan.
Wilayah lain yang tak luput dari perhatian adalah Teluk Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Pasang tertinggi diprakirakan terjadi pada 4 Januari 2026 dengan ketinggian sekitar 3 meter pada pukul 19.00 Wita. Surut terendah diperkirakan terjadi pada 7 Januari pukul 14.00 Wita dengan ketinggian 0,3 meter.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir, pengelola tambak, serta pelaku aktivitas laut untuk terus memantau informasi cuaca dan pasang surut. Kewaspadaan dini menjadi kunci agar aktivitas ekonomi tetap aman dan kerugian dapat dihindari. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















