Pandemi Korona, Bisa Bikin Proyek Merana

PANDEMI virus korona (Covid-19) yang mulai merebak di Indonesia awal Maret 2020, menimbulkan kekhawatiran terkait keberlangsungan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur.

Hal ini membuat Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian mengeluarkan Surat Edaran No. KA.008/A.98/DJKA/20 tentang Tindak Lanjut Protokol Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada pelaksanaan pembangunan perkeretaapian.

Surat edaran yang dikeluarkan Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada Minggu (29/03/2020) ini sejalan dengan Protokol Pencegahan Covid-19 di Proyek Konstruksi milik Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengatakan, arahan dari Surat Edaran tersebut adalah penundaan pekerjaan Switch Over yang memerlukan orang banyak. Sementara, untuk pekerjaan prakonstruksi dan konstruksi dilakukan pengendalian dengan menjaga jarak dan menggunakan Alat Pelindung Diri dan masker.

Namun, Adita tidak menjelaskan lebih lanjut apa saja proyek Switch Over yang termasuk ditunda. Ketika ditanya lebih lanjut, apakah proyek LRT Fase II dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung termasuk proyek yang mengalami penundaan, Adita menjawab, “Ya betul itu untuk semua proyek kereta api,” tuturnya melalui pesan singkat kepada Lokadata.id, Senin (30/03/2020).

Begitu juga ketika ditanya mengenai dampak dari penundaan tersebut, Adita menjawab singkat, “Dampak dari pengurangan pekerjaan kita kelola sedemikian rupa agar tidak menimbulkan keterlambatan yang berarti,” tuturnya.

Proyek Kereta Cepat Sempat Alami Penundaan

Sebelumnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sempat mengalami penundaan selama dua pekan yang dimulai pada 2 Maret 2020 usai permintaan evaluasi oleh Plt. Dirjen Bina Konstruksi Danis Sumadilaga.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut pengerjaan proyek kereta cepat yang digarap konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) ini sudah mencapai 44 persen. Sementara pembebasan lahan untuk proyek ini sudah 99,96 persen.

Danis menyebut penghentian sementara tersebut berkaitan dengan sistem manajemen konstruksi yang tidak memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, kesehatan, dan lingkungan.

Yang terbaru, Dirjen Bina Konstruksi yang baru dilantik pada 5 Maret 2020 Triasongko Widianto mengatakan sudah mengeluarkan surat pencabutan penghentian sementara proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tersebut pada 17 Maret 2020.

Meskipun begitu, KCIC memiliki tugas prioritas untuk dikerjakan yaitu perbaikan sistem drainase di beberapa titik yakni kilometer (KM) 800, KM 21 sampai KM 34 pada ruas tol Jakarta sampai Cikampek dalam waktu 14 hari.

Kereta cepat Jakarta-Bandung rencananya akan memiliki panjang jalur hingga 142,3 kilometer dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2021. Akan ada 4 lokasi pemberhentian kereta yakni Stasiun Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar, Bandung.

Waktu tempuh Jakarta-Bandung diharap bisa mencapai 46 menit paska hadirnya kereta ini. Kecepatan tempuh kereta ini bisa mencapai sekitar 350 km/jam. Proyek ini menelan dana sebesar AS $6,071 miliar atau sekitar Rp81,96 triliun.

LRT Fase II yang Terancam Batal

Pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) Fase II sempat terancam dibatalkan pada awal Februari lalu. Penyebabnya, jalur kereta ringan direncanakan dibangun awal tahun ini tersebut berimpitan dengan rencana pembangunan jalur MRT.

Keduanya disebut bakal melintasi Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Letnan Jendral Suprapto, Tugi Tani, Jalan Kebon Sirih, dan Jalan KS Tubun. Keduanya baru terpisah di Tanah Abang.

Namun, Direktur Utama PT LRT Jakarta Wijonarko menepis kabar tersebut dengan mengatakan tidak ada persinggungan jalur yang dimaksud, dimana rencana perluasan lintasan mengarah ke Jakarta International Stadium untuk fase IIA dan Manggarai untuk fase IIB.

LRT Jakarta merupakan proyek yang digarap oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sejak 2016 lalu. Pada fase pertama, proyek ini menyambungkan antara Kelapa Gading dengan Velodrome sepanjang 5,8 kilometer.

Dari segi lintasan, proyek kereta ringan fase II ini akan menyambungkan stasiun terakhir Kelapa Gading ke Jakarta International Stadium sejauh 8 kilometer dan direncanakan beroperasi 2022. Selain itu, pada fase II ini lintasan yang dibangun akan menyambungkan Velodrome hingga ke Manggarai sejauh 6 kilometer dan direncanakan beroperasi pada 2024.

Deputi Project Director PT Jakarta Propertindo Wilman Sidjabat mengatakan proyek LRT Jakarta fase II akan menghabiskan dana sebesar Rp7 triliun.

Nasib Kelanjutan MRT Fase II yang akan Dibangun Bulan Ini

Proyek pengerjaan Mass Rapid Transit (MRT) fase II rencananya akan dilaksanakan mulai Maret 2020 . Proyek ini merupakan hasil dari konsorsium perusahaan Jepang Shimitsu Kobayashi dengan PT Adhi Karya JV. Anggaran untuk fase II dari proyek ini sebesar Rp4,5 triliun.

Pembangunan MRT Fase II ini akan terbagi menjadi dua bagian, yaitu fase 2A dan 2B. Fase 2A terdiri dari tujuh stasiun yaitu Stasiun Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota sepanjang 6 kilometer dan pengerjaannya ditargetkan berakhir pada Desember 2024.

Sementara, fase 2B terdiri dari tiga stasiun yaitu Stasiun Mangga Dua, Ancol, dan Ancol Barat sepanjang 5.8 kilometer dan ditargetkan selesai pada 2027.

Dihubungi terpisah, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat Djoko Setijowarno mengatakan jika proyek kereta cepat maupun LRT Fase II berpotensi mengalami penundaan, hal itu tidak terlalu menimbulkan masalah.

“Kalau KCIC saya lihat belum urgent. Sementara, LRT Fase II juga masih bisa ditunda dengan menggunakan armada bus,” kata Djoko. ***

More Stories
Oknum Lurah Penyeleweng BLT Covid-19 Diminta Kembalikan Kerugian Negara sampai 40 Hari