Mayoritas Orangtua Siswa Dukung Belajar Tatap Muka, Sekolah di Bontang Pilih Belajar di Rumah

Ilustasi.

PENYEBARAN Covid-19 di Bontang, Kalimantan Timur belum juga mereda. Per Jumat (8/1) pukul 18.00 Wita kembali ada penambahan 73 kasus aktif. Total keseluruhan orang terpapar virus Corona di Kota Bontang, kini menembus angka 344 kasus, dengan persentase tingkat kesembuhan menurun dibilangan 81,7 persen.

Kondisi ini berdampak kebijakan belajar para siswa di Kota Bontang. Dinas Pendidikan & Kebudayaan (Disdikbud) setempat pun kembali memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR).

Hal ini pun membuat pihak sekolah mengikuti instruksi tersebut. Meskipun berdasarkan hasil survei ke orang tua, mayoritas meminta untuk dilakukan kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Eko Yuli Atmanto, Kepala SMP Negeri 2 Bontang misalnya. Dia berujar, pada semester ganjil lalu, pihaknya telah melakukan survei kepada 808 orangtua atau wali murid. Alhasil, 82 persen orangtua menginginkan kembali dilakukan PTM.

“Hasilnya juga telah kami sodorkan ke Dinas Pendidikan,” tuturnya saat dikonfirmasi belum lama ini.

Namun karena adanya kebijakan PTM batal dilaksanakan, sehingga pihaknya memilih untuk mengikuti instruksi tersebut. Kata Eko, sejumlah kendala yang sering dihadapi para guru saat mengajar via online adalah, terkadang tidak semuanya murid mengikuti pelajaran. Khususnya saat pagi.

“Ada beberapa murid yang kesiangan bangunnya. Sehingga disinilah butuh kerja sama dengan orangtua,” bebernya.

Ditanya soal kendala siswa yang tidak memiliki laptop atau gawai, Eko mengaku telah melakukan pendataan. Dan bagi siswa yang tidak memiliki perangkat pembelajaran tersebut, akan dipinjamkan oleh sekolah.

Serupa, Kepala SMP Bahrul Ulum, Musthofa. Meskipun sekolah swasta, namun pihaknya tetap mengikuti instruksi Disdikbud dan Satgas Covid-19 Bontang. Padahal kata dia, dari hasil survei kepada 301 orangtua murid, saat itu hanya satu orangtua yang tidak setuju untuk dilakukan PTM. Selebihnya, mereka menghendaki untuk dilakukan kembali PTM dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Antara PTM dengan PJJ pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kekurangan PJJ menurut kami, berkurangnya karakter positif yang telah siswa biasa lakukan di sekolah. Dan terkadang guru harus beberapa kali mengulang penjelasan baru murid bisa faham,” terangnya.

Agar PJJ bisa berjalan maksimal, Musthofa meminta dukungan dan kerja sama dari para orangtua agar selalu mengawasi anaknya. Bagi orang tuanya bekerja, dia meminta sebelum berangkat kerja, agar memastikan anaknya telah siap mengikuti pelajaran di sekolah.

 

[bm]

More Stories
Belum Ada Bukti Ilmiah Transmisi Lokal Covid-19 di Samarinda