Napas Lega Orangtua di Bontang, Murid Lanjut Belajar di Rumah

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat memimpin rapat penerapan kelaziman baru alias New Normal bersama lintas OPD di Pendopo Wali Kota, Kamis (28/5). (FOTO: ADIE HUMAS)

ORANG tua murid di Kota Bontang, Kalimantan Timur mungkin sedang penuh kecemasan. Pertanyaan muncul apakah sekolah akan segera kembali dibuka, atau apakah anak masih akan lanjut belajar dari rumah.

Jawaban melegakan datang dari Pemkot Bontang melalui Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni usai rapat membahas penerapan new normal atau kelaziman baru di Pendopo Wali Kota Bontang, Kamis (28/5/2020).

Wali Kota Neni menegaskan pembukaan sekolah dilaksanakan apabila situasi dan kondisi terkait Covid-19 sudah dinyatakan aman dengan tetap mengikuti protokoler kesehatan.

“Kegiatan belajar mengajar di sekolah masih dipertimbangkan. Nanti Pemkot melalui Dinas Pendidikan akan berkoordinasi secara intens dengan Kementerian Pendidikan dan pihak terkait lainnya,” jelas Wali Kota Neni.

Neni bilang tidak mudah membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah. Perlu memerhatikan dan siapkan 19 kriteria. Ini sebagai upaya pencegahan dan penerapan protokol kesehatan di sekolah. “Kalau protokol ini merujuk World Health Organization (WHO), Kemenkes dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) itu ada 15 hal yang harus diperhatikan. Banyak tidak mudah,” tegas Neni.

Hal lainnya Neni bilang mengingat karakter siswa dengan di berbagai tingkat pendidikan perlu persiapan lebih matang. Terlebih para siswa yang masih tergolong anak-anak sangat rawan, jangan sampai ada klaster baru di sekolah.

Pun, jika harus kembali belajar di sekolah, siswa tingkat SMP dan SMA/sederajat saja yang bisa dilakukan. Sementara untuk murid Satuan PAUD Sejenis (SPS), PAUD, TK, tempat penitipan, dan murid Sekolah Dasar (SD) akan tetap belajar di rumah saja.

Neni pun membeber 15 protokol penanganan Covid-19 di lingkungan dunia pendidikan. Diantaranya;

1. Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui rencana atau kesiapan daerah setempat dalam menghadapi Covid-19.

2. Menyediakan sarana cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol di berbagai lokasi strategis di sekolah sesuai jumlah dibutuhkan.

3. Menginstruksikan warga sekolah melakukan cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol, dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) lainnya seperti: makan jajanan sehat, menggunakan jamban bersih dan sehat, olah raga teratur, tidak merokok, membuang sampah pada tempatnya.

4. Membersihkan ruangan dan lingkungan sekolah secara rutin (minimal 1 kali sehari) dengan desinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, meja, keyboard dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.

Termasuk Memonitor absensi (ketidakhadiran) warga sekolah, Jika diketahui tidak hadir karena sakit dengan gejala demam/batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak napas disarankan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat memeriksakan diri.

5. Memberikan imbauan kepada warga sekolah yang sakit dengan gejala demam/batuk/ pilek/sakit tenggorokan/sesak napas untuk mengisolasi diri dirumah dengan tidak banyak kontak dengan orang lain.

6. Tidak memberlakukan hukuman/sanksi bagi yang tidak masuk karena sakit, serta tidak memberlakukan kebijakan insentif berbasis kehadiran (jika ada). Dalam hal ini bukan kewenangan Kementerian Kesehatan untuk menetapkan, sehingga Kementerian Kesehatan tidak memberikan masukan.

7. Jika terdapat ketidakhadiran dalam jumlah besar karena sakit yang berkaitan dengan pernapasan, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.

8. Mengalihkan tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang absen kepada tenaga kependidikan lain yang mampu. Dalam hal ini bukan kewenangan Kementerian Kesehatan untuk menetapkan, sehingga Kementerian Kesehatan tidak memberikan masukan.

9. Pihak institusi pendidikan harus bisa melakukan skrining awal terhadap warga pendidikan yang punya keluhan sakit, untuk selanjutnya diinformasikan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

10. Memastikan makanan disediakan di sekolah merupakan makanan sehat dan sudah dimasak sampai matang.

11. Mengimbau seluruh warga sekolah untuk tidak berbagi makanan, minuman, termasuk peralatan makan, minum dan alat musik tiup yang akan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit.

12. Menginstruksikan kepada warga sekolah untuk menghindari kontak fisik langsung
(bersalaman, cium tangan, berpelukan, dan sebagainya).

13. Menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar sekolah (berkemah, studi wisata).

14. Melakukan skrining awal berupa pengukuran suhu tubuh terhadap semua tamu yang datang ke institusi pendidikan.

15. Warga sekolah dan keluarga yang berpergian ke negara dengan transmisi lokal Covid-19 dan mempunyai gejala demam atau gejala pernapasan seperti batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak napas diminta untuk tidak melakukan pengantaran, penjemputan, dan berada di area sekolah. (*)

More Stories
Kemenkes Imbau Seluruh RS Tutup Praktik Rutin kecuali Emergensi