Mimpi Mahakam Ulu Punya Bandara Segera Terwujud

90 Hektare Lahan Segera Dibebaskan

Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh SH beserta Tim Pemerintah Mahulu menghadiri rapat dengan pihak Kemenhub RI, dengan pimpinan rapat Direktur Bandar Udara Ir. M. Pramintohadi Sukarno, M.Sc. (HO PEMKAB MAHULU)

PEMERINTAH Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur bakal membangun bandar udara (bandara) di Ujoh Bilang. Tahap demi tahap sudah dilakukan. Salah satunya pembebasan lahan seluas 90 hektare. Target pembangunan untuk sisi udara akan dilaksanakan pada 2021.

“Total luas bandara yang kami perlukan 250,5 hektare (ha), sedangkan untuk pembebasan tahap pertama seluas 90 ha yang segera kami lakukan setelah ada hasil dari tim appraisal (penilai harga tanah),” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mahakam Ulu Toni Imang di Ujoh Bilang, Selasa (7/7) menukil antara.

Dari hasil inventarisasi ke lokasi calon bandara yang dilakukan sejak 2019, jumlah pemegang hak kepemilikan atas tanah yang dibebaskan pada tahap pertama dengan luas 90 ha.

Untuk tahap kedua akan dilanjutkan pembebasan seluas 160,5 ha, sehingga total lahan yang akan dibebaskan mencapai 250,5 ha, sesuai dengan estimasi kebutuhan total luas lahan calon bandara.

Pada 1 Juli 2020, pihaknya kembali melakukan sosialisasi kepada warga pemilik lahan untuk calon bandara..Sosialisasi yang kesekian kalinya tersebut merupakan tahapan dari tim appraisal dalam melaksanakan penilaian atas pemilik lahan di lokasi calon bandara.

Nilai dari tim appraisal ini selanjutnya akan digunakan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai dasar untuk melakukan pembayaran sebagai Tim Pelaksana Pengadaan Tanah

Sosialisasi yang digelar di Lamin Adat, Kampung Ujoh Bilang tersebut dilakukan oleh Ketua Tim Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) Cek Putera Handalan, dihadiri Pejabat Sekda Mahakam Uu Stephanus Madang, jajaran Dishub setempat, pemilik lahan, dan sejumlah pihak terkait.

Dia mengatakan keberadaan bandara di dekat ibu kota kabupaten merupakan kebutuhan penting karena letak geografis Mahakam Ulu yang di kawasan perbatasan negara, transportasi masih mengandalkan jalur Sungai Mahakam dan belum tembusnya jalur darat.

Atas kondisi geografis dan masih minimnya jalur transportasi tersebut, sejak 2018 pihaknya mencari lokasi calon bandara yang kemudian menetapkan di hilir Kampung Ujoh Bilang, tepatnya dekat dengan perbatasan Kampung Long Melaham.

“Dari total luas lahan bandara yang dibutuhkan mencapai 250,5 ha itu, khusus untuk bangunan bandara diperlukan seluas 835×3.000 meter, kemudian untuk runway (landasan pacu) sepanjang 1.600 meter,” ucap Toni.

Wakil Bupati Mahulu, Y Juan Jenau dalam tiap kesempatan menegaskan setidaknya terdapat empat alasan mengapa bandara harus dibangun. Pertama adalah karena Kabupaten Mahulu merupakan kawasan yang berbatasan dengan Malaysia, sehingga daerah ini menjadi beranda terdepan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kedua, karena kawasan Mahulu memiliki  kontur perbukitan dan hutan luas yang sulit diakses dengan jalan darat,  dan sampai sekarang belum bisa ditembus jalan darat. Demikian pula akses melalui sungai yang juga sulit dan memakan waktu lama.

Alasan ketiga adalah untuk membuka keterisolasian daerah, sehingga dengan adanya penerbangan pesawat perintis diharapkan dapat mempermudah angkutan orang maupun barang.

Keempat, lanjut Juan, Mahulu sebagai kabupaten yang kaya akan sumberdaya alam dan budaya untuk diperkenalkan melalui sektor pariwisata, maka keberadaan bandara sangat penting sebagai akses bagi wisatawan maupun calon investor untuk datang ke Mahulu.

“Saya sudah sering berbincang dengan para tamu, termasuk tadi malam. Ada tamu yang mengaku sudah beberapa kali datang dan ada yang baru sekali. Semuanya mengeluh tentang panjangnya rute yang dilalui, terutama harus naik speedboat sekitar 5 jam dari Kutai Barat ke Ujoh Bilang,” katanya.

Jika ada bandara, maka waktu tempuh dapat dipersingkat, karena rencananya penerbangan untuk sampai di Bandara Ujoh Bilang bisa dilakukan dari bandara di Balikpapan, Samarinda, maupun Kutai Barat, sehingga tidak melelahkan karena tidak harus lewat darat yang disambung dengan jalur sungai. (*)

More Stories
Pemindahan IKN ke Kaltim Masuk RPJMN