Menperin: Pabrik Baru Semen di Kutai Timur Belum Penuhi Syarat

oleh -
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan sikap yang tidak berubah atas pengembangan pabrik semen baru di Tanah Air. Pasalnya, hal itu telah diutarakan sejak tahun lalu yakni pembatasan pembangunan pabrik semen baru.

“Untuk pabrik semen baru posisi kami tidak berubah, ini juga sudah kami sampaikan secara tertulis kepada Presiden, dua Menteri Koordinator, dan diteruskan pada Kepala BKPM. Kami secara tegas hanya mengarahkan jika ada pembangunan pabrik semen baru maka harus ditempatkan di Papua dan Maluku,” katanya dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI yang dikutip, Senin (15/2).

Agus juga menyebut untuk rencana pembangunan pabrik semen baru di Kutai Timur, Kalimantan Timur hingga kini masih dipertanyakan dalam due diligince-nya. Pasalnya, sejumlah syarat belum dapat dipenuhi para investornya. Atas hal tersebut, Agus menegaskan lagi bahwa Kemenperin tidak akan berubah sikap dalam mengarahkan pabrik baru semen agar dapat terbangun di Papua dan Maluku.

Adapun rencana pembangunan pabrik semen di Kutai Timur itu merupakan investasi dari Hongshi Holdings untuk Bumi Etam dengan prediksi nilai investasi sekitar US$1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun.

Hongshi Holdings menjanjikan bisa menyerap tenaga kerja di Kaltim sampai 13.000 orang. Hongshi Holdings juga memprediksikan bisa memproduksi 8 juta ton semen per tahun dan berkontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Kutai Timur.

Sisi lain, di tengah rapor terburuk kinerja semen tahun lalu, hanya Maluku Papua yang mengalami pertumbuhan positif penjualan semen yakni sebesar 9,6 persen.

Sementara kontraksi terdalam terjadi di Bali-Nusa Tenggara dan Jawa yang masing masing sebesar -13,7 persen dan -13,1 persen. Kemudian diikuti oleh Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera yang masing masing terkontraksi sebesar -11,8 persen, -10,8 persen, dan -3,9 persen.

Secara kumulatif, penjualan semen domestik sepanjang 2020 terkontraksi sebesar -10,4 persen jika dibandingkan periode tahun sebelumnya yakni 2019 sebesar 0,7 persen. Hasil itu menjadi pertumbuhan terendah dalam 10 tahun terakhir.

Adapun untuk ekspor semen juga terkontraksi. Secara kumulatif, pertumbuhan ekspor semen pada 2020 tumbuh 48,2 persen secara tahunan dibanding 10,0 persen pada 2019 menjadi 9,3 juta ton. Walau demikian, pasar ekspor hanya sebesar 12,9 persen dibandingkan total produksi domestik. Artinya, belum signifikan mengangkat permintaan terhadap industri semen nasional.

Secara nasional, kondisi industri semen saat ini masih dalam kapasitas yang berlebih. Di mana kapasitas produksi industri semen terintegrasi di dalam negeri mencapai 100 jutaan ton per tahun, sementara konsumsi hanya sekitar 70 juta ton.

 

 

 

[bs]

No More Posts Available.

No more pages to load.