Mengintip 3 Progres Pembangunan Infrastruktur Ibu Kota Baru

oleh -
Cover Collection Pindah Ibu Kota. Foto: Basith Subastian/kumparan

PEMBANGUNAN ibu kota baru seolah tenggelam gegara Covid-19 melanda tanah air. Pemerintah mencurahkan seluruh perhatiannya untuk penanganan Covid-19 agar ekonomi Indonesia pulih kembali.

Namun demikian, mega proyek ini tidak akan berhenti begitu saja. Pemerintah masih menyusun master plan ibu kota baru, meskipun lajunya tidak secepat sebelum pandemi menyerang.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan, pemerintah saat ini masih tetap menaruh perhatian pada proyek Ibu Kota Negara (IKN) atau ibu kota baru di Kalimantan Timur.

“Ibu kota negara masih proyek yang sifatnya stand by,” kata Suharso dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2021, Jumat (14/8/2020) lalu.

Dari segi infrastruktur, sebenarnya ada beberapa proyek yang sudah berjalan. Berikut rangkuman redaksi soal progress proyek jalan, transportasi dan dukungan listrik di area ibu kota baru.

1. Rencana Pembangunan 3 Ruas Akses ke IKN

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga mengatakan, pihaknya akan membangun 3 ruas baru menuju ibu kota baru yang akan mengarah ke Balikpapan, Kecamatan Semboja, dan dari arah selatan.

“Kalau yang tahap awal diperkirakan misal dari Balikpapan ke Sepaku kurang lebih 60 km. Lalu juga ada dari daerah Semboja ke arah sana hanya sekitar 30-40 km. Mungkin juga dari arah selatan menuju ke kota itu sekitar 60 km,” jelasnya di Kementerian PUPR Februari silam.

Saat ditanya apakah ruas baru tersebut akan berbentuk jalan tol atau nasional, ia belum bisa memastikannya. Namun, untuk yang mengarah ke Balikpapan, ia membuka kemungkinan bahwa jalan tersebut akan terkoneksi dengan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam).

“Ruas baru, tapi bisa tol atau non-tol. Untuk yang 60 km kemungkinan tol, nyambung sama Tol Balsam,” sambung Danis.

 2. Rencana Pembangunan Transportasi

Dalam Raker bersama Komisi V DPR bulan Juni lalu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan, pembangunan dan pengembangan bandara APT Pranoto – Samarinda masih tetap masuk ke dalam proyek prioritas Kemenhub tahun 2021.

Pengembangan bandara tersebut menelan biaya Rp 113,96 miliar. Lalu, Kemenhub juga memprioritaskan pembangunan dan pengembangan pelabuhan serta fasilitas pendukungnya dengan nilai Rp 992,99 miliar.

Sebelumnya, pada tahun 2019, Kemenhub telah memiliki desain transportasi ibu kota baru. Di tahap awal, moda yang akan dikembangkan ialah bus. Kemudian, pemerintah juga berencana mengadopsi konsep ART, yang merupakan sistem angkutan massal berbasis smart mobility seperti di China.

Lalu pada Februari, Menhub Budi menyatakan ada beberapa negara yang berminat investasi di proyek transportasi ibu kota baru, yaitu Korea Selatan, Jepang dan China. Khusus bandara, pembangunannya akan dikerjasamakan dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

 3. Pembangunan Proyek Ketenagalistrikan

PT PLN (Persero) berhasil memberikan tegangan pertama (energize) pada 3 proyek infrastruktur ketenagalistrikan di Kalimantan Timur (Kaltim), yakni Gardu Induk (GI) 150 kiloVolt (kV) Embalut, GI 150 kV New Samarinda, dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Embalut–New Samarinda.

Jalur transmisi SUTT 150 kV Embalut–New Samarinda terdiri dari 45 tower dan terbentang sepanjang 28,4 kilometer sirkuit (kms) dari Kabupaten Kutai Kartanegara hingga Kota Samarinda.

Infrastruktur ketenagalistrikan ini nantinya akan menambah keandalan sistem Intekoneksi Kalimantan, khususnya pada sistem kelistrikan Mahakam.

“Perkuatan sistem ini dikarenakan adanya penambahan daya oleh pembangkit IPP yaitu PLTU Embalut Ekspansi 2 Kaltim – 4 dengan kapasitas 2×100 MW,” jelas General Manager PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Kalimantan Bagian Timur (Kalbagtim), Muhammad Ramadhansyah.

PLN juga kini tengah membangun jaringan transmisi 150 kV New Samarinda – Sambera dengan 67 tower yang terbentang sepanjang 40 kms.

Selain itu, PT PLN (Persero) juga terus menggarap pembangunan dua jaringan transmisi bertegangan 150 kV di Sulawesi Barat (Sulbar), yakni jaringan transmisi 150 kV Mamuju – Topoyo dan Topoyo – Pasangkayu.

Kedua jaringan transmisi yang memiliki lintasan sepanjang 181 Km ini juga dibangun dalam rangka meningkatkan keandalan dan pasokan listrik bagi Kota Palu dan sisi barat Sulteng pasca dilanda bencana gempa, tsunami dan likuifaksi 2018 silam.

Tak hanya itu, beberapa tapak tower pada sistem kelistrikan Sulteng yang ada saat ini, Jaringan Transmisi Poso-Sidera, berada dalam kondisi rawan terkena abrasi sungai. Ditambah dengan akses yang sulit untuk dilakukan pemeliharaan, maka kehadiran kedua jaringan transmisi tersebut akan menjadi back up guna menjaga pasokan listrik yang andal bagi Sulteng.

Diharapkan, proyek ini bisa segera rampung pada September 2020. Kedua jaringan yang memiliki 534 total tower itu disebutkan akan meningkatkan kualitas tegangan di Mamuju Tengah, mengingat kondisi tegangan yang tersedia saat ini masih sering drop ketika mencapai beban puncak. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.