Memahami Tapera, Jenis Potongan Gaji Baru dengan Sistem Mirip BPJS

oleh -
Ilustrasi maket rumah.

SETELAH Askes menjadi BPJS Kesehatan, sementara Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan, kini menyusul Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (Taperum) yang diubah menjadi Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Dengan pergantian nama ini, peserta Taperum bakal mencakup semua pekerja bergaji, dengan pendapatan bulanan minimal setara UMK (upah minimum kota/kabupaten). Yup, termasuk kalian-kalian para freelancer.

Sebenarnya rada telat kalau mempermasalahkan Tapera sekarang. Meski peraturan pemerintahnya baru disahkan 3 pekan lalu, pada 20 Mei 2020 dalam PP 25/2020 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat, dasar hukum Tapera sudah diundang-undangkan sejak 2016 lewat UU 4/2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat. Program ini targetnya berlaku secara nasional mulai 2021.

Walau telat, tetap penting buat menyadari apa sih Tapera ini. Sebab, persis BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan, Tapera wajib dibayarkan oleh PNS, karyawan swasta, dan pekerja lepas—mau dia WNI atau WNA—selama gajinya minimal setara UMK.

Apa sih tujuan Tapera?

Secara tertulis mulia banget, pengin memenuhi kebutuhan rumah laik dan terjangkau bagi pesertanya, yakni semua orang bergaji itu tadi. Tapera menghimpun dana masyarakat untuk tolong-menolong beli rumah.

Tapera bermaksud menjalankan amanat UUD 1945, salah satunya Pasal 28 H ayat 1, bahwa: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Di penjelasan selanjutnya kita bakal melihat bagaimana jaminan “berhak … bertempat tinggal” ini ditafsirkan menjadi “berhak bertempat tinggal bagi yang punya duit”.

Berapa besar potongannya?

Sejauh ini yang kita tahu besarnya 3 persen. Buat pekerja kantoran, 0,5 persennya dibayari kantor, sisa 2,5 persen dipotong dari gaji.

Dari tadi udah di- mention bahwa Tapera persis BPJS. Termasuk juga dalam hal keanggotaannya. Jadi ada keanggotaannya dibagi menjadi dua kelompok pesertam, yakni peserta yang “pekerja” dan yang “pekerja mandiri”.

“Pekerja” merujuk pada orang kantoran, (PNS, tentara, polisi, dan swasta) yang iurannya dipotong langsung sama kantor. Kalau “pekerja mandiri” adalah freelancer yang iurannya harus nyetor sendiri. Iuran disetorin ke Badan Pengelola (BP) Tapera paling lambat tanggal 10 tiap bulannya.

Jika sudah masuk jadi peserta Tapera, apakah otomatis dibikinin rumah?

Tidak. Sebelum masuk ke situ. Tapera ini bertujuan melakukan “pembiayaan perumahan” buat pesertanya, yang maksudnya adalah jadi tabungan ketika kita butuh beli, membangun, atau merenovasi rumah.

Ketika kita sudah jadi peserta, enggak otomatis bisa dapat pembiayaan rumah, sebab ada syaratnya (PP 25/2020 Pasal 38), yaitu:

  1. Mempunyai masa kepesertaan paling singkat 12 (dua belas) bulan;
  2. Termasuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah;
  3. Belum memiliki rumah; dan/atau menggunakannya untuk pembiayaan pemilikan rumah pertama, pembangunan rumah pertama, atau perbaikan rumah pertama.
Uang yang sudah disetorin bisa diambil lagi?

Bisa banget. Tapi, kalau kepesertaan Tapera-nya kelar. Syaratnya (PP 25/2020 Pasal 23):

  1. Telah pensiun bagi Pekerja;
  2. Telah mencapai usia 58 (lima puluh delapan) tahun bagi Pekerja Mandiri;
  3. Peserta meninggal dunia;
  4. Peserta tidak memenuhi lagi kriteria sebagai Peserta selama 5 (lima) tahun berturut-turut.

Ketika kepesertaan berakhir, simpanan kita bakal dibalikin dengan disertai bunga. UU dan PP Tapera memakai istilah pemupukan. Tapera jadi mirip Taspen. Sebab, enggak semua PNS atau pekerja lain ketika ikut Tapera nanti dalam kondisi enggak punya rumah atau butuh renovasi. Belum lagi pekerja WNA yang wajib ikut Tapera, tapi dalam UU juga dilarang punya properti di Indonesia.

Saat ini, terdapat lima manajemen investasi yang telah ditunjuk yang berasal dari swasta dan afiliasi dengan BUMN. Manajer investasi akan bekerja sesuai mandat dan arahan investasi. Instrumen investasi bisa berupa deposito, surat berharga negara (SBN), obligasi, dan saham perusahaan pengembang berkategori blue chip atau berpendapatan stabil dan beraset besar.

BP Tapera akan mengelola dana itu secara transparan. Sebagai investor, peserta Tapera bisa memonitor dana setiap saat. BP Tapera juga menjanjikan, bunga yang didapat peserta akan lebih bagus daripada bunga bank. Selain itu, peserta berkategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa mendapat pembiayaan dengan suku bunga kredit rendah.

Nah, sudah paham. Intinya, kita luruskan dulu niat bayar tapera ini karena kita patungan lagi buat negara. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.