Mau Lihat Pesut Mahakam Langsung? Yuk Jalan-Jalan ke Danau Semayang

Pesut Mahakam. (Dok Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin)

DANAU Semayang adalah danau terbesar kedua di Kalimantan Timur. Danau ini memiliki kekayaan hayati yang melimpah. Danau ini juga merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir bagi populasi pesut Mahakam atau lumba-lumba air tawar yang langka dan terancam punah.

Pesut Mahakam disebut punya ciri-ciri fisik berupa warna kulit keabu-abuan dan pucat, bentuk kepala membulat dan tidak terdapat moncong panjang, serta sirip punggung kecil berbentuk segitiga dan agak membulat di ujungnya. Makanannya adalah ikan-ikan kecil.

Namun sayang, kini kemunculan pesut Mahakam makin jarang. Hal ini disebabkan status keberadaan hewan ini semakin kritis. Sebab, terjadi penurunan kualitas habitat akibat aktivitas manusia.

Selain merupakan rumah buat pesut mahakam, di danau Semayang ini sering diadakan Festival Danau Semayang. Pusat festival adalah desa wisata Pela yang berada di pintu masuk Danau Semayang.

Mengutip catatan Edelweis Blogger, untuk bertualang ke danau Semayang, kita bisa mulai dari Kota Samarinda. Ada jalur darat dengan kendaraan dan jalur sungai dengan kapal.

Cara paling mudah adalah menggunakan kendaraan roda dua atau empat dari Samarinda yang memerlukan waktu 3-4 jam perjalanan menuju Kota Bangun. Sekarang sudah dilengkapi dengan papan plang penunjuk arah untuk memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa wisata Pela.

Setelah sampai di Kota Bangun, ikuti papan penunjuk arah menuju desa Liang tempat ferry penyeberangan enuju desa Sangkuliman dan Desa Pela. Jika ingin membawa kendaraan roda 2, maka harus menyeberang dengan kapal kelotok ke Desa Sangkuliman terlebih dahulu baru ke Desa Pela. Biaya penyeberangan Kendaraan roda 2 dengan kapal hanya Rp 5.000, untuk penumpang gratis naik kapal.

Jika tidak ingin membawa kendaraan roda 2, bisa menyewa langsung kapal dari Pokdarwis Desa Pela untuk menjemput di Desa Liang dengan Biaya Rp 150.000 dengan kapal yang berkapasitas 10 penumpang. Kendaraan roda 2 akan dititipkan di rumah warga Desa Liang.

Setelah sampai di desa wisata Pela yang menjadi pintu masuk ke danau Semayang, maka wisatawan bisa melihat pesut Mahakam hilir mudik di jam-jam tertentu pagi dan sore. Cukup duduk di deretan rumah apung atau keramba ikan milik warga desa Pela, kita bisa melihat rombongan kecil pesut Mahakam yang keluar masuk antara danau Semayang dan sungai Mahakam.

Jika ingin melihat lebih dekat dan mengabadikan foto pesut Mahakam yang langka dan berstatus terancam punah bisa menyewa kapal pokdarwis desa Pela. Motoris memiliki pengetahuan lokasi dan waktu kemunculan pesut Mahakam.

Motoris juga mengikuti aturan untuk melihat pesut dari jarak yang aman. Jadi siapkan kamera dengan lensa tele, karena pesut Mahakam adalah hewan yang agak susah untuk di foto.

Pesut Mahakam tidak seperti lumba-lumba laut yang bisa melompat keluar dari air. Pesut Mahakam hanya muncul untuk bernafas yang dapat dilihat dengan kemunculan sirip punggung, kepala dan ekornya.

Desa wisata Pela tidak hanya wisata tentang menikmati pesut Mahakam saja. Desa pela memiliki jalanan kayu yang panjang dan berpemandangan indah. Ada sentra pembuatan ikan asin. Ada jembatan warna warni. Ada museum nelayan Pela.

Pada musim tertentu, kita bisa mengikuti kegiatan memancing tradisional menggunakan tangan kosong bersama warga desa pela. Ada spot tanjung tamannoh yang menjadi lokasi perkemahan bagi wisatawan dan tempat terbaik untuk menikmati momen matahari tenggelam di cakrawala danau Semayang yang luas seperti laut air tawar. Mari berkunjung ke danau Semayang. (*)

More Stories
Patut Dicoba, 7 Menu Sahur Pertama Sederhana dan Praktis