Manggatang Sahur Lewu, Ritual Dayak Ngaju “Tolak” Virus Corona

Ritual Adat Dayak Ngaju untuk tolak bala penyakit. Foto: Thomas/AMAN Gunung Mas

BASIR, biasa dipanggil Mama Bapa Karitie, merapal doa dalam bahasa Sangen atau Sangiang. Aroma dupa kental terasa di rumah kayu tersebut. Doa ini biasa disebut batawur mantehau kare gana patahu.

Sementara, sejumlah ibu tampak sibuk menyiapkan masakan dan penganan, perlengkapan ritual. Beras, daun sirih, rokok linting, baram atau anding yaitu minuman tradisional Dayak turut disertakan. Ada juga daun sawang hijau atau daun andong/hanjuang hijau [Cordyline fruticosa] yang ditandai kapur sirih membentuk tanda silang, sebuah gong dan tampung tawar turut disertakan.

Beras dimasukkan ke sebuah sangku atau bokor terbuat dari tembaga. Di atasnya disusun daun sirih yang sudah diberi kapur dan pinang, juga rokok lintingan.

Sebelum ritual dimulai, sejumlah hewan disembelih, babi atau ayam. Darah dan dagingnya diambil sebagian sebagai persembahan/sesaji atau disebut ancak, yang selanjutnya ditempatkan di sebuah rumah kecil bernama keramat.

Basir merupakan seorang imam/pendeta Kaharingan, yang memimpin ritual doa. Tujuannya, meminta kepada Ranying Hatalla Langit atau Tuhan Semesta Alam untuk dijauhkan dari marabahaya dan segala penyakit yang datang dari luar.

“Tujuan Manggatang Sahur Lewu adalah ritual meminta kepada patahu ganan lewu [penjaga sahur kampung] untuk menghalau virus corona [COVID-19] yang tengah mewabah, agar pergi jauh,” terang Ketua AMAN Gunung Mas, Thomas, yang ikut prosesi ritual baru-baru ini.

Dengan ritual tersebut, kata Thomas, masyarakat Dayak Ngaju di Gunung Mas, berharap peres atau penyakit yang dibawa virus corona, yang mewabah sejak akhir 2019, tidak sampai ke derah mereka. “Jangan sampai ada korban jiwa.”

Selanjutnya, sahur yang sudah diisi sesaji dan didoakan itu digantung di rumah. Biasanya, di atas pintu masuk bagian dalam atau di atap rumah bagian dalam/ langit-langit, karena rata-rata rumah lama Suku Dayak tidak memiliki plafon. Menggantung atau menaikan sahur inilah yang disebut mampandai atau manggatang [menaikkan] Sahur Lewu [kampung].

Manggatang Sahur Lewu atau Bahajat [berhajat] ini diusulan bersama oleh Mantir Adat [orang yang duduk di majelis adat] Desa Tumbang Malahoi, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, ke pemerintah desa dan dilaksanakan di Huma Bakas yaitu rumah tua atau rumah model lama Dayak, rumah panggung menyerupai betang. Tidak kurang 250 kepala keluarga ikut ritual ini, atas biaya bersama.

Di Kabupaten Gunung Mas, kegiatan tidak hanya dilakukan di Desa Malahoi, sejumlah masyarakat Dayak Ngaju yang berada di desa lain seperti Tewah, Batu Puter, Jangkit, Sei Antai, dan Tumbang Jutuh, melakukan ritual tolak bala serupa.

Ritual

Manggatang Sahur Lewu merupakan ritual keagamaan umat agama kepercayaan Kaharingan, agama asli Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Awalnya Kaharingan disebut Kolonial Belanda sebagai agama Helo [dahulu], Hiden [heathens], kafir, Tempon Telun dan sebagainya.

Zaman pendudukan Jepang [dan direstui] diberikan nama khas oleh seorang Demang [kepala adat Dayak], Damang Yohanes Salilah, yaitu Kaharingan. Hingga sekarang, nama tersebut diakui dan diterima masyarakat, terutama pemeluknya.

Dalam perkembangannya, dibuatlah kitab suci, sebagai tuntunan umat Kaharingan yang disebut Panaturan [Tiwi Etika, dalam Jurnal Studi Kultural 2018, Volume IV No.1: 1-12]. Bersamaan dengan itu dibuat juga tata cara ibadah dan majelis agama.

Menurut Damang Y. Salilah sebelum ia memeluk agam Kristen, bahasa Sangen atau Sangiang, bahasa ini hanya digunakan dalam tuturan/mantra ritual di kepercayaan Kaharingan] yang berarti dengan sendirinya [by itself], secara lugas kata Kaharingan berarti kehidupan [KMA Usop: 1975].

Ada banyak ritual dalam Kaharingan, mulai ritual pernikahan, kelahiran, kematian dan kehidupan sehari-hari. Beberapa ritual ‘tolak bala’ dalam Kahariangan, diantaranya mambayar hajat, mampaindai sahur lewu, mampakanan sahur mamapas lewu.

Upaya ‘menolak bala’ dalam Suku Dayak tidak selalu dengan ritual yang kompleks seperti manggatang sahur lewu atau yang dipimpin langsung oleh Basir. Bisa juga dilakukan mandiri oleh orang Dayak, seperti menggantung daun Sawang yang dicacak [dirajah dengan kapur membentuk tanda salib atau +]. Daun tersebut digantung di pintu bagian luar. Cara ini dipercaya sebagai penolak bala bagi seluruh penghuni rumah, sehingga terhindar dari penyakit, terlebih virus corona yang mematikan.

Harmonisasi masyarakat dengan alam

Dalam keyakinan Kaharingan, manusia merupakan ciptaan Tuhan [Ranying Hatalla] dan pada suatu saat manusia akan kembali apabila Tuhan menghendakinya. Hal tersebut menjadi falsafah hidup sejak nenek moyang mereka. Keterangan ini sebagaimana dijelaskan Kadek Sukiada dalam jurnalnya tentang “Sistem Medis Tradisional Suku Dayak dalam Kepercayaan Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.”

Kadek juga menyebut, kondisi sehat dan sakit diyakini oleh Suku Dayak beragama Hindu Kaharingan, karena faktor-faktor alam, manusia dan roh-roh. Sistem keyakinan terhadap sehat sakit [barigas haban] dalam tradisi Dayak, tampak dalam sistem kosmologi Dayak yaitu tentang harmonisasi manusia dan alam serta pelestarian budaya.

Antropolog Universitas Palangka Raya, Sidik Rahman Usop, sebelumnya dalam artikel di Mongabay Indonesia berjudul “Begini, Cara Masyarakat Kalimantan Tengah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan” menjelaskan kearifan lokal masyarakat adat Dayak dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Menurut dia, bagi orang Dayak dikenal konsep batang garing yang bermakna keseimbangan. Batang garing merupakan hubungan yang terjabarkan dalam nilai-nilai masyarakat, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam serta hubungan sesama manusia.

Jika terjadi wabah, penyakit, atau bencana, hal tersebut dipercaya ada ketidakseimbangan yang sedang terjadi. Sehingga diperlukan ritual untuk meminta perlindungan dan petunjuk agar kondisi keadaan normal dan seimbang kembali.

Sementara persoalan yang berhubungan dengan lingkungan, orang Dayak mengenal manyanggar dan memapas lewu. Manyanggar adalah upacara adat ketika membuka lahan baru untuk menghormati roh leluhur yang mendiami kawasan tersebut.

Dalam pemahaman lebih luas, manyanggar adalah sebuah kepedulian dan kehati-hatian pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, sehingga orang tidak semena-mena memperlakukan alam.

“Dua konsep ini sudah populer di kalangan masyarakat Dayak, proses penyadarannya dilakukan terus menerus,” kata Sidik Usop.

Selain itu, dalam konsep keberlanjutan, masyarakat Dayak mengenal manyalamat petak danum, yaitu pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam yang arif terhadap lingkungan. Harapannya, kelangsungan kehidupan umat manusia pada masa akan datang terjamin. (Sumber: Mongabay.co.id)

More Stories
Begini Kronologi Pembunuhan Wanita Ditemukan Tewas dengan Tangan Terikat di Berau Kaltim