Mahulu ‘Zona Hijau’ COVID-19, Kuncinya Kejujuran Warga

Bupati Mahakam Ulu (mahulu), Bonifasius Belawan Geh SH memgenakan atribut APD menyempot disinfektan meja kelas dalam kegiatan penyemptoran massal, beberapa waktu lalu. (Dok/humas)

KABUPATEN Mahakam Ulu (Mahulu) menjadi satu-satunya daerah di Kalimantan Timur masih masuk zona hijau alias nihil positif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Hingga berita ini ditulis, tercatat ada 87 Orang Dalam Pemantauan (ODP) melakukan karantina mandiri. 73 orang diantarnya sudah selesai, sisa 14 orang lagi masih proses. Sedangkan terkonfirmasi positif dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) nihil alias zero.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Mahulu, drg Agustinus Teguh Santoso menuturkan zona hijau ini tak lepas dari semua pihak, Pemkab terus bekerja sama dengan banyak pihak berupaya mempertahankan zona ini. Termasuk warga Mahulu yang patuh dengan aturan yang ditetapkan.

“Ini berkat dukungan semua pihak, termasuk warga Mahulu yang ikut sama-sama melawan Corona, yakni mematuhi aturan dan imbauan pemerintah,” jelas Agustinus, Senin (27/4) dalam rilisnya.

Salah satu upaya Pemkab, yakni mengawasi ketat jalur masuk perbatasan dengan Kutai Barat. Termasuk meminta warga untuk tidak keluar rumah. Terlebih berpergian ke zona merah pandemi Covid-19.

Sementara, lanjut dia, Pemkab menjadikan Bumi Perkemahan Tana’ Mekaam Jaya di Long Melaham, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, sebagai lokasi Pusat Karantina Penanganan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Ini sebagai langkah untuk memutus rantai penyebaran penyakit ini.

“Meskipun Kabupaten Mahulu sampai saat ini masih zona hijau, langkah preventif perlu dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19,” ujar drg Agustinus.

Lokasi tersebut, lanjutnya, dipersiapkan seperti mengelola asrama atau penginapan, namun hanya khusus untuk pelaku dari perjalanan luar daerah, yakni bagi warga yang masuk ke Mahulu atau yang dikategorikan sebagai orang dengan pemantauan (ODP) terpilih. Bumi Perkemahan yang terletak di Kampung Long Melaham, Kecamatan Long Bagun ini memiliki lahan cukup luas.

Selain itu, ada bangunan yang bisa digunakan untuk tempat tinggal. Lokasinya pun jauh dari pemukiman penduduk. Adanya pusat karantina ini, pihaknya bisa melakukan pengawasan, pemantauan, pembinaan, bahkan pendampingan secara lebih baik dan terkontrol kepada masyarakat dengan menerapkan prinsip-prinsip sosial, termasuk prinsip physical distancing yang benar dalam pelaksanaannya.

Tujuan utama dari pengoperasian Bumi Perkemahan, lanjut dia, untuk menegakkan Instruksi Bupati Mahulu Nomor 188.6/3513/Dinkes P2KB-TU/III/2020, termasuk untuk menjaga rasa aman warga agar situasi tetap kondusif di tengah mewabahnya Covid-19.

“Terus terang, kondisi saat ini banyak masyarakat yang khawatir jika ada orang dari luar Mahulu yang melewati sejumlah kampung, apalagi jika orangnya berasal dari zona merah atau di daerah yang terpapar Covid-19,” katanya.

Ia mengatakan terkait aturan bagi warga yang akan ke luar dan masuk ke Kabupaten Mahulu, untuk pengawasan dan pengendalian di pintu masuk kabupaten akan diperketat mulai 1 Mei 2020.

“Ini dilakukan karena kita was-was sejak Kabupaten Kutai Barat (perbatasan Mahulu) dinyatakan sebagai zona yang terpapar virus Corona. Untuk itu, aturan ini harus segera kita sosialisasikan karena sesuai instruksi Bupati Mahulu, per tanggal 1 Mei 2020 arus ke luar dan masuk orang ke Mahulu harus diperketat,” ucap Teguh
  
Sementara, Danramil 03/Long Bagun, I Wayan Sudiarsa menuturan, kerja sama ini patut dipertahankan. Dia dan pihaknya pun berulang kali mensosialisasikan ke masyarakat soal pentingnya kejujuran. Yaitu, warga diminta jujur terhadap riwayat perjalanan dan kesehatan diri serta keluarga. Ini sebagai upaya memutus mata rantai virus Corona.

“Terpenting jujur. Kami terus menekankan agar warga Mahulu jujur, ini kuncinya. Dia pun mengajak masyarakat bersama-sama jujur dan jika terpaksa keluar kota, diupayakan melapor dan karantina,” jelas I Wayan.
 
Dia menyinggung, banyak kasus orang terpapar Covid-19 berawal dari ketidakjujuran masyarakatnya. Sebab Ketidakjujuran pasien ketika berobat atau mengenai kronologi penyakit, dianggap menjadi salah satu pemicu semakin banyaknya perawat atau dokter yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia.

Di saat pasien tidak jujur dengan apa yang terjadi dengan kondisi tubuh mereka, maka diagnosis yang diberikan tidak tepat sasaran penyakit sebenarnya, termasuk diagnosis terkait penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona bernama SARS-CoV-2 ini.

Akibatnya, selain diagnosis tidak dapat ditegakkan dengan tepat dan penanganan kepada pasien juga tidak tepat guna, dokter atau tim medis yang merawat juga ikut kena imbasnya karena dapat tertular atau terinfeksi virus saat melakukan perawatan terhadap pasien.

“Jadi, kalau ada warga mengetahui ada orang baru datang dari luar Mahulu tolong dilaporkan, sehingga kami bisa cepat datang dan memeriksa kesehatannya,” imbau Wayan.
 
Selain kejujuran, sebagai bentuk pencegahan, pihaknya bersama kepolisian gencar mengimbau warga untuk terapkan jaga jarak. Lalu, rutin penyemprotan disinfektan pada fasilitias umum hingga rumah warga.

“Sekarang adalah tahap pencegahan. Ini harus dipertahankan,” pungkas dia. (*)

More Stories
Wali Kota Neni Apresiasi Pupuk Kaltim Gencar Swab Test Massal