Pranala.co, BONTANG – Ada semangat baru di Kelurahan Api-Api, Bontang Utara. Pemerintah kota merancang kegiatan Car Free Night (CFN) di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Idenya sederhana: membuka ruang publik malam hari, memberi panggung untuk UMKM, dan menghadirkan suasana kota yang lebih hidup.
Namun, ide semenarik itu juga menyimpan kekhawatiran. Terutama dari pelaku usaha yang sudah lama bertahan di jalur padat aktivitas tersebut.
Lurah Api-Api, Hadha Sulistiyono, paham betul semangat itu. Tapi ia juga tak ingin gebrakan ini justru melukai pelaku usaha lama.
“Kita dukung UMKM tumbuh. Tapi jangan sampai toko yang sudah bertahun-tahun malah tertutup stan,” kata Hadha saat ditemui, Selasa (5/8).
Solusinya, penataan lokasi. Ia menyarankan agar stan tidak membelakangi toko yang sudah ada. Semuanya harus terlihat, semuanya harus untung.
Ruas Jalan Dibatasi, Parkir Diatur
Awalnya, seluruh ruas Jalan Ahmad Yani direncanakan ditutup. Tapi setelah survei, Hadha mengusulkan hanya sebagian yang digunakan. Mulai dari dealer Honda hingga Toko Buku Aziz.
“Sisanya jadi kantong parkir. Bahkan lahan kosong sekitar bisa dimanfaatkan setelah koordinasi dengan pemiliknya,” jelasnya.
Bagi toko yang punya lahan parkir sendiri, boleh mengelola mandiri. “Supaya mereka juga dapat rezeki dari keramaian ini,” tambahnya.
Kelurahan juga menggandeng Dishub Bontang untuk mencegah parkir liar dan memastikan ketertiban.
Soal Sampah, Tidak Ada Toleransi
Sampah jadi isu serius. DLH sudah digandeng untuk menurunkan truk sampah dan petugas khusus selama CFN. Tapi tanggung jawab utama tetap di pelaku UMKM.
“Stan harus sediakan tempat sampah sendiri. Mereka wajib angkut ke truk. Kalau tidak, kita blacklist dari kegiatan berikutnya,” tegas Hadha.
Agar tak sekadar omongan, kelurahan akan pasang CCTV di beberapa titik strategis. Tujuannya: keamanan dan pengawasan sampah.
“Kalau ada yang buang sembarangan, apalagi di depan toko orang, kita viralkan,” ujarnya setengah serius.
Hadha mengaku sudah keliling menemui pelaku usaha satu per satu. Ia ingin tahu langsung suara dari lapangan.
Beberapa masukan sudah masuk. Misalnya dari Apotek Kimia Farma, yang khawatir akses pasien terganggu. Solusinya, jalur alternatif dibuka di samping apotek.
Hal serupa juga sedang dicari untuk dua usaha cuci mobil yang berada di ruas jalan yang sama.
“Kalau CFN ternyata malah bawa banyak masalah, kami siap rekomendasikan evaluasi bahkan penghentian,” katanya jujur.
Pelaku usaha lama yang ingin ikut meramaikan CFN juga dipersilakan. Tapi ada syarat.
“Silakan manfaatkan halaman sendiri. Tapi jangan pakai trotoar atau badan jalan. Harus tetap rapi dan bersih,” pesan Hadha.
Ia menegaskan: ini bukan ajang rebutan rezeki, tapi kolaborasi antar pelaku ekonomi kota.
Harapannya, Car Free Night tak berhenti jadi agenda Sabtu malam. Tapi jadi ikon baru Kota Bontang. Tempat orang jalan-jalan, berbelanja, bercengkerama, bahkan tampil.
“Kami hanya jembatan. Suara warga kami dengar, lalu kami sampaikan ke pimpinan,” tutup Hadha.
Evaluasi akan dilakukan setiap selesai kegiatan. Bila masih banyak keluhan, akan ada perubahan. Bila sukses, CFN bisa tumbuh jadi ruang sosial, ekonomi, dan budaya yang dibanggakan bersama.














