Lockdown Ala China yang Sukses Lawan Wabah Corona

Wuhan yang kini bangkit dari wabah corona (Foto: AP Photo)

VIRUS corona (COVID-19) yang diyakini berasal dari Wuhan, China kini tengah merebak di berbagai penjuru dunia. Kini China bukan lagi negara penyumbang kasus terbanyak setelah melakukan karantina (lockdown) kota Wuhan dan sekitarnya selama dua bulan.

Masih ingat di benak kita bagaimana wabah COVID-19 menyebar di China. Akhir tahun lalu pada bulan Desember, puluhan orang di kota Wuhan dilaporkan mengidap pneumonia misterius.

Tepat pada 31 Desember 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penyebab pneumonia tersebut adalah virus corona jenis baru yang kemudian dinamai nCoV kala itu.

Korban jiwa pertama adalah seorang kakek berusia 61 tahun yang diketahui pernah mengunjungi pasar seafood Huanan di Wuhan sebelum dinyatakan mengidap pneumonia.

Beberapa kasus lain yang dilaporkan juga memiliki kemiripan di mana pasiennya pernah berkunjung ke pasar seafood yang juga menjual hewan liar seperti ular dan kelelawar tersebut. Semenjak saat itu, pasar tersebut diyakini menjadi episentrum penyebaran wabah corona di China.

Tiap harinya jumlah orang yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 terus bertambah. Awalnya kasus hanya ditemukan di Wuhan. Namun lambat laun kasus juga ditemukan di tempat lain di China.

Pada 20 Januari 2020, jumlah kasus yang dilaporkan di China mencapai lebih dari 200. Dua hari berselang jumlah kasus di China mencapai lebih dari 500. Tepat pada 23 Januari pemerintah China memutuskan untuk mengkarantina Wuhan.

Selang beberapa jam setelah pengumuman, transportasi dari dan ke kota Wuhan ditutup tanpa pengecualian. Bahkan untuk keadaan darurat medis dan pribadi pun dilarang masuk atau meninggalkan Wuhan.

Kala itu sekolah dan universitas sudah libur, mengingat waktu terjadinya wabah menjelang tahun baru China (imlek). Semua toko tutup kecuali mereka yang menjual makanan atau obat-obatan. Kendaraan pribadi dihalangi dari jalan tanpa izin khusus, dan sebagian besar angkutan umum tak beroperasi. Jalanan kota Wuhan pun kosong dan sunyi.

Awalnya orang-orang diizinkan keluar dari rumah mereka. Namun karena lonjakan kasus semakin signifikan, pembatasan segera diperketat. Beberapa wilayah bahkan membatasi kunjungan untuk satu anggota keluarga setiap dua hari untuk membeli kebutuhan. Sementara yang lain melarang penduduk untuk pergi, mengharuskan mereka memesan makanan dan kebutuhan lain dari kurir.

Setelah itu, kebijakan itu menjadi lebih agresif. Petugas kesehatan pergi dari rumah ke rumah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Bagi siapa pun yang sakit yang sakit dipaksa untuk melakukan isolasi diri.

Tahapan Lockdown

Langkah lockdown atau penguncian suatu kawasan untuk mencegah keluar-masuk manusia dan sesuatu lainnya di China dianggap sebagai yang paling dramatis dan kontroversial. Dengan langkah ini, puluhan juta orang terkunci, tak dapat bergerak dengan bebas. Hal ini pun dinilai sebagai sebuah karantina semu terbesar dalam sejarah manusia.

Kurang dari dua bulan usai  lockdown diberlakukan di China, pejabat kesehatan negara itu mengeklaim bahwa langkah ini berhasil. Pada Kamis (12/3) lalu, Negeri Tirai Bambu mengumumkan telah melewati puncak epidemi virus corona jenis baru, menyusul jumlah kasus per hari yang terus menurun. Pada hari itu, hanya ada delapan kasus baru, jumlah terendah sejak Covid-19 diumumkan ke publik.

“Pemerintah China akan diberikan ucapan selamat atas tindakan luar biasa yang diambil untuk mengatasi wabah ini meskipun dampak sosial dan ekonomi yang parah dari tindakan itu terhadap rakyat di negara itu,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Januari lalu saat lockdown dilaksanakan Pemerintah China.

Keputusan me-lockdown kota Wuhan sejak 23 Januari 2020 pukul 10.00 pagi waktu setempat dilakukan secara bertahap. Tidak serta merta melarang semua warga keluar rumah dan membatasi mobilitas mereka secara spontan.

Awalnya pemerintah menerapkan lockdown secara longgar. Warga masih diperkenankan keluar rumah memenuhi kebutuhannya tanpa harus mendapatkan izin dari otoritas setempat. Kecuali jika pergi lintas distrik, mereka harus mendapat izin otoritas setempat.

Imbauan untuk tetap tinggal di rumah dan menjauhi keramaian selalu disampaikan pemerintah setiap hari. Karena imbauan itulah, warga memilih tinggal di dalam rumah dan hanya keluar rumah seperlunya saja guna menerapkan self-isolation.

Pada awal masa lockdown, taksi online dan taksi konvensional masih beroperasi tetapi jumlah armada dikurangi. Keberadaan taksi pada masa awal lockdown sangat membantu warga yang terjebak karena tidak mengetahui informasi lockdown. Setidaknya mereka masih bisa kembali ke rumahnya masing-masing.

Dan, dua hari kemudian layanan taksi mulai dihentikan. Selanjutnya, kendaraan roda dua atau tiga baik yang elektrik maupun berbahan bakar dilarang melintas di jalan utama, kecuali petugas tertentu dan kurir delivery order berbasis aplikasi seperti Eleme dan Waimai.

Awal Februari yang merupakan tahap berikutnya, otoritas setempat mulai melakukan pengetatan terhadap mobilitas warga Wuhan. Masing-masing keluarga hanya diperbolehkan keluar rumah seminggu sekali secara bergantian. Itu pun hanya salah satu anggota keluarga yang diperbolehkan keluar untuk berbelanja kebutuhan.

Di masing-masing komplek perumahan terdapat petugas yang mencatat jadwal keluar rumah warga. Patroli petugas keamanan guna mengontrol aktivitas warga dilakukan secara intens.

Terakhir, pihak otoritas lokal benar-benar membatasi mobilitas warga di kota Wuhan. Mereka hanya diperkenankan berbelanja melalui bantuan volunteer yang telah disediakan. Kebutuhan sayur mayur serta bahan makanan disuplai oleh pemerintah melalui relawan yang ada. Semua kebutuhan warga selain sayur mayur dan bahan makanan bisa disampaikan kepada volunteer untuk dibelanjakan.

Lockdown yang diterapkan pemerintah China terlihat sangat terstruktur, sistematis, dan tetap mengedepankan sisi humanis. Hal ini mencerminkan bahwa China memiliki sistem mitigasi bencana yang baik dan dapat dieksekusi dengan cepat tanpa banyak debat.

Selain me-lockdown Provinsi Hubei, pemerintah China juga mengeluarkan kebijakan men-shutdown area publik seperti sekolah, universitas, dan tempat-tempat wisata di seluruh daratan China, meniadakan semua kegiatan yang bersifat keramaian, serta menerapkan pembatasan perjalanan.

Menurut analisis media CNN, sekitar 780 juta warga China terdampak aturan pembatasan perjalanan yang diterapkan pemerintah China.

Pada masa lockdown dan shutdown inilah, pemerintah China secara aktif dan proaktif mendeteksi, mengetes, merawat, mengisolasi, melacak, dan menggerakkan masyarakatnya untuk bersatu padu melawan virus corona.

Dr. Bruce Aylward, penasihat senior WHO, memuji kecepatan pemerintah China dalam mengambil tindakan pengendalian dan pencegahan dalam menangani wabah virus corona yang menurutnya pantas untuk dicontoh negara lain.

Tak Saling Menyalahkan

Di Wuhan, warga dengan sadar mentaati peraturan pemerintah dan tidak saling menyalahkan. Kesadaran warga bahwa virus corona adalah ancaman bersama mendorong mereka untuk mentaati imbauan-imbauan pemerintah dalam upaya bersatu padu melawan corona.

Social distancing mulai terlihat sejak hari pertama kota Wuhan di-lockdown. Sekalipun pada awalnya mereka masih diperbolehkan keluar rumah, tetapi warga dengan inisiatif pribadi mulai menjaga jarak satu sama lain.

Pertokoan, basement perumahan, dan taman-taman yang biasanya menjadi spot berkumpulnya banyak orang di Wuhan terlihat sepi setelah munculnya imbauan untuk menjauhi keramaian. Dengan tertib warga mentaati imbauan pemerintah dan saling mengingatkan. Karena kesadaran warga tersebut, sanksi sosial muncul bagi mereka yang tidak mentaati aturan pemerintah.

Selain itu, warga Wuhan diwajibkan menggunakan masker jika keluar rumah. Khusus untuk warga Provinsi Hubei, pembelian masker secara online melalui aplikasi belanja hanya perlu membayar ongkos kirim.

Tingginya kesadaran warga Wuhan dalam menerapkan self-isolation di dalam rumah memudahkan petugas kesehatan melalukan identifikasi, pengetesan, dan pelacakan pasien-pasien positif corona. Sistem jemput bola sangat efektif dilakukan dengan mendatangi komplek perumahan-perumahan warga dengan mengetuk setiap pintunya.

Jika ada yang terbukti terinfeksi dan tidak mau diisolasi dan dirawat di rumah sakit, maka tindakan tegas akan diberlakukan oleh pihak keamanan setempat. Karena, penderita tidak hanya membahayakan bagi dirinya saja tapi juga bagi orang lain di sekelilingnya.

Ma Guoqiang, Sekretaris PKC Kota Wuhan, menyampaikan per 9 Februari 2020 pemerintah kota Wuhan telah memeriksa 3371 komplek perumahan yang setara dengan 4,21 juta pintu rumah dengan total 10,59 juta jiwa yang berhasil diperiksa. Angka ini telah mencapai 98,6% dari total jumlah penduduk kota Wuhan.

Selain itu, gerakan solidaritas mulai bermunculan di media sosial China sejak awal lockdown diterapkan oleh pemerintah China. Tagar “Wuhan Jiayou” atau Semangat Wuhan, secara masif tersebar di media-media di China. Pada malam tanggal 27 Januari 2020, warga Wuhan melakukan gerakan solidaritas membuka jendela rumah dan meneriakkan kata “Wuhan Jiayou” yang suaranya terdengar bersahut-sahutan di seantero kota.






(Disadur dari berbagai sumber)

More Stories
Data Pasien Bakal Dibuka jika Transmisi Lokal Terjadi di Samarinda