SAMARINDA, Pranala.co — Kota tua di tepi Sungai Mahakam ini mencatat sejarah baru. Samarinda resmi menjadi kota dengan alokasi kuota haji terbesar se-Kalimantan Timur (Kaltim) pada musim haji 2026, dengan 1.024 jemaah yang akan berangkat ke tanah suci. Angka ini melonjak drastis—hampir dua kali lipat—dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang stagnan di kisaran 500-an jemaah.
Lonjakan kuota ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari perubahan kebijakan fundamental yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: sistem pembagian kuota kini berbasis daftar tunggu (waiting list), bukan lagi proporsi jumlah penduduk muslim per wilayah.
Plt. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kaltim, Mohlis Hasan, menjelaskan logika di balik perubahan ini. Sistem lama—yang menghitung kuota berdasarkan jumlah penduduk muslim—seringkali tidak mencerminkan realitas antrean jemaah yang telah menunggu puluhan tahun.
“Ini adalah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Pak Presiden Prabowo yang diimplementasikan dengan mengambil kuota berdasarkan waiting list. Implikasinya, jemaah yang berangkat menjadi lebih banyak. Samarinda yang biasanya hanya 500-an, sekarang menjadi 1.024 jemaah,” ujar Mohlis di Samarinda, Senin (6/4/2026).
Metode baru ini menggunakan sistem tarik garis lurus secara nasional: jemaah dipanggil berdasarkan urutan pendaftaran, tanpa diskriminasi wilayah. Hasilnya, antrean yang semrawut berubah menjadi transparan dan terukur.
Perubahan sistem membawa kabar gembira bagi ribuan calon jemaah Samarinda yang telah lama mengantre. Masa tunggu yang selama ini menjadi momok—mencapai 36 hingga 40 tahun—berhasil dipangkas menjadi 26 tahun.
“Dulu masa tunggu di Samarinda hampir 40 sampai 36 tahun, sekarang sudah terpangkas menjadi 26 tahun. Berdasarkan data, jemaah yang berangkat tahun ini rata-rata adalah mereka yang melakukan setoran awal pada tahun 2012,” jelas dia.
Penurunan 10-14 tahun ini merupakan pencapaian tercepat dalam sejarah penyelenggaraan haji di Kalimantan Timur, membuka harapan bagi generasi pendaftar baru untuk berangkat dalam waktu yang lebih terjangkau.
Tahun 2026 menandai tonggak sejarah sebagai penyelenggaraan perdana di bawah naungan Kementerian Haji dan Umrah, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Alih-alih menimbulkan kekacauan transisi, restrukturisasi ini justru mempercepat kesiapan administratif.
Mohlis Hasan menegaskan bahwa dokumen jemaah telah 100 persen lengkap, mulai dari paspor hingga administrasi pendukung. Inovasi signifikan terlihat dalam distribusi kartu Nusuk—yang biasanya baru diterima di Mekkah—kini direncanakan dibagikan di Embarkasi Balikpapan sebelum keberangkatan.
“Ini adalah tahun pertama yang kami selenggarakan sepenuhnya di bawah Kementerian Haji dan Umrah. Berdasarkan pengalaman kami, tahun ini adalah yang paling cepat dalam penyelesaian dokumen. Semuanya sudah tersusun rapi, bahkan kartu Nusuk insyaallah akan dibagikan di embarkasi nanti,” katanya.
Pemerintah juga melakukan revamping total terhadap sistem layanan di Arab Saudi. Evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan delapan syarikah (penyedia layanan) pada 2025 menciptakan fragmentasi koordinasi yang berdampak pada kualitas pelayanan jemaah.
Tahun 2026, jumlah syarikah dipersempit menjadi hanya dua entitas utama, dengan target ideal satu syarikah per embarkasi. Langkah ini bertujuan menghilangkan permasalahan klasik: jemaah satu kloter yang terpecah di enam hotel berbeda dan kesulitan koordinasi saat wukuf di Arafah.
Terkait situasi geopolitik di Timur Tengah yang saat ini tengah memanas, pihak kementerian memastikan bahwa hingga saat ini jadwal pemberangkatan tetap berjalan sesuai rencana tanpa ada penundaan. Jemaah asal Samarinda sendiri dijadwalkan masuk ke embarkasi pada 26 Mei dan akan diberangkatkan menuju tanah suci pada 27 Mei 2026.
Menjelang keberangkatan, calon jemaah diwajibkan mengikuti bimbingan manasik sebanyak lima kali di tingkat kabupaten/kota. Mohlis menekankan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ibadah berat yang menuntut kekuatan batin dan spiritual.
Ia mengingatkan jemaah untuk menjaga kesehatan fisik dan mempersiapkan mental menghadapi napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim AS.
”Haji itu sandarannya langsung kepada Allah, sebagaimana perintah untuk menyempurnakan haji dan umrah semata-mata karena Allah. Ini adalah ibadah yang berat dan memerlukan proses serta kekuatan mental. Kami berharap manasik ini memberikan kepercayaan diri bagi jemaah dalam melaksanakan ibadah nantinya,” pungkasnya. (TIA)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















