Pranala.co, SAMARINDA — Menteri Sosial Republik Indonesia (Mensos RI) Saifullah Yusuf kembali melanjutkan rangkaian kunjungan kerjanya di Kalimantan Timur (Kaltim). Usai berdialog dengan orang tua dan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 57 Samarinda sehari sebelumnya, Gus Ipul — sapaan akrabnya — meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Kaltim di SMA Negeri 16 Samarinda, Rabu (8/10).
Mensos ingin memastikan proses pembelajaran di sekolah baru itu berjalan baik. Ia juga memberi semangat langsung kepada para siswa dan tenaga pendidik yang tengah memulai masa adaptasi.
“Masa pengenalan di Sekolah Rakyat tidak cukup dua minggu seperti sekolah umum. Idealnya dua sampai tiga bulan. Waktu yang lebih panjang membuat siswa, guru, dan kepala sekolah lebih akrab dan saling memahami,” ujar Gus Ipul di hadapan guru dan siswa.
Gus Ipul menekankan pentingnya kedisiplinan di tahap awal pendidikan. Ia menyebut, keterlibatan TNI dan Polri dalam pendampingan Sekolah Rakyat menjadi bagian penting untuk menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab sejak dini.
Menurutnya, masa awal adaptasi memang tak selalu mudah. “Ada anak yang kangen rumah atau belum betah. Itu hal yang wajar,” ucapnya.
Namun berdasarkan pengalaman di daerah lain, Gus Ipul yakin, setelah beberapa hari anak-anak akan mulai terbiasa. “Biasanya, mereka malah jadi lebih disiplin, tertib, dan nyaman belajar,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan para guru agar tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik dengan hati. “Empati, kesabaran, dan kasih sayang adalah kunci utama menciptakan lingkungan belajar yang positif,” tegasnya.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Kaltim, Rabiatul Adawiya, menjelaskan bahwa STR 58 memiliki dua jenjang pendidikan, yaitu SD dan SMA, dengan total 49 siswa.
“Untuk SMA, jumlah siswa sudah penuh. Sedangkan SD baru satu rombongan belajar dengan 24 siswa. Target kami dua rombel, masing-masing 25 siswa,” jelas Rabiatul.
Para siswa datang dari berbagai daerah, mulai dari Berau, Kutai Barat, hingga Sangatta. “Sebagian besar bukan dari Samarinda, karena kami sekolah binaan Pemerintah Provinsi Kaltim,” tambahnya.
Dari sisi usia, siswa SD dibagi dua kelompok: kelas kecil (6–9 tahun) dan kelas besar (10–12 tahun). Sementara itu, siswa SMA berusia antara 14 hingga 20 tahun. “Siswa tertua kami berusia 18 tahun,” katanya.
Fasilitas Lengkap dan Pengajar Terlatih
STR 58 memiliki asrama nyaman dengan kamar tidur, toilet, kamar mandi, serta perlengkapan belajar lengkap seperti meja dan kursi.
“Setiap kamar berisi empat siswa. Tapi ada yang hanya tiga agar lebih nyaman,” jelas Rabiatul.
Sekolah ini juga didukung 14 guru yang tinggal di asrama dan sudah melalui seleksi nasional. Dua di antaranya khusus mengajar di SD, sementara yang lain menangani mata pelajaran di dua jenjang sekaligus.
Selain guru, ada enam wali asuh yang mendampingi siswa, terutama anak-anak SD yang baru kembali bersekolah setelah lama putus belajar.
“Kami punya guru yang sabar dan penuh dedikasi. Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menjaga dan membimbing anak-anak,” tutur Rabiatul.
Sekolah Rakyat diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk kembali mendapatkan kesempatan belajar dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















