KPK Dalami Keterkaitan Wakil Ketua DPR RI dalam Dugaan Suap Rita Widyasari

KPK menetapkan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin sebagai tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara di Pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah (Pemkab Lamteng).

pranala.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Wakil Ketua DPR RI, Azis Syamsuddin, sebagai tersangka dugaan kasus korupsi. Azis diduga terlibat dalam suap perkara penyelidikan kasus korupsi di Lampung Tengah. Ketua KPK Firli Bahuri mengumumkan penetapan itu dalam konferensi pers, Sabtu dini hari, 25 September 2021.

Namun, ada kasus lain yang dikaitkan dengan Azis Syamsuddin, yaitu Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari disebut menyuap mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Stepanus Robin Pattuju.

Suap itu diduga dilakukan agar Robin membantu menyetop pengusutan kasus dugaan pencucian uang Rita. Robin disebut mengenal Rita dari Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin. Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan pihaknya tengah mencari bukti keterlibatan Azis.

“KPK itu bekerja tidak bisa lepas dari ketentuan hukum,” kata Firli di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Sabtu, 25 September 2021.

Firli memastikan Azis bakal dijerat hukum bila ada bukti. Lembaga Antikorupsi menegaskan tidak pandang bulu menjerat pihak-pihak yang terlibat korupsi.

“KPK harus bekerja dasarnya di situ (minimal alat bukti),” ujar Firli.

Dalam surat dakwaan Robin, jaksa membeberkan peran mantan penyidik KPK itu di kasus Rita. Rita yang juga politikus Golkar bisa mengenal Robin karena bantuan Azis Syamsuddin.

“Bahwa pada Oktober 2020, terdakwa (Robin) dikenalkan kepada Rita Widyasari oleh Azis Syamsuddin,” kata jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK Lie Putra Setiawan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin, 13 September 2021 lalu.

Seminggu setelah perkenalan itu, Robin datang ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) klas IIA Tangerang untuk menemui Rita. Robin ditemani pengacara Maskur Husain.

“Dan menyampaikan dirinya merupakan penyidik KPK dengan memperlihatkan kartu identitas,” ujar Lie.

Robin dan Maskur saat itu meyakinkan Rita bisa menutup perkara di KPK. Saat itu, Rita tengah berperkara dalam kasus pencucian uang.

Jaksa menuturkan saat itu, Robin dan Maskur meyakinkan Rita bahwa pihaknya dapat mengurus pengembalian aset-aset yang disita KPK terkait TPPU dan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Rita Widyasari.

Keduanya pun meminta imbalan Rp10 miliar. Dengan imbalan sejumlah Rp10 miliar dan apabila pengembalian aset berhasil, Maskur meminta bagian 50 persen dari total nilai aset.

Maskur menyampaikan bahwa lawyer fee sejumlah Rp 10 miliar tersebut lebih murah daripada yang biasanya dia minta, dimana hal tersebut bisa karena ada terdakwa yang sebagai penyidik KPK bisa menekan para hakim PK, dan akhirnya Rita Widyasari setuju memberikan kuasa kepada Maskur Husain.

Seusai bertemu dengan Stepanus, Rita kemudian menghubungi Azis Syamsuddin. Stepanus pun berharap mendapat uang dari Rita senilai Rp5,2 miliar secara bertahap.

Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin Tersangka Korupsi

KOMISI Pemberantasan Korupsi resmi mengumumkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI, Azis Syamsuddin, berstatus tersangka dalam perkara dugaan suap Stepanus Robin Pattuju. Suap itu diduga untuk mengurus perkara korupsi Kabupaten Lampung Tengah yang diperiksa KPK.

“Saudara AZ Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2029 tersangka terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi pemberian hadiah atau janji dalam penanganan perkara yang ditangani KPK di Kabupaten Lampung Tengah,” kata Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers, Sabtu dini hari, 25 September 2021.

Firli mengatakan KPK menangkap paksa Azis di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Firli menyebut operasi penangkapan itu dipimpin langsung oleh Direktur Penyidikan Karyoto.

“Kegiatan dalam rangka pengumpulan bahan keterangan dan barang bukti tadi telah menemukan bukti permulaan cukup sehingga kami tingkatkan ke tahap penyidikan dan pagi hari ini kami sampaikan kepada segenap anak bangsa bahwa saudara AZ Wakil Ketua DPR RI periode 2019-2024 sebagai tersangka,” kata Firli Bahuri.

Firli Bahuri, menjelaskan konstruksi kasus perkara detil yang dilakukan Azis beserta sangkaanya. Pada bulan Agustus 2020, AZ yang ditengarai sebagai Azis Syamsuddin, menghubungi SRP yang ditengarai sebagai AKP Stephanus Robin Pattuju eks penyidik KPK, untuk meminta tolong mengurus perkara/kasus yang menyeret dirinya beserta kader Golkar lainnya AG yang ditengarai sebagai Aliza Gunado, yang sedang dilakukan penyelidikannya oleh KPK.

Azis dan AG sendiri diduga melakukan suap-menyuap terhadap AKP Stephanus Robin Pattuju dan Advokat MH yang ditengarai sebagai Husain Maskur sebagai rekan dari SRP, untuk menutup kasusnya.

Aliza Gunado merupakan kader Partai Golkar yang pernah menjabat sebagai mantan Wakil Ketua Umum PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).

KPK menduga Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin (AZ) memberikan suap kepada mantan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju senilai Rp3,1 miliar.

Adapun Kasus Azis dan AG diduga membantu menaikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Lampung Tengah dari Rp 23 miliar, menjadi Rp 100 miliar. Saat itu DAK Lampung Tengah 2017 turun sebesar Rp 30 miliar dengan fee Rp 2,5 miliar untuk Aziz Syamsuddin yang diberikan lewat AG.

Atas dasar itulah, Azis berusaha mengamankan dirinya beserta AG, dengan upaya menyuap SRP yang kala itu tengah menyelidiki kasusnya sebagai eks penyidik KPK, dengan memberikan uang sebanyak Rp 3,1 miliar, dari nilai sebelumnya Rp 4 miliar yang sudah disepakati.

Pertemuan keduanya pun antara Azis dan SRP juga sempat dilakukan di kediaman Azis Syamsuddin di jakarta Selatan pada Agustus 2020.

SRP yakni AKP Stephanus Robin Pattuju eks penyidik KPK dan MH yang sebagai Advokat Husain Maskur kini sudah ditetapkan tersangka dan dilakukan penahanan lebih dahulu.

Atas kasus itu, Azis Syamsuddin disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. **

 

 

Penulis: Redaksi

More Stories
Indonesia Terbitkan Surat Utang Dolar Terbesar Sepanjang Sejarah, Nilainya US$ 4,3 M