Kepala Lembaga Eijkman: Covid-19 Bukan Penyakit Aib

Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Rahid / Lokadata.id

PANDEMI Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) semakin menggila. Sejak dideteksi muncul pada Desember 2019 lalu di Wuhan, Cina, penyakit ini telah menyebar ke hampir seluruh negara.

Hingga berita ini dirilis, sudah ada 514 pasien positif Covid-19 di Indonesia. Jumlah ini tentu membuat pemerintah kalang kabut. Penambahan fasilitas kesehatan dilakukan. Pemerintah juga akhirnya membuka akses bagi berbagai lembaga untuk turut memeriksa spesimen orang-orang yang diduga terpapar Covid-19.

Salah satu lembaga yang diberi wewenang untuk memeriksa spesimen Covid-19 adalah Lembaga Eijkman. Namanya diambil dari Christiaan Eijkman, penerima nobel, ilmuwan Belanda yang temuannya tentang penyakit beri-beri pada akhir abad-19 menuntun penemuan vitamin.

Lembaga ini pernah terlibat aktif dalam penelitian terkait wabah dan pandemi lain yang pernah ada di dunia, seperti flu burung serta SARS. Kini, mereka juga punya tim riset khusus untuk meneliti virus korona tipe baru.

Sejak didirikan tahun 1888, lembaga ini aktif dalam penelitian di bidang biologi molekuler untuk kesejahteraan manusia, genetika populasi, dan penyakit genetik. Lembaga ini juga aktif dalam penelitian penyakit infeksi, seperti malaria, hepatitis, dengue, dan bakteriologi.

Kehadiran Lembaga Eijkman, dan sejumlah institusi lain, dalam pemeriksaan sampel Covid-19 diharap bisa mempercepat penanganan pandemi. Lantas bagaimana dan hal-hal apa saja yang harus diketahui lebih jauh seputar Covid-19?

Berikut perbincangan Lokadata.id dengan Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio, di Kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Dari seluruh rantai penanganan Covid-19 di Indonesia, bagian paling lemah di mana?

Pertama, seharusnya kita lakukan pencegahan Covid-19 sejak Januari… tanpa menunggu ada kasus. Setidaknya memberi informasi ke masyarakat agar memiliki kesadaran dan bisa berpartisipasi aktif untuk melapor (rekam jejak perjalanannya).

Jadi lemah dari preventif di awal?

Mungkin dianggap yang kena sedikit, bukan merupakan hal serius, kasusnya belum ditangani dengan konsisten. Semua planning sudah ada tapi mungkin penerapannya (tidak bagus)

Soal pelacakan pasien, bagaimana kemampuan kita?

Waktu jumlah pasien masih sedikit, tracing bisa dilakukan manual. Sekarang jumlahnya sudah makin banyak. Kalau pakai cara manual nggak kekejar.

Sekarang, pendekatannya berbeda, policy-nya juga sudah berubah. Sejak kemarin informasi pasien mulai dibuka. Semula informasi tentang pasien ditutup untuk menjaga privacy. Tapi untuk keperluan pelacakan jadi sulit.

Jadi data pasien lebih baik dibuka, ya? Iya. Ini bukan penyakit aib. Siapapun bisa kena.

Dibuka identitasnya atau hanya lokasi penularan?Di negara lain juga disebutkan namanya, rumahnya di mana. Jadi orang akan tahu pernah kontak dengan yang bersangkutan atau tidak. Jadi walau belum ada gejala, orang terkait bisa melakukan karantina sendiri agar tak jadi sumber penularan ke orang lain.

Di Indonesia nama pasien masih dirahasiakan, dan tracingnya masih manual…Sekarang sudah berubah.

Sudah? Nama pasien diumumkan di mana?Di Kemenkes. Pendekatan sudah berubah.

Sebaiknya daftar pasien itu dipublikasikan di mana?Mekanismenya belum tahu persis, apakah diumumkan per daerah atau dibuka daftarnya seperti daftar pemilu. Tapi sudah disepakati, data akan dibuka untuk memudahkan tracing.

Ada anggapan Indonesia belum siap tes massal karena belum punya cukup test kit?
Beberapa lembaga punya kemampuan melakukan tes di laboratorium, hanya baru dilibatkan belakangan saja. Test kit boleh dikatakan cukup tersedia.

Berapa?
Ada puluhan ribu di Balitbangkes, dan akan didistribusikan ke lab-lab lain.

10.000?
Lebih, barangkali. Litbangkes saja tiap hari bisa lakukan 1.000 tes. Boleh dikatakan, persediaan di Litbangkes cukup besar, hanya distribusinya ke laboratorium lain masih perlu proses.

Kita mendatangkan test-kit dari mana?

Banyak yang menawarkan. Ada dari Cina, Korsel.

Biaya cek sampel menggunakan test-kit?
Gratis. Kita nggak boleh menarik pembayaran.

Harga alat untuk test kit?
Harga alatnya sekitar Rp1,5 miliar per unit. Kalau dihitung secara komersial, tiap tes biayanya sekitar Rp500.000. Reagen-nya dari CDC, WHO, macam-macam.

Idealnya berapa banyak test kit yang harus dimiliki pemerintah?
Dengan pertumbuhan kasus, kita bisa prediksi yang mau dites berapa. Untuk itu, kita harus punya rencana supply-nya.

Selama ini sampel dari daerah harus dibawa dulu ke Balitbangkes, di Jakarta?
Sampel harus diambil dengan benar, dari tempat yang benar. Setelah diambil dari isofaring, dimasukkan dalam VTM (Virus Transport Medium), yang harus dijaga dari panas. Harus dikemas sedemikian rupa agar aman. Kalau kena panas, virusnya inactive, sehingga jadi false negative.

Ada perbedaan test kit Eijkman, Balitbangkes, dan lembaga atau negara lain?
Mungkin ada, tapi kami gunakan yang direkomendasikan WHO dan CDC. Kami siapkan bahkan ada lima protokol untuk bisa saling konfirmasi.

Sekarang dianjurkan satu step pemeriksaan sampel dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk deteksi virus korona. Tapi kami ada tes lain untuk konfirmasi. Jadi kalau hasil pertama positif, kami ulangi dengan metode kedua untuk konfirmasi.

Perbedaan alat, beda cara?
Alatnya nggak beda, reagen-nya saja. Alatnya sama: quantitative PCR yang bisa menghitung jumlah virusnya. Saya dengar dari Pak Yuri (Achmad Yurianto, Jubir Penanganan Covid-19), pendekatan Kemenkes sedikit berbeda yakni menggunakan satu primary dulu, lalu diikuti dengan sequence.

Vietnam sudah kembangkan test kit yang murah dan cepat, itu bagaimana?
Harus dicermati dulu test kit yang mana? Kalau PCR, yang dites swab tenggorokan, dicari virusnya di sana. Test kit yang banyak ditawarkan sekarang itu uji cepat (rapid test), untuk mendeteksi antibodi dari darah.

Akurasinya kurang dong?
Skrining itu sensitif tapi tidak spesifik. Untuk konfirmasinya harus pakai (alat) yang spesifik.

Jadi harus dua kali tes?
Semua dua kali. Jadi pada saat yang sama diambil darahnya dan swab-nya. Hasil swab dikirim ke lab untuk PCR tapi makan waktu dua hari. Kalau kit yang murah itu, rapid test, itu hanya setengah jam. Itu diperlukan di RS untuk memutuskan pasien mau diapakan, ditaruh di ruang isolasi atau dipulangkan. Rapid test ini hanya membantu.

Apakah kita sudah punya alat rapid test ?

Oh, belum, baru mau didatangkan. Tentu proses perizinannya tidak seperti biasa. Akan ada prosedur istimewa. Setelah itu baru didistribusikan ke rumah sakit. Kita mesti pelajari juga validitas dari tes itu dari laporannya, lalu dari referensi yang dipakai.

Pertanyaannya: apa betul rapid test dapat mendeteksi antibodi dengan akurasi tinggi, yang bisa kita pakai untuk screening.

(Catatan redaksi: Wawancara dilakukan saat alat rapid test belum didatangkan pemerintah. Saat ini sejumlah alat sudah tiba di Indonesia)

Di Eijkman tes pakai test kit, ada berapa stoknya?
Kami bisa periksa 80 sampel setiap hari. Itu persediaan kami sampai beberapa minggu ke depan. Tapi nanti akan dipasok juga dari Balitbangkes.

Teknisnya, masyarakat jadi bisa langsung tes di Eijkman atau bagaimana?
Kami tidak menerima orang langsung, tapi sampelnya harus diambil di RS. Pertimbangannya, kami menghindari ada crowded. Selain itu, pasien yang minta diperiksa harusnya diskrining dulu.

Jadi mereka datang ke RS dan diperiksa dulu oleh RS. Kalau gejala dan riwayatnya sesuai, RS akan ambil sampelnya, lalu lapor ke Dinas Kesehatan. Atas arahan Dinkes, orang terkait diputuskan harus isolasi atau bagaimana. Kalau RS memutuskan tidak perlu diperiksa, maka tidak diperiksa.

Benarkah virus penyebab Covid-19 tidak tahan di suhu tropis?

Pada umumnya virus sensitif pada suhu yang agak tinggi, di atas 25 derajat, mereka inactive. Juga kalau kering, virus cepat mati. Di tangan kita saja –tangan kita ada enzimnya– virus bisa cepat mati. Tapi kalau anda jalan, pegang macem-macem, salaman sama orang, pegang gagang pintu dan segala macem, ini sudah cukup untuk menularkan kepada orang lain.

Di tempat publik seperti tiang halte, pegangan pintu, rata-rata bisa hidup berapa lama?
Tergantung permukaannya. Bisa tujuh jam, tujuh hari, atau 15 menit

Berapa lama virus korona hidup di tubuh manusia?
Bisa tetap hidup di dalam sel, terus-terusan kalau tidak keluar. Kalau tidak, ada sistem kekebalan dari tubuh kita yang bisa mengeliminasinya.

Mengapa orang yang kelihatannya sehat bisa menjadi carrier?
Virus bisa masuk ke saluran nafas, tapi bisa juga hanya diam di situ, tidak sampai masuk ke dalam sel. Dia bisa bertahan di permukaan selaput lendir, tapi tidak bertambah banyak.

Jadi kalau misalnya masuk 100, dia akan tinggal di situ bisa sampai 14 hari lebih. Nah itu masa inkubasi. Selama dia nempel, lalu orang itu batuk atau bicara, bisa terlempar, dan menular ke orang lain.

Hanya 14 hari?
Ya, 14 hari itu maksimum. Kalau tubuh kita cukup kuat, dalam 14 hari itu virus akan dieliminasi. Karena itu, pada hari ke 14, Orang Dalam Pemantauan (ODP) akan diambil sampelnya, untuk dilihat apakah virusnya masih ada.

Apakah ruang isolasi itu wajib, satu ruang satu pasien?
Sebaiknya pasien memang dipisahkan. Bisa di ruangan yang sama, tapi jaraknya dua meter. Setidaknya ada penyekat, sehingga tidak terjadi cross infection di antara mereka.

Bagaimana penjelasan pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh?
Seorang dinyatakan sembuh atau dilepaskan dari karantina setelah masa inkubasi berlalu. Dia harus dipastikan, menurut pedoman WHO, dites dua kali. Dua kali berturut-turut, berselang dua hari.

Pasien yang sudah sembuh ada kemungkinan tertular lagi?
Itu pertanyaannya: tertular lagi atau virusnya masih ada? Kemungkinan besar, tertular lagi, karena belum cukup kebal sehingga virus bisa masuk lagi. Bisa sakit lagi.

Berarti tergantung imunitas tubuh kita?
Betul. Sebenarnya yang menyembuhkan pasien itu adalah daya tahan tubuhnya.

Apakah pasien yang positif itu bisa sembuh sendiri tanpa harus dirawat di ruang isolasi?
Yang bikin sembuh bukan ruang isolasinya. Ruang isolasi untuk mencegah orang ini menulari orang lain. Paling bagus memang di ruang isolasi, tapi kalau tidak ada ruang bertekanan negatif, bisa ditempatkan di ruang tersendiri, yang pintunya harus bisa ditutup rapat.

Untuk pasien yang sudah sembuh harus istirahat berapa lama agar imunitasnya kembali?
Ketika pasien Covid-19 dinyatakan sembuh, artinya imunitasnya sudah bagus, sudah seperti orang normal.

Sejauh ini apa good practice dari penanganan Covid-19 di Indonesia?

Saat ini, tujuan utama kita berupaya mencegah pertumbuhan jumlah kasus, yang terus naik. Upaya terpenting: indentifikasi siapa saja yang membawa virus. Kedua, mencegah dia jadi sumber penyebaran. Ketiga, mengidentifikasi siapa saja yang sudah tertular agar bisa dilakukan tindakan dan tidak menjadi sumber penularan.

Eijkman sudah menawarkan bantuan tes spesimen dari awal tapi ditolak, bagaimana kisahnya?

Bukan ditolak. Saya tulis surat ke Menristek bahwa kami punya kapasitas dan pengalaman. Kami siap kalau diminta bantu. Berdasarkan pengalaman Flu Burung belasan tahun lalu, Eijkman juga diminta Kemkes dan WHO menjadi laboratorium yang mengkonfirmasi hasil-hasil pemeriksaan.

Menristek sudah menyampaikan ke Menkes, tapi Menkes masih menganggap belum perlu saat itu. Baru belakangan, setelah kasus makin banyak, Litbangkes mulai kewalahan, dan diantisipasi jumlah yang diperiksa akan semakin banyak.

Kapan mulai dikontak?
Presiden umumkan Jumat (13/3/2020) lalu. Secara resmi (dihubungi) Sabtu atau hari Minggunya, untuk undangan rapat pada Senin (16/3/2020) menyepakati mekanisme pengiriman sampel, pembagian wilayah, apa yang harus dilakukan, dan lain-lain.

Eijkman sudah mulai mengembangkan vaksin untuk Covid-19?
Amanatnya baru minggu lalu, kita masih dalam tahap konsolidasi untuk membangun konsorsium vaksin.

Rencananya melibatkan siapa saja?
Paling tidak dengan industri, misalnya Bio Farma, juga perguruan tinggi. Kita berharap ada beberapa yang bisa kontribusi.

Butuh berapa lama untuk menemukan vaksin?
Antara satu tahun sampai 18 bulan.

Tidak perlu kerja sama dengan negara lain? Amerika Serikat kabarnya sudah mulai ujicoba?

AS sudah mulai ujicoba klinis. Kerja sama itu salah satu pilihan: apakah kita mau mulai dari nol atau ambil di tengah-tengah yang sedang dikembangkan negara lain lalu kita beli lisensinya. Itu memang lebih cepat.

Sebelum Covid-19, Eijkman pernah terlibat dalam pembuatan vaksin?
Kita terlibat dalam forum vaksin nasional. Untuk vaksin hepatitis, dengue, malaria, kita ikut terlibat bersama institusi lain. ***

More Stories
Dua Hari Tak Pulang, Nenek di Samarinda Hilang di Lokasi Tambang