Pranala.co, Balikpapan – Suasana tenang Minggu pagi di Jalan Almakmur RT 31, Kelurahan Damai, buyar seketika saat kobaran api melahap rumah milik Muhammad Sodigin. Kebakaran yang terjadi pada pukul 08.50 WITA itu menghanguskan loteng lantai dua, tempat di mana keluarganya biasa berkumpul.
“Saya masih ingat jelas suara kayu yang mulai patah, meletup. Waktu itu saya hanya bisa teriak, ‘Semua keluar! Cepat!’” ungkap Sodigin, bergetar saat menceritakan kembali detik-detik mencekam yang nyaris merenggut tempat tinggalnya.
Rumah itu dihuni dua kepala keluarga, total delapan jiwa. Mereka semua berhasil menyelamatkan diri sebelum api membesar. Namun, sebagian besar barang-barang tak sempat diselamatkan.
“Baju, surat-surat, alat sekolah anak semua hangus. Kami cuma bisa ambil dompet dan satu tas kecil. Saya bahkan tak sempat pakai sandal,” ujarnya lirih.
Sodigin mengaku tak tahu pasti dari mana asal api. “Kami sedang di lantai bawah. Tiba-tiba tetangga teriak, katanya ada asap dari atas. Pas saya naik, ruangan sudah gelap karena asap. Panasnya luar biasa.”
Yang membuatnya paling terpukul bukan sekadar kerugian material, melainkan rasa kehilangan atas rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat menanam kenangan.
“Rumah ini dibangun sedikit demi sedikit. Dari kerja serabutan, nabung bertahun-tahun. Sekarang habis dalam satu jam. Tapi saya tetap bersyukur, anak istri saya masih selamat,” katanya.
Petugas gabungan dari berbagai unsur datang tak lama setelah laporan diterima. Bripda Naufalhaq Helmy A, yang memimpin penanganan di lapangan, menyebutkan bahwa pihaknya langsung melakukan evakuasi dan pemadaman saat tiba di lokasi.
“Kami bergerak cepat untuk menghindari penyebaran api. Setelah berhasil padam, kami lakukan pendinginan untuk memastikan tak ada bara tersisa,” ujar Bripda Naufalhaq singkat.
Namun bagi Sodigin, pemadaman itu hanya akhir dari babak pertama. Kini ia harus memulai lagi dari nol.
“Saya nggak tahu mau tinggal di mana malam ini. Tapi saya percaya, Allah punya rencana. Kami diberi cobaan, tapi juga diberi keselamatan.”
Kebakaran ini menjadi pengingat nyata bahwa musibah bisa datang kapan saja, bahkan saat segalanya terasa tenang. Dan di balik abu yang tersisa, seorang ayah berdiri tegar.berusaha memulai lagi, dari puing yang tersisa.


















