Kayu Bekas ‘Naik Kelas’, Angger Raup Pundi Rupiah

Penyerutan kayu bertekstur keras dari salah satu proses menghasilkan produk perabot berkualitas.

PRANALA.CO – Terik matahari siang itu menyengat. Deru suara mesin pemotong kayu tetap mengaung. Bekerja tanpa henti. Disekat papan seadanya, atap seng bekas, membuat tubuh Angger deras mengeluarkan bulir keringat.

Cuaca panas tak menghalangi Angger mengetam papan. Sesekali lelaki pemilik mebel di Jalan Pattimura, Bontang itu menyeka keringat di dahinya. Kaos sedari basah dipenuhi keringat baru saja dicopotnya.

Maklum saja. Angger dikejar waktu menyelesaikan perabot berbahan kayu pesanan pelanggan. Tumpukan kayu gelondongan sebagian sudah digergaji menjadi bilah kayu yang siap dijadikan berbagai produk diinginkan.

Angger berujar, usaha mebel yang dirintisnya ini bermula dari gagasan untuk mengolah potongan-potongan kayu bekas dari usaha jasa angkutnya. Di samping juga membuka kios kecil berjualan jajanan ringan. Ia sudah membuktikan, kreatifitas dan daya olah mampu menghasilkan pundi rupiah.

Bermodal semangat, ketekunan dan keuletan perlahan usahanya berjalan. Merangkul orang terdekat ikut berpartisipasi mengembangkannya. Berbagai pesanan perabot akhirnya berdatangan usai berkolaborasi dan mengoptimalkan peran salah satu platform media sosial untuk berpromosi.

Sejalan dengan usahanya. Tren penggunaan palet sebagai bahan baku pembuatan perabot rumahan juga ikut menopang. Namun, jika tidak berhati-hati mengolah palet, bisa merusak mesin peralatan.

“Kalau tidak teliti bekas paku berkarat yang masih ada di kayu palet bisa ngerusak mesin serut. Susah juga dapetinnya buat cukupi kebutuhan,” ucapnya.

Di samping itu, menggunakan kayu palet juga dibutuhkan ketelatenan mengolahnya diawal sebelum dijadikan bahan baku. Memastikan tidak ada paku yang masih menancap di kayu menjadi poin utama. Belum lagi, merapikan bekas lubang-lubang paku.

Sejatinya mesin yang digunakan di tiap mebel memang untuk kayu. Dibuat bukan untuk berhadapan dengan bahan-bahan bersifat keras. Meski mau tak mau juga harus bertemu dengan kayu bertekstur keras seperti ulin dan bengkirai. Terlebih untuk mesin serut yang sering cepat mengalami penumpulan ketajaman mata pisaunya.

Para pengrajin juga berpacu waktu untuk melayani pesanan konsumen. Sehingga memakai bahan kayu berukuran besar dan berkualitas yang siap diolah, menjadi pilihan terbaik. Itupun juga disesuaikan dengan pesanan yang diinginkan konsumen.

Apalagi jika produk perabot diminta tidak ada sambungan kayu. Pastinya bahan baku yang dibutuhkan juga tidak bisa menggabungkan dari potongan-potongan kayu. Belum lagi masuk proses serut yang bisa mengurangi ketebalan kayu.

Konsumen biasanya menginginkan produk dengan harga terjangkau tetapi tidak mempertimbangkan kualitas dari jenis kayu yang digunakan dan proses produksinya. Setiap pengrajin perabot kayu pun punya trik dan anggapan berbeda menyikapinya.

 

[WIN]

More Stories
Lima Kab/Kota di Kaltim Masih Terapkan PPKM Level 4