Ini Satu-Satunya Tempat yang Belum Terdampak Covid-19

Ilustrasi pendakian gunung es. (Pixel)

SAAT ini, hampir seluruh negara di dunia menghadapi pandemi virus corona, Covid-19. Sejumlah negara, seperti Italia dn India, bahkan melakukan lockdown alias menutup wilayah mereka.

Namun, ada satu wilayah di Bumi ini yang tetap aman dan sama sekali belum memiliki kasus virus corona. Wilayah tersebut adalah Antartika.

Antartika merupakan benua terdingin di dunia, yang hampir 99 persen wilayahnya diselimuti es dan terletak di sebelah selatan Bumi, atau kutub selatan. Ketebalan es di sana mencapai satu kilometer.

“Saat ini, Antartika merupakan wilayah teraman dari wabah corona,” ungkap Alberto Della Rovere, pemimpin ekspedisi ke Antartika.

Wilayah Antartika tidak memiliki penduduk asli. Di sebuah lingkaran Arktik, terdapat puluhan ribu keluarga yang tinggal di sana untuk keperluan penelitian. Wilayah tersebut juga menjadi rumah bagi ribuan flora dan fauna.

Antartika adalah benua tanpa negara dan tanpa pemerintahan. Namun, beberapa negara mengklaim memiliki kedaulatan pada beberapa wilayah atau bagian di Antartika.

Atas klaim tersebut, akhirnya dibentuk Antartic Treaty System, dimana 49 negara telah menandatangani perjanjian dan memiliki hak untuk menggunakan daerah tersebut hanya untuk tujuan penelitian ilmiah.

Orang-orang yang ditempatkan di Antartika mungkin tidak akan tertular virus. Namun akan berisiko besar jika ada yang tertular di Antartika.

Sebenarnya sebagian besar pangkalan riset di Antartika bisa menangani satu kasus infeksi pernafasan yang serius. Namun, jika terjadi penyebaran virus corona, mereka akan lebih kesulitan

“Tidak ada benua yang kebal, dan terjamin bebas dari virus corona, termasuk Antartika,” ungkap Jeff Ayton, kepala medis di Divisi Antartika Australia.

Saat ini terdapat 28 negara yang memiliki stasiun riset di Antartika. Yang terbesar adalah McMurdo Station, pangkalan penelitian AS di tepi Rak Es Ross. Stasiun riset tersebut dapat dihuni oleh lebih dari 1.000 orang.

Sebagian besar peneliti akan menetap selama satu atau dua musim untuk melakukan atau mendukung penelitian ilmiah di Antartika. Saat musim panas di Antartika (Oktober – Februari), banyak peneliti melakukan riset di sana.

Di musim dingin, saat suhu menurun, banyak stasiun riset tutup. Akibatnya perjalanan keluar-masuk menjadi sangat sulit, sehingga risiko seseorang membawa virus lebih rendah.

Sebagian besar stasiun riset memiliki setidaknya satu dokter selama musim dingin. Ketika virus corona menyebar di seluruh dunia, para peneliti di Antartika meningkatkan penggunaan hand sanitizer untuk mencegah penyebarannya.  

Saat ini, prioritas yang dilakukan oleh tenaga medis adalah menjaga agar tidak ada kasus pertama corona yang muncul di wilayah Antartika.

Petugas medis di Antartika merasa khawatir jika virus corona menyebar. Jauhnya jarak yang ditempuh akan mempersulit proses penyembuhan dan isolasi.

“Jika seseorang terinfeksi di lokasi terpencil dengan fasilitas medis yang minim, maka dokter akan lebih kewalahan,” kata Ayton.

“Kami juga tidak memiliki perawat tambahan atau profesional yang terlatih”tambahnya.

Ketika ada kedatangan dari negara yang angka penyebaran Corona tinggi (seperti Amerika Serikat, Prancis, Italia dll), prosedur isolasi akan dijalankan lebih ketat. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona di Antartika. ***






Sumber: Dream.co

More Stories
Kepergok Mau Curi Celana Dalam, Pria di Samarinda Diamuk Massa