IDI: TBC Jauh Lebih Mematikan Ketimbang Virus Corona

VIRUS corona memiliki tingkat kematian yang rendah sekitar 3-4 persen saja. Dibandingkan dengan penyakit menular lain seperti tuberculosis (TBC), corona tidak memiliki daya bunuh yang tinggi.

Tuberkulosis merupakan pembunuh menular yang paling mematikan di dunia. Data WHO menunjukkan setiap hari lebih dari 4.000 orang kehilangan nyawa dan 30 ribu orang jatuh sakit karena TB. WHO mencatat selama 2018 terdapat 10 juta insiden TB di seluruh dunia.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi TB mencapai 0,42 persen. Angka ini terdistribusi pada semua kelompok umur dan masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan.

Global TB Report 2019 mencatat, insiden TB di Indonesia sebanyak 845 ribu kasus, nomor dua tertinggi di dunia setelah India sebanyak 2,69 juta kasus.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan, kasus TBC di Indonesia juga tergolong tinggi. Dengan tingkat daya bunuh penyakit tersebut yang tinggi jika dibandingkan corona.

“Ya iyalah (lebih bahaya TBC), kita nomor 2 atau 3 di dunia (TBC). Dan daya bunuhnya gede TBC. Artinya jangan hanya terfokus dengan corona habis energi karena corona saja tapi penyakit lain terabaikan,” ujar Daeng di kantor IDI, Menteng, Jakarta, belum lama ini.

Daeng mengatakan, kasus kematian pasien terjangkit corona tidak semata karena virus tersebut. Melainkan, karena penyakit bawaan. Mayoritas atau hampir semua karena kasus penyakit penyerta pasien sudah punya sakit diabetes, gagal ginjal. “Nah keinfeksi virus tambah drop dia tambah sakit,” ujarnya.

Menurutnya, tak ada kasus kematian karena disebabkan murni oleh virus Corona. Angka 3 persen kematian itu karena pengidap memiliki daya tahan tubuh yang rendah. “Yang 3 persen itu yang daya tahan tubuh rendah banget,” ucap Daeng.

Perbedaan TBC dan Corona

Tuberkulosis (TBC) sering disamakan oleh masyarakat dengan infeksi virus corona alias Covid-19. Hal ini didasari oleh kedua penyakit yang sama-sama menyerang organ pernapasan. Selain itu, cara mengetes pun juga sama-sama melalui swab tenggorok lantaran penularannya mirip.

Meski demikian, TBC dan Covid-19 sebenarnya sangat berbeda. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu menyampaikan beberapa perbedaan antara TBC dan Covid-19 saat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh pada 24 Maret 2020 lalu.

Dari segi kejadian penyakit, TBC tentu sudah terjadi puluhan tahun lamanya. Sedangkan penyakit Covid-19 sendiri baru muncul pada akhir bulan Desember 2019. “Ini juga memengaruhi jumlah pasien, dimana pasien baru TB di dunia setiap tahunnya mencapai 10 juta. Sedangkan corona sampai saat ini 381 ribu orang,” kata Wiendra dalam telekonferensi di Jakarta pada Selasa, 24 Maret 2020.

Masuknya bakteri ke dalam tubuh juga berbeda. Wienda menjelaskan bahwa virus corona akan masuk ke tubuh lewat kotak pada permukaan terutama mata, hidung dan mulut. Sedangkan pasien TBC umumnya tertular hanya lewat saluran pernafasan saja. Itu sebabnya pasien TBC harus mengurangi aktivitas di luar ruangan karena berisiko menularkan lewat udara.

TBC juga wajib patuh minum obat. Apabila pengobatan terputus, maka mereka rentan mengalami resistensi obat sehingga bakteri menjadi jauh lebih susah dimatikan karena kebal dengan pengobatan. “Kalau corona, asalnya imunitas tubuh baik saja bisa sembuh sendiri atau disebut juga dengan self limiting disease.

Dengan penjelasan tersebut, Wiendra pun berharap agar TBC mendapatkan perawatan yang baik. Sebab masalah kesehatan ini sebenarnya memiliki risiko yang lebih besar daripada corona. “Walaupun saat ini kita sedang banyak menangani corona, tapi TBC pun tetap harus menjadi perhatian. Karena ini adalah penyakit yang jauh lebih serius,” katanya. (id)

More Stories
New Normal Salat Berjemaah di Masjid Bontang; Tidak Bawa Anak di Bawah 12 Tahun hingga Siapkan Daftar Hadir