MENDAPATKAN satu tabung LPG 3 kg di Kota Bontang saat ini ternyata tidak lagi sesederhana dulu. Cerita tentang datang ke warung, bayar, lalu pulang membawa tabung hijau itu kini berubah menjadi perjuangan berburu relasi.
Di tengah pasokan yang kerap tersendat, warga kini harus memutar otak. Mereka bahkan wajib memiliki “koneksi” atau jalur khusus dengan pengecer agar tidak kehabisan stok gas subsidi tersebut.
Bagi Andi (37), warga Kelurahan Gunung Telihan, situasi pelik ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Menurutnya, saat distribusi normal, gas melon memang masih mudah ditemui di warung-warung kecil.
Namun, begitu pasokan dari agen mulai terganggu, hukum pasar yang kejam langsung berlaku.
“Kalau lagi susah, kita harus kenal atau sudah langganan baru bisa dapat. Biasanya saya telepon dulu, pesan supaya disimpan. Kalau tidak begitu, ya pasti tidak kebagian,” ungkap Andi dengan nada pasrah, Selasa (9/6/2026).
Fenomena ini perlahan mengubah LPG 3 kg di Bontang layaknya barang mewah yang diperebutkan. Rumusnya kini menjadi sangat sederhana namun menyakitkan: siapa cepat dia dapat, dan siapa yang punya akses lebih dulu, dialah yang beruntung.
Dampak kelangkaan ini ternyata tidak hanya memicu adu cepat, tetapi juga memeras kantong warga lebih dalam. Wahyu (45), warga Kelurahan Tanjung Laut, blak-blakan mengaku terpaksa merogoh kocek berkali-kali lipat demi memastikan dapurnya tetap mengepul.
Di tingkat pangkalan resmi, harga tabung hijau ini sebenarnya masih masuk akal di angka Rp 28.000. Namun, cerita di lapangan jauh berbeda saat barang sudah bergeser ke pengecer.
“Kalau di warung waktu normal itu Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Tapi kalau sudah susah begini, harganya mendadak naik gila-gilaan sampai Rp 40 ribu,” keluh Wahyu.
Mau tidak mau, harga tinggi itu tetap ia tebus. Baginya, tidak ada pilihan lain daripada rumah tangga berantakan karena tidak bisa memasak.
Jika bagi rumah tangga kelangkaan ini adalah beban, maka bagi pelaku usaha kecil, kondisi ini adalah ancaman langsung terhadap isi piring mereka. Ningsih (47), seorang pedagang bakso keliling, adalah salah satu yang paling merasakan hantaman tersebut.
Sudah sepekan terakhir, langkah kakinya kerap gontai karena kesulitan mendapatkan gas. Demi menyambung hidup dan menjaga roda usahanya tetap berputar, Ningsih kini terpaksa menimbun hingga tiga tabung sekaligus sebagai cadangan.
“Sekarang memang susah sekali. Jadi saya stok tiga tabung, itu pun harus pesan dulu jauh-jauh hari di toko langganan. Kalau langsung datang tanpa pesan, pasti zonk,” tuturnya lirih.
Bagi Ningsih, tabung gas itu bukan sekadar alat masak, melainkan urat nadi penghasilannya. Ketika pasokan tersumbat, mata pencariannya otomatis mati total.
Sambil menerawang, ia mengenang momen paling pahit yang pernah ia alami akibat kelangkaan energi bersubsidi ini. Yaitu saat dirinya harus kehilangan potensi untung besar di hari kemenangan.
“Pernah waktu hari raya, stok gas habis total. Mau tidak mau, kami terpaksa libur jualan. Padahal itu waktu paling ramai pembeli,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, jeritan dari bawah begitu nyaring terdengar. Masyarakat kecil seperti Andi, Wahyu, dan Ningsih hanya bisa menggantungkan harapan pada ketegasan pemerintah daerah dan pihak terkait.
Mereka mendesak agar sistem tata niaga dan distribusi LPG 3 kg di Bontang segera dibenahi total. Warga ingin penyaluran gas melon dilakukan secara merata dan transparan, bukan berdasarkan kedekatan personal atau sistem “orang dalam” dengan para pengecer.
“Semoga ke depan penyalurannya lebih baik dan adil. Jangan biarkan kami rakyat kecil ini harus selalu mengemis dan berburu hanya untuk tabung gas,” harap Ningsih. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















