Film “Night in Paradise”, Mafia yang Berusaha jadi Sadis dan Melankolis

  • Whatsapp
Cuplikan adegan dari film Night in Paradise.

USAI melangsungan aksi balas dendam yang nekad pada seorang pimpinan gangster, Tae Goo melarikan diri ke Pulau Jeju. Di sana Ia bertemu dengan seorang perempuan berkepribadian dingin serta tak memiliki semangat hidup lagi. Sama-sama berada di lingkup geng mafia, keduanya terjebak dalam sebuah lingkaran balas dendam yang tak berujung.

“Night in Paradise” merupakan film Korea dengan tema mafia yang penuh dengan aksi dan kekerasan. Seperti film Korea pada umumnya, film ini juga diberi sentuhan drama kehidupan yang depresif dan kelam. Ada trauma masa lalu yang akhirnya menciptakan pesimisme dalam kehidupan protagonisnya. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Park Hoon Jung, kemudian dibintangi oleh Uhm Tae Goo dan Jeon Yeo Been.

Bacaan Lainnya

Balas Dendam di Lingkaran Mafia yang Tidak Berkesudahan

Secara keseluruhan, “Night in Paradise” hanya menyuguhkan kisah tentang balas dendam yang sudah menjadi ciri khas untuk banyak film mafia. Masalah besar yang timbul diakibatkan oleh sebuah balas dendam dari protagonis, Tae Goo.

Kemudian balas dendam berlanjut dimana Tae Goo berubah menjadi target dari kelompok mafia. Jae Yeon, sebagai kenalan baru Tae Goo di Pulau Jeju, juga tak lepas dari trauma akan aksi balas dendam yang di lakukan oleh sekelompok mafia pada keluarganya.

Durasi film selama dua jam, plot didominasi dengan objektif untuk mengejar Tae Goo yang sangat pasif. Film Korea seringkali memiliki durasi yang panjang, namun “Night in Paradise” memiliki plot yang terasa diulur-ulur. Akan ada banyak adegan yang membuat kita cukup bosan.

Hal tersebut karena durasi yang panjang hanya diisi dengan adegan pembataian yang asal sadis dan brutal. Namun, dunia mafia yang dihadirkan dalam kisah ini tidak memiliki latar belakang apapun. Kita hanya akan melihat sekelompok pria berjas dengan pimpinan mafia yang kejam.

Tak ketinggalan juga mafia-mafia pengecut yang licik dan mau melakukan apapun untuk tetap bertahan hidup. Tidak ada plot atau objek spesial yang memberikan statemen dalam film mafia ini secara keseluruhan.

Dua Karakter Utama dengan Interaksi Instan dan Plot Armor Berlebihan

Tae Goo dan Jae Yeon merupakan dua karakter utama dalam kisah ini. Keduanya juga diperlihatkan memiliki beberapa kesamaan, dimana mereka sama-sama memiliki luka batin karena kehilangan orang-orang yang disayangi. Hal ini menimbulkan sebuah pandangan nihilisme secara implisit, lahir dari interaksi kedua karakter ini.

Sepertinya Park Hoon Jong hendak menciptakan karakter yang depresif dan tak takut dengan kematian yang menghantui mereka setiap saat. Konsep bahwa dunia adalah tempat yang kejam, bahwa mereka hidup dalam lingkaran kekejaman mafia tanpa harapan hidup yang lebih baik. Balas dendam sekalipun tak ada artinya.

Sayangnya, Tae Goo maupun Jae Yeon dihadirkansebagai karakter depresif secara instan. Kita tidak diberi kesempatan memahami bagaimana perasaan Tae Goo dan Jae Yeon sebelum nasib buruk menimpah mereka. Bagaimana sebuah tragedi bisa mengubah perspektif mereka akan kehidupan.

Untuk dua karakter yang rela mati, keduanya dibekali dengan plot armor yang tidak masuk akal sepanjang film. Betapa handalnya mereka dalam setiap pertarungan tidak berhasil menyakinkan secara natural. Kedua karakter ini juga memiliki perkembangan hubungan yang instan untuk peduli satu sama lain.

Berusaha Menjadi Film yang Sadis Sekaligus Melankolis

“Night in Paradise” bisa dikategorikan sebagai film yang sadis dan brutal. Ada banyak adegan baku tembak dan pertarungan dengan darah dan lebam yang bikin ngilu penonton. Namun sebagaian besar adegan baku tembak atau aksi pengejaran tidak memiliki arahan yang rapi. Adegan baku tembak yang ramai hanya asal brutal dan penuh dengan cipratan darah.

Aksi kejar-kejaran juga tampak sangat mendukung protagonis, menjadi adegan yang tidak masuk akal. Hingga memasuki babak terakhir, kita akan dibuat lelah dengan berbagai adegan sadis yang membabi buta dalam film ini.

Tampak usaha dari penulis naskah untuk membungkus kebrutalan dalam kisah ini dengan sentuhan drama. Bagaimana kesedihan yang terlalu mendalam bisa terlahir kembali menjadi sebuah hasrat untuk balas dendam. Aspek ini hendak diselipkan untuk menyetuh hati penonton, jurus yang sepertinya selalu menjadi andalan industri film Korea, apapun genrenya.

Sayangnya “Night in Paradise” tidak berhasil menimbulkan rasa simpati atas kemalangan dan pesimisme yang dialami oleh Tae Goo maupun Jae Yeon. **

Pos terkait