Pranala.co, BONTANG — Program Makan Siang Bergizi (MBG) Pemerintah Kota Bontang kembali mendapat sorotan. Sejumlah persoalan muncul, mulai dari distribusi makanan yang tidak merata hingga pengelolaan wadah yang dinilai kurang higienis.
Kepala Sekolah Galilea, Bontang Barat, Siska Tumanan, menyampaikan ada 17 siswanya yang tidak mendapat jatah makan, Rabu (24/9/2025) pagi. Penyebabnya, ompreng yang dibagikan kosong.
“Ini tentu merugikan anak-anak, karena tujuan program adalah memastikan semua siswa mendapat gizi seimbang,” ujarnya.
Siska juga menyoroti ompreng yang dibiarkan berhari-hari. Ada yang baru diambil pada Senin, padahal makanan sudah membusuk sejak Jumat.
“Bau menyengat dan bisa mengganggu kesehatan anak-anak. Kebersihan harus jadi perhatian,” tambahnya.
Catatan lain datang dari Kepala SDN 012 Bontang Selatan, Eka Wahyuni. Ia menyinggung soal kualitas menu. Menurutnya, pada 10 September sempat ada olahan kecambah berlendir, lalu 15 September acar yang disajikan juga bermasalah.
“Hal ini membuat orang tua murid khawatir. Kami menenangkan dengan memastikan ada perbaikan, tapi kejadian seperti ini tidak boleh terulang,” jelas Eka.
Ia juga menyebut masih ada menu cepat saji, seperti sosis dan mie instan. Padahal, sebelumnya sudah ada imbauan agar fast food dibatasi di sekolah.
Masalah-masalah tersebut mencuat dalam rapat evaluasi Program MBG yang digelar di Pendopo Wali Kota Bontang, Kamis (24/9/2025). Rapat dipimpin Wakil Wali Kota Agus Haris sebagai tindak lanjut kunjungannya ke lima dapur mitra sehari sebelumnya.
Meski banyak catatan, para kepala sekolah tetap menilai program MBG bermanfaat. Makan siang gratis membantu anak-anak mendapat gizi lebih baik sekaligus meringankan beban orang tua.
Mereka berharap evaluasi ini benar-benar menghasilkan perbaikan.
“Yang paling penting, makanan harus higienis, bergizi, dan sesuai kebutuhan tumbuh kembang siswa,” tutup Eka. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















